King's Regrets

King's Regrets
Eps 50



Setelah menempuh perjalanan yang jauh, Xia Lian An dan Xiao Wei tidur cukup nyenyak di dalam kamar di istana timu


Sore harinya, Xiao Wei bangun terlebih dulu. Melihat jika Xia Lian An masih terlelap, Xiao Wei segera pergi untuk mandi. Karena jika Xia Lian An telah bangun, Xiao Wei harus membantunya.


Beberapa saat setelah Xiao Wei meninggalkan kamar, Xia Lian An berguling dan tangannya menyentuh sebuah benda yang empuk dan hangat. Merasa tubuhnya tidak bergoyang, Xia Lian An mengerjapkan kedua matanya.


Xia Lian An langsung terperanjat saat melihat tubuhnya berada di sebuah ruangan, dan dia kini ada di atas tempat tidur yang begitu nyaman.


"Ini, saat ini aku ada dimana? Apa aku di bunuh seseorang lalu sekarang aku di dunia lain?" Gumam Xia Lian An.


Dengan ragu Xia Lian An melihat kesana kemari, dia mencari Xiao Wei.


"Aku benar-benar sudah masuk ke dunia lain?" Gumamnya lagi setelah di tidak melihat Xiao Wei didalam ruangan itu.


Kraaakk


Bunyi seseorang membuka pintu membuat Xia Lian An terkejut.


"Nona, nona sudah bangun?" Ucap seseorang yang baru masuk.


"Xiao Wei?"


Xiao Wei berjalan mendekati Xia Lian An "Iya, ini saya nona."


"Sekarang kita ada dimana?"


"Kita ada di istana kerajaan negara Ming."


"Kita sudah sampai? Sejak kapan kita sampai disini Xiao Wei?" Tanya Xia Lian An dengan terkejut.


"Siang tadi nona, saat kita sampai nona masih tidur. Saya tidak tega membangunkan nona yang terlihat sangat kelelahan."


"Lalu, siapa yang membawa ku kesini?"


"Itu... Yang mulia putra mahkota, nona."


Kedua mata Xia Lian An membulat mendengar perkataan Xiao Wei. Dia tidak menyangka jika ketika dia sampai di istana, dia masih tertidur, di tambah yang membawanya ke dalam kamar adalah putra mahkota Zhang.


"Xiao Wei, kenapa kau tidak membangunkan ku? Kenapa kau membiarkan tuan Jiang membawaku dari dalam kereta kesini?"


"Maafkan saya nona, saya pikir nona dan yang mulia putra mahkota sangat dekat, jadi..."


"Xiao Wei!"


"Maafkan saya nona."


Xia Lian An menutupi semua tubuhnya dengan selimut, dia tidak tahu lagi harus bagaimana jika nanti bertemu dengan putra mahkota Zhang. Benar-benar sangat memalukan.


"Para pejabat istana juga pasti melihat saat tuan Jiang menggendong ku." Ucap Xia Lian An dari dalam selimut.


"Sebenarnya, bukan hanya mereka saja nona. Tapi... Yang mulia kaisar dan yang mulia ratu negara Ming juga melihat sewaktu anda di gendong oleh yang mulia putra mahkota kesini."


Xia Lian An membuka selimut yang menutupi tubuhnya dan menatap Xiao Wei.


"Kau bilang, yang mulia kaisar dan yang mulia ratu juga melihatnya?"


Xiao Wei mengangguk "Benar nona."


Xia Lian An membaringkan dirinya di atas tempat tidur dengan lemas. Dia tidak tahu lagi harus berbuat apa, benar-benar rasanya ingin sekali saat ini dia menghilang dan kembali ke kota Yu.


Tok tok tok


"Nona, air hangat yang anda inginkan sudah siap." Ucap seorang pelayan dari depan kamar Xia Lian An.


"Baik, terima kasih." Ucap Xiao Wei dari dalam kamar.


"Nona, saya sudah meminta pelayan istana untuk menyiapkan air hangat untuk nona mandi, dan itu sudah siap. Lebih baik sekarang nona mandi terlebih dahulu." Ucap Xiao Wei pada Xia Lian An.


Xia Lian An yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa hanya mengangguk, lebih baik sekarang mandi untuk menyegarkan tubuhnya.


Xiao Wei membantu nona nya mandi, dia membantu menggosok tangan dan punggung Xia Lian An.


Selesai mandi, Xiao Wei juga membantu Xia Lian An berpakaian dan menyisir rambut.


"Saya merindukan saat seperti ini, nona. Membantu anda mandi, berganti pakaian dan membantu anda menata rambut. Rasanya sudah lama saya baru melakukannya lagi."


"Aku bukan lagi anak seorang perdana menteri, dan aku juga bukan lagi seorang permaisuri. Jadi aku tidak perlu di layani seperti itu, Xiao Wei."


"Tapi meski anda bukan lagi seorang permaisuri atau anak dari perdana menteri, saya bersedia melakukannya."


"Di rumah, hanya ada kamu dan Xiao Fen. Jika kau membantuku seperti itu, maka sudah di pastikan pekerjaan yang lainnya tidak akan pernah selesai, Xiao Wei."


"Nona benar."


Xiao Wei memasangkan jepit rambut terakhir pada rambut Xia Lian An.


"Baik, sudah selesai nona."


Xia Lian An melihat tampilan wajahnya di cermin "Kau selalu membuatku puas, ini sangat cantik."


"Terima kasih nona."


Tok tok tok


Xiao Wei bergegas untuk membukakan pintu.


"Nona, kami membawakan sup gingseng atas perintah yang mulia putra mahkota." Ucap salah seorang pelayan pada Xiao Wei.


"Baik, terima kasih." Xiao Wei menerima nampan yang berisi dua mangkuk sup gingseng dan satu piring cemilan.


Setelah itu kedua pelayan istana pergi meninggalkan kamar Xia Lian An. Xiao Wei membawa masuk dua sup gingseng dan satu piring cemilan itu, lalu meletakannya diatas meja.


"Nona, minumlah dulu sup gingseng ini agar tubuh nona sedikit lebih segar dan bertenaga lagi." Ucap Xiao Wei.


Xia Lian An berdiri dan berjalan ke arah Xiao Wei, Xia Lian An melihat dua sup gingseng itu.


"Nona benar, yang mulia putra mahkota memang sangat murah hati dan baik."


Uhuk


Uhuk


Xia Lian An tersedak ketika tahu jika sup gingseng itu dari putra mahkota Zhang, dia mengira jika sup gingseng itu dari kaisar negara Ming.


"Nona, nona tidak apa-apa?" Xiao Wei menepuk-nepuk punggung Xia Lian An agar tidak batuk-batuk lagi karena tersedak.


"Aku tidak apa-apa. Sudah, sudah."


"Maafkan saya, sudah membuat nona terkejut sampai tersedak seperti itu."


"Itu bukan kesalahanmu, aku yang tidak hati-hati dan tersedak sendiri."


Xia Lian An melihat sup gingseng nya yang tinggal setengah mangkuk itu. Dia tidak tahu apa yang putra mahkota Zhang itu pikirkan, sehingga mau memberikan gingseng yang begitu berharga padanya.


"Xiao Wei, minumlah sup gingseng yang ada di mangkuk satu lagi. Kau juga pasti sangat lelah, dan memerlukan sup gingseng ini untuk memulihkan tenaga mu."


"Tapi nona..."


"Minum, aku tidak bisa minum dua mangkuk sup. Itu bisa membuat perutku kekenyangan,dan juga tidak baik terlalu banyak meminum sup gingseng yang bersifat panas bagi tubuh."


"Kalau begitu baiklah nona."


Xiao Wei mengambil sup gingseng yang ada di mangkuk lain lalu meminumnya hingga habis.


Xia Lian An tersenyum melihat Xiao Wei meminum sup gingseng itu, karena itu sangat baik untuk pemulihan tenaganya yang terkuras selama perjalanan jauh.


"Apa kau menyukai sup itu, nona Xia?" Ucap seseorang.


Xia Lian An dan Xiao Wei menoleh dan melihat kedatangan putra mahkota Zhang.


"Salam kepada yang mulia putra mahkota." Ucap Xia Lian An sambil memberi hormat.


"Berdirilah, aku sudah mengatakan padamu untuk tidak melakukan hal semacam ini padaku. Kau benar-benar tidak mendengarkan ku, nona Xia."


"Tapi yang mulia...."


"Haruskah aku memanggil mu permaisuri ku, agar kau tidak memanggil ku dengan sebutan itu?"


Xia Lian An terkejut dan beberapa kali menggelengkan kepalanya "Tidak, tidak. Bukan begitu maksud saya."


Putra mahkota Zhang berjalan mendekati Xia Lian An lalu tanpa di duga, putra mahkota Zhang memeluk tubuh Xia Lian An di depan Xiao Wei dan pengawal pribadinya.


"Aku sangat merindukanmu. Kau kejam sekali tidak mengirimkan surat padaku setelah aku kembali dari kota Yu."


Xia Lian An terdiam, dia tidak tahu harus mengatakan apa dan harus berbuat apa pada putra mahkota Zhang yang sedang memeluknya. Sedangkan Xiao Wei dan pengawal pribadi putra mahkota Zhang terkejut melihat tindakan cepat dari putra mahkota Zhang pada Xia Lian An.


"Kau.... Apa kau tidak merindukan aku?" Tanya putra mahkota Zhang yang masih memeluk tubuh Xia Lian An.


Xia Lian An menelan ludahnya sendiri saat melihat ke arah pintu kamar, dia lalu menepuk punggung putra mahkota Zhang beberapa kali.


"Ya.. Yang mulia.."


"Sudah ku katakan, jangan memanggil ku dengan sebutan itu."


"Tapi.. Yang mulia kaisar dan yang mulia ratu ada disini." Ucap Xia Lian An pelan.


Mendengar itu, putra mahkota Zhang langsung melepaskan pelukannya pada Xia Lian An dan berbalik.


Putra mahkota Zhang terkejut melihat kedua orang tuanya sudah ada di depan pintu kamar istana timur, dan melihatnya memeluk Xia Lian An.


"A... Ayah kaisar, ibu ratu." Ucap putra mahkota Zhang.


Kaisar dan ratu masuk kedalam kamar Xia Lian An.


"Salam kepada yang mulia kaisar dan yang mulia ratu. Semoga yang mulia panjang umur dan selalu sejahtera." Ucap Xia Lian An seraya memberi hormat kepada kedua pemimpin kerajaan negara Ming itu.


Ratu menganggukan kepalanya, dia tersenyum melihat kejadian yang baru saja dia lihat.


"Ehem, Jiang'er. Kau mengatakan kepada ayah, jika kau mengundang seseorang yang istimewa di acara ulang tahun mu kali ini. Apakah orang itu adalah nona Xia ini?" Ucap sang kaisar.


"Benar ayah kaisar, nona Xia adalah tamu istimewa saya."


Ratu berjalan mendekati Xia Lian An, sementara Xia Lian An hanya diam.


"Kau wanita yang cantik, dan pintar. Jiang'er kami memang tidak salah memilih seorang wanita."


"Ampuni hamba yang mulia, hamba tidak pantas mendapatkan pujian yang begitu tinggi dari yang mulia ratu." Ucap Xia Lian An sambil membungkukan badannya.


"Aku tahu nona Xia sudah mengalami kesulit saat menjadi permaisuri negara Qin dulu, tapi bukankah itu sudah berlalu? Kau sekarang adalah wanita yang bekerja keras demi kehidupanmu sendiri. Dan nona Xia telah membuatku dan yang mulia kaisar begitu kagum dan menyukaimu."


"Terima kasih atas pujian yang mulia."


"Sudah, sudah. Karena Jiang'er berkata jika nona Xia adalah tamu istimewanya, kami ingin mengajak nona Xia untuk makan bersama dengan kami di istana" Ucap sang kaisar.


Xia Lian Na terkejut atas undangan dari kaisar negara Ming kepadanya.


"Ampuni hamba yang mulia, hamba tidak pantas duduk dan makan bersama dengan yang mulia." Xia Lian An kembali membungkukan badannya.


"Jiang'er telah memilihmu, tapi kami akan menghargai semua keputusanmu seperti yang akan Jiang'er lakukan. Jadi makan malam ini, anggap sebagai makan malam untuk menyambut mu."


Xia Lian An menatap putra mahkota Zhang, dan di angguki oleh putra mahkota Zhang pada Xia Lian An.


"Baik yang mulia, hamba bersedia."


"Itu bagus."


Ratu terlihat sangat bahagia karena Xia Lian An setuju untuk makan malam bersama dengan mereka. Ratu lalu menggandeng tangan Xia Lian An, dan berjalan keluar menuju istana kerajaan.