King's Regrets

King's Regrets
Eps 79



Xia Lian An duduk termenung di dalam kamar istana timur sendirian, dengan bahunya yang masih di balut dengan kain.


Malam ini Xia Lian An mengingat apa yang Xiao Wei katakan padanya dan Min'er siang tadi. Karena rasanya dia ingin sekali memberikan hukuman yang lebih barat pada kaisar Shun, tapi sekarang permaisuri Rui sedang mengandung seorang pangeran. Dan itu akan membuatnya kesulitan jika Xia Lian An melakukan yang lebih pada kaisar Shun.


"Dia benar-benar kaisar yang kejam, dan sayangnya aku tidak bisa membuatnya lebih menderita lagi selain membuat tangannya cacat seperti saat ini." Gumam Xia Lian An.


Xia Lian An membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, dia ingin melupakan itu dan memikirkan bagaimana akan membalas perbuatan Ruan Yi padanya nanti.


Malam semakin larut, dan perlahan kedua mata Xia Lian An terpejam hingga dia menyelami dunia mimpinya.


***


Keesokan harinya, tanpa di duga istana timur kedatangan tamu yang tidak pernah di bayangkan sebelumnya.


Xia Lian An yang duduk di atas tempat tidur menatap satu keluarga Ruan yang datang berkunjung untuk melihat keadaan dirinya.


"Seorang tersangka, tentu akan datang agar tidak di curigai. Walaupun membuat orang bertanya-tanya tujuan mereka sebenarnya kesini." (miring)


"Bagaimana keadaan nona Xia, aku dengar anda terkena panah oleh seseorang yang ingin membunuh anda?" Ucap ibu Ruan Yi.


Xia Lian An tersenyum "Aku sudah tidak apa-apa, panggil saja aku Lian An. Bukankah setelah aku menjadi permaisuri, kita akan menjadi satu keluarga?"


Ruan Yi memasang wajah kesalnya mendengar ucapan Xia Lian An, yang sengaja memancing emosinya.


Putra mahkota Zhang yang juga berada disana hanya diam, melihat calon permaisurinya membuat keluarga Ruan kesal.


"Ah, I.... Iya, kau benar." Ucap ibu Ruan Yi dengan senyum yang di paksakan.


"Usia Ruan Yi dan kamu tidak jauh berbeda, dan seperti yang sudah kau tau, jika Ruan Yi sudah lama menyukai putra mahkota Zhang, Bagaimana kalau...." Ucap ayah Ruan Yi


"Maafkan paman Ruan, yang aku dengar jika calon suamiku tidak akan membuat istana harem di dalam istana. Dia juga sudah bersumpah di depan rakyat negara Ming kemarin, jika dia tidak akan menikahi wanita lain selain aku. Jadi aku mohon untuk tidak lagi membahas itu. Akan banyak berita tidak baik tentang keluarga paman, jika terus mendesak seperti itu." Xia Lian An memotong ucapan ayah Ruan Yi yang belum selesai.


"Kau sudah keterlaluan!" Seru Ruan Yi.


Xia Lian An menatap satu keluarga itu sambil tersenyum.


"Sepertinya kedatangan kalian kesini bukan benar-benar ingin melihat keadaanku, tapi ingin memintaku untuk membiarkan nona Ruan Yi ini masuk ke dalam istana sebagai selir. Bukan begitu Jiang Wu?"


Putra mahkota Zhang sangat senang mendengar Xia Lian An memanggil namanya secara langsung. Namun tidak dengan keluarga Ruan yang terkejut.


"Benar, jika kalian kemari hanya untuk membicarakan hal itu, lebih baik kalian pulang. Lagi pula.... Ayah kaisar tidak akan membiarkan orang yang telah melakuan kejahatan masuk dan menjadi anggota keluarga kerajaan."


Deg


Wajah Ruan Yi dan kedua orang tuanya memutih, keringat mulai keluar karena takut dengan apa yang putra mahkota Zhang katakan.


Walaupun mereka yakin jika putra mahkota Zhang tidak tahu apa yang sudah mereka lakukan pada Xia Lian An, tapi mereka merasa jika putra mahkota Zhang mengatakan itu untuk memberi mereka peringatan.


"A... Apa maksud putra mahkota? Ru... Ruan Yi tidak pernah melakukan kejahatan apapun." Ucap ibu Ruan Yi.


"Walaupun dia tidak melakukannya, tapi aku tetap tidak akan menerima dia. Karena aku hanya akan hidup bersama Lian'er."


"Kak Jiang, kenapa kakak...."


"Nona Ruan Yi, walaupun kita masih mempunyai hubungan saudara. Tolong panggil aku putra mahkota, seperti apa yang paman dan bibi lakukan. Lian'er akan merasa tidak baik, jika ada wanita lain yang terus memanggilku seperti itu."


Ruan Yi menggelengkan kepalanya, selama ini putra mahkota Zhang tidak pernah melarang dia memanggil dengan sebutan kakak pada putra mahkota Zhang.


"Kau! Dasar kau j*lang rendahan! Wanita penggoda!" Teriak Ruan Yi sambil menunjuk-nunjuk Xia Lian An.


Braaaak!


"Pengawal! Seret nona muda Ruan keluar, dan masukan dia ke dalam penjara, karena telah menghina permaisuri ku!" Seru putra mahkota Zhang.


"Tidak! Mohon jangan lakukan itu. Putra mahkota mohon ampuni Ruan Yi, dia masih kecil dan belum tahu apa-apa. Mohon lihatlah bibi dan pamanmu, tolong ampuni Ruan Yi." Ibu dan ayah Ruan Yi berlutut pada putra mahkota Zhang meminta ampun untuk putri mereka.


"Aku tidak akan mengampuni kalian, jika hal seperti ini terjadi lagi! Keluar kalian semua dari sini."


"Baik, baik. Kami akan keluar."


Ibu Ruan Yi membawa paksa Ruan Yi yang tengah menangis, agar pergi meninggalkan istana timur. Mereka hanya akan mendapatkan hukuman dari putra mahkota Zhang jika terus berada disana.


"Kau tidak harus marah seperti itu pada mereka." Ucap Xia Lian An.


"Mereka telah lancang padamu."


Xia Lian An tersenyum, dia senang karena putra mahkota Zhang telah melindungi dirinya bahkan di depan paman dan bibinya.


"Terima kasih."


Putra mahkota Zhang duduk di sisi tempat tidur dan menatap Xia Lian An.


"Kau adalah calon permaisuri ku, tidak perlu mengatakan terima kasih padaku. Justru aku yang harus berterima kasih padamu?"


"Apa yang sudah aku lakukan?"


"Kau memanggil namaku secara langsung, dan itu membuat ku sangat bahagia."


"Bukankah kau juga memanggil namaku?"


Putra mahkota Zhang mengangguk "Iya.


Dengan hati-hati putra mahkota Zhang memeluk tubuh Xia Lian An.


"Aku harap, kejadian ini tidak akan terulang lagi."


"Iya."


"Ayah kaisar sedang menyelidiki hal ini, aku akan menghukum mereka dengan berat karena telah melukaimu."


"Iya, terima kasih."


Putra mahkota Zhang sangat bahagia bisa bersama dengan Xia Lian An seperti ini, dia berharap mereka bisa selalu bersama selamanya.


"Jiang Wu."


"Hmm, ada apa?"


"Setelah berbicara dengan keluarga Ruan, aku merasa sedikit lapar."


"Hahaha, kau tunggulah disini. Aku akan meminta koki istana membuatkanmu cemilan."


"Baik."


Putra mahkota Zhang berdiri dan berjalan keluar dari kamar istana timur.


"Ruan Yi, jangan berharap kau bisa masuk ke dalam istana ini. Karena sampai kapanpun kau tidak akan pernah bisa." Ucap Xia Lian An.


Dengan pelan Xia Lian An membaringkan tubuhnya, dia merasa bahunya sedikit nyeri. Mungkin akibat terlalu lama duduk tanpa penyanggah yang di ikatkan pada bahu lainnya.


"Aku harap ini akan segera sembuh, benar-benar tidak bisa berbuat banyak hal dengan bahu seperti ini."