King's Regrets

King's Regrets
Eps 23



Keesokan harinya, permaisuri Yan yang sudah bangun lebih dulu sedang duduk di taman bunga yang ada didalam istana barat. Permaisuri Yan sangat menikmati aroma beberapa bunga yang tidak ada di istana negara Qin.


Ditemani oleh Xiao Wei, permaisuri Yan merasa sangat tenang. Dia bahkan lupa jika dia datang ke negara Ming itu dengan kaisar Shun yang masih bersiap didalam kamar.


Beberapa saat kemudian permaisuri Yan mendengar pintu kamar terbuka, dia juga mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya.


"Bukankah seharusnya kau menungguku didalam, permaisuri Yan?" Ucap kaisar Shun ketika sudah berada disamping permaisuri Yan.


"Maaf yang mulia, aku tidak tertarik untuk melihat seorang laki-laki berganti pakaian." Ucap permaisuri Yan tanpa menoleh pada kaisar Shun.


Kaisar Shun menarik nafasnya, dia menahan emosi yang tidak bisa dia keluarkan.


"Ini adalah istana kerajaan negara Ming, jadi jaga sikapmu permaisuri Yan." Ucap kaisar Shun.


Permaisuri Yan berdiri lalu menatap kaisar Shun "Aku sangat mengerti yang mulia, jadi aku juga ingin berkata kepada yang mulia, agar yang mulia tidak membuatku mempermalukan anda."


Setelah mengatakan itu permaisuri Yan melangkah pergi "Oh iya, yang mulia. Siang nanti kaisar (negara Ming) ingin mengajak anda ke tempat latihan memanah, harap anda bersiap."


Kaisar Shun menatap permaisuri Yan yang semakin menjauh. Dia tidak bisa berbuat apa-apa saat ini, dan itu membuatnya semakin kesal.


"Qing Lian, sepertinya aku harus membuatmu melihat salah seorang keluargamu tidak ada. Baru kau akan merasa takut lagi padaku."


Kaisar Shun berjalan pergi untuk bertemu dengan putra mahkota Zhang, karena meraka telah berjanji akan pergi ke suatu tempat.


Sementara itu di istana kerajaan negara Qin, selir Ning yang di tinggal oleh kaisar Shun ke negara Ming tengah merencanakan sesuatu.


Didalam kamar selir Ning sudah ada ibu dan adik sepupunya, mereka akan berencana untuk mencelakai permaisuri Yan saat permaisuri Yan sudah kembali ke negara Qin.


"Dia sudah membuat kakak ku mati, aku ingin membuatnya mati mengenaskan." Ucap selir Ning dengan geram.


"Kakak sepupu tenang saja, aku mengenal beberapa ketua preman yang ada di ibu kota. Mereka akan melakukan apa yang kita perintah dengan bayaran yang sesuai." Ucap adik sepupu selir Ning.


"Bagus. festival lampion sebentar lagi akan datang, dan itu tepat beberapa hari setelah kaisar Shun kembali dari negara Ming. Saat festival itu kita seret permaisuri Yan dari kerumunan dan bawa dia ke hutan, selanjutnya kita bunuh dia disana."


Ibu selir Ning menatap selir Ning dengan rasa khawatir.


"Ada aap ibu?" Tanya selir Ning pada ibunya.


"Jika kita melakukannya dan di ketahui oleh kaisar, dia pasti tidak akan melepaskan kita. Dan kau... kau pasti tidak akan pernah bisa menjadi seorang ratu." Ucap ibu selir Ning.


"Jika aku tidak bisa menjadi seorang ratu, maka dia pun tidak layak menempati posisi itu."


Tatapan kebencian selir Ning terlihat begitu jelas untuk permaisuri Yan, rasa ingin menghancurkan dan membunuh permaisuri Yan begitu besar pada diri selir Ning.


Ibu selir Ning dan adik sepupunya saling bertatapan dan mengangguk.


"Kakak tenang saja, begitu kaisar datang aku akan langsung menemui beberapa ketua preman itu untuk merencanakan semuanya."


"Iya, aku mempercayakan ini padamu."


"Baik kakak."


Selir Ning menatap ke sembarang tempat, senyum licik tersungging.


"Permaisuri Yan, nikmati hari-hari terakhirmu. Karena sebentar lagi kau tidak akan bisa merasakannya."


Saat mereka berbicara untuk merencanakan kejatahan itu, seseorang tengah mendengar semuanya dari balik kamar selir Ning.


Setelah tidak lagi mendengar apa-apa, orang itu pergi dengan cepat seperti angin yang bertiup.


**


Di negara Ming, kaisar Shun dan putra mahkota Zhang sedang menikmati teh sambil bermain catur di dekat air terjun.


Di iringi suara burung dan hembusan angin yang sejuk, mereka sangat menikmati permainan catur mereka disana.


"Kaisar Shun, apa kau tidak mempunyai rencana untuk mempunyai keturunan?" Tanya putra mahkota Zhang.


Pertanyaan itu membuat kaisar Shun terdiam sejenak.


"Keadaan didalam istana masih belum begitu stabil, di tambah permaisuri Yan baru sembuh dari keracunannya." Ucap kaisar Shun.


Kaisar Shun menatap putra mahkota Zhang yang sedang menjalankan pion caturnya.


"Putra mahkota Zhang, apakah hubunganku dengan permaisuri Yan baik atau tidak. Itu tidak ada hubungannya denganmu."


"Maaf jika kaisar Shun tersinggung, aku hanya melihat permaisuri Yan begitu lembut dan merasa kasihan padanya."


Kaisar Shun menatap putra mahkota Zhang dengan tajam, tangannya mengepal dibawah meja catur.


Meski selama ini perlakuannya terhadap permaisuri Yan tidak baik, tapi dia tidak mau jika ada orang lain yang menganggumi dan menyukai permaisuri Yan.


"Jika putra mahkota Zhang menyukai wanita dari negara kami, kami bisa membantu putra mahkota Zhang untuk mencarikan wanita yang putra mahkota Zhang inginkan."


Tak


Suara pion catur menyentuh meja begitu nyaring.


"Jika aku berkata, aku menginginkan permaisuri Yan. Apakah kaisar Shun akan memberikannya?"


Kedua mata kaisar Shun terbuka lebar mendengar ucapan putra mahkota Zhang.


"Putra mahkota Zhang, apa maksud ucapanmu?"


Putra mahkota Zhang tersenyum tipis "Aku tidak mengatakan yang sebenarnya, aku hanya berkata 'jika'. Aku tahu tidak mungkin aku mengambil permaisuri Yan, karena dia adalah permaisuri kaisar Shun."


Kaisar Shun berdiri "Aku harap kau tidak mempunyai pikiran tentang hal itu lagi putra mahkota Zhang."


Kaisar Shun meninggalkan putra mahkota Zhang dengan perasaan marah dan geram.


Putra mahkota Zhang tersenyum melihat sikap kaisar Shun itu.


"Walaupun kau berubah, bukankah itu sudah sangat terlambat? Selama bertahun-tahun kau menyiksa permaisuri Yan. Kau terlalu naif jika permaisuri Yan akan memaafkan semuanya karena perubahanmu kaisar Shun." Gumam putra mahkota Zhang.


Putra mahkota Zhang mengambil pion catur lalu meletakannya diatas meja catur.


"Kau kalah."


Di halaman samping istana barat, permaisuri Yan terlihat tengah berbincang dengan beberapa selir kaisar dari negara Ming.


Mereka begitu akrab, seolah mereka adalah kenalan lama yang baru saja bertemu.


"Permaisuri, aku ingin bersiap. Sebentar lagi aku akan menemani kaisar ke tempat latihan memanah." Ucap kaisar Shun tanpa menghiraukan para selir kaisar negara Ming disana.


Permaisuri Yan menatap kaisar Shun, dia lalu tersenyum menyindir.


"Bukankah yang mulia kaisar pernah berkata padaku, jika yang mulia hanya ingin dilayani oleh selir Ning atau yang lainnya, asalkan itu bukan aku?"


Permaisuri Yan tentu tidak ingin mengikuti keinginan kaisar Shun, yang ingin memperlihatkan hubungan mesra pada orang-orang di istana negara Ming.


Mendengar ucapan permaisuri Yan, kaisar Shun pergi dengan langkah lebarnya.


Melihat itu, beberapa selir menjadi simpati pada permaisuri Yan. Mereka memang pernah mendengar jika kaisar Shun lebih menyayangi selirnya dibandingkan dengan permaisuri Yan.


"Yang mulia permaisuri, anda pasti sudah sangat menderita dan tertekan." Ucap selir pertama.


"Kakak benar, yang mulia permaisuri pasti sangat tertekan disana." Ucap selir ketiga.


"Terima kasih, tapi aku sudah terbiasa dengan semua itu. Tapi aku juga tidak tahu, sampai kapan aku bisa bertahan disana." Ucap permaisuri Yan dengan nada sedih.


Melihat permaisuri Yan bersedih, selir pertama meraih tangan permaisuri Yan dan menggenggamnya.


"Kau di anugerahi dengan kehidupan yang bahagia, kau pasti bisa yang mulia." Ucap selir pertama.


"Jika saja para selir yanga mulia kaisar Shun seperti kalian, aku benar-benar akan merasa sangat bahagia."


Para selir saling bertatapan satu sama lain.


Di dalam istana negara Ming, para selir dan ratu memang saling menghargai dan menghormati. Jadi tidak pernah ada perselisihan diantara mereka, meskipun mereka sudah mempunyai anak dengan kaisar.