King's Regrets

King's Regrets
Eps 33



Setelah permaisuri Yan meninggalkan istana kerajaan, dia langsung pergi ke kota Yu. Yang mana dia sudah membeli sebuah rumah yang di bantu oleh adiknya, Qing Hao Min.


Permaisuri Yan tidak kembali ke kediaman perdana menteri Qing, karena pagi-pagi sebelum dia pergi ke aula istana, seseorang membawa sebuah surat yang berisikan jika keluarga Qing tidak lagi menerima dirinya didalam keluarga itu.


Dulu dia tidak pernah pedulikan dalam keluarga Qing, ketika usianya sudah cukup untuk menikah. Dia di lempar kedalam istana untuk menaikan nama keluarga, dan memperkuat posisi ayahnya di dalam istana.


Dan sekarang, setelah dia sudah tidak bisa lagi bertahan didalam istana. Keluarga yang seharusnya memeluknya dengan hangat, justru membuangnya begitu saja.


Tetapi meski begitu, permaisuri Yan tidak merasa dirugikan. Justru dia merasa bahagia karena bisa terbebas dari semua orang-orang yang sudah menyakitinya.


Permaisuri Yan sampai di kota Yu bersama dengan Qing Hao Min, Xiao Wei dan koki istana pada malam hari.


Kereta berhenti didepan sebuah rumah yang tidak begitu besar, tapi cukup untuk mereka tinggali.


Semuanya turun dari kereta dan melihat rumah itu. Xiao Wei dan koki istana nampak senang. Mereka akhirnya bisa hidup diluar istana, tanpa merasa tertekan lagi oleh orang-orang yang tidak menyukai mereka didalam istana.


"Yang mulia, rumah ini terlihat besar dan bagus." Ucap Xiao Wei pada permaisuri Yan.


"Xiao Wei, aku bukan lagi seorang permaisuri Yan. Jadi kau harus terbiasa untuk tidak memanggilku dengan sebutan itu lagi." Permaisuri Yan mengingatkan.


"Ah, ba.. baik yang... Nona Qing."


"Sekarang aku juga bukan nona dari keluarga Qing. Jadi mulai saat ini kalian panggil saja aku Xia Lian An."


"Baik, nona Xia." Ucap Xiao Wei dan koki istana bersamaan.


"Baiklah, ayo kita bawa semua barang-barang kita masuk. Jadi kita bisa beristirahat lebih awal." Ucap Min'er pada tiga wanita yang sedang berbicara.


"Baik, tuan muda Qing." Ucap Xiao Wei.


Mereka berdua lalu membantu tiga orang laki-laki yang Min'er sewa, menurunkan semua barang-barang yang ada didalam kereta kuda mereka.


"Min'er. Kau sudah sangat membantu ku, terima kasih." Ucap permaisuri Yan.


"Kak, aku ini adikmu. Sampai kapanpun tidak akan berubah. Jadi kakak tidak perlu seperti itu padaku."


Permaisuri Yan mengangyuk.


Permaisuri Yan menatap rumah yang ada didepannya. Rumah itulah yang mulai sekarang akan menjadi tempat dia kembali setelah lelah bekerja di toko kue yang baru dia buka.



Setengah jam kemudian semua barang-barang sudah berada didalam rumah, dan tiga orang laki-laki yang di bayar oleh Min'er pun sudah kembali.


"Baiklah, disini ada tiga kamar. satu kamar akan aku tempati, satu lagi untuk Min'er jika dia tinggal disini, dan satu lagi untuk kalian berdua." Ucap permaisuri Yan.


"Baik, nona Xia." Ucap koki istana dan Xiao Wei.


"Kamar di rumah ini cukup luas, jadi walaupun kalian tinggal satu kamar tidak akan terasa sempit. Aku juga sudah membuat dua ranjang terpisah untuk kalian berdua." Ucap Min'er pada Xiao Wei dan koki istana.


"Terima kasih tuan muda Qing." Ucap Xiao Wei.


"Kalian istirahatlah, besok kita baru bereskan semuanya." Ucap permaisuri Yan.


"Baik nona."


Xiao Wei dan koki istana pergi ke kamar mereka, meninggalkan permaisuri Yan bersama dengan adiknya.


"Aku harap mereka akan terbiasa hidup disini." Ucap permaisuri Yan.


"Tentu saja, mereka tidak akan takut dengan hukuman mati jika melakukan kesalahan seperti saat di dalam istana."


"Hmm, kau benar."


"Kak, ini kunci gudangmu. Semua uang milikmu sudah aku simpan disana."


Min'er memberikan sebuah kunci pada permaisuri Yan.


"Terima kasih. Setidaknya aku masih memiliki uang setelah aku meninggalkan istana."


"Kakak, apa kau tidak ingin membalas mereka?"


"Tentu, hanya saja aku akan membalas mereka secara pelan-pelan. Aku ingin mereka merasakan apa yang pernah aku rasakan."


Min'er menatap permaisuri Yan, didepannya dulu adalah wanita yang begitu pendiam dan penakut. Tapi beberapa bulan ini, dia sudah berubah menjadi sosok wanita yang kuat, bahkan jika terus di bayangkan bisa sangat menakutkan.


"Min'er? Min'er!"


Min'er tersentak dari lamunannya "Ah, iya kak. Kakak berkata apa?"


Permaisuri Yan tersenyum "Apa kau sedang berfikir tentang perubahanku saat ini?" Tebak permaisuri Yan.


"Ah, tidak... tidak kak. Aku... aku tidak berfikir begitu."


Permaisuri Yan meraih tangan adiknya yang tengah gugup karena tebakannya benar.


"Min'er. Jika aku berkata aku bukan kakakmu, melainkan orang lain. Apakah kamu akan percaya?"


Permaisuri Yan menggelengkan kepalanya, dia lalu berjalan mendekati pintudan melihat halaman rumah.


"Apa kau ingat, kejadian saat aku keracunan di istana Ju?"


Min'er mengangguk.


"Saat itu jiwa kakakmu yang asli sudah meninggal, dan aku yang berada dalam tubuh kakak mu ini adalah aku, Qing Lian An, bukan Qing Lian."


Min'er menatap permaisuri Yan dan mencoba untuk memahami apa yang sudah permaisuri Yan katakan tadi.


"Aku tahu kau sangat tidak menerima perlakuan kaisar Shun dan selir Ning pada kakak, tapi apa yang kakak katakan. Jika kakak bukanlah kakak ku? Aku benar-benar...." Min'er menggelengkan kepalanya tidak percaya.


Permaisuri Yan tahu jika apa yang dia katakan akan sulit di percaya oleh orang lain. Terlebih dia masuk kedalam tubuh seorang yang lahir di era kerajaan, dimana hal-hal seperti itu sulit di mengerti.


"Baiklah, anggap saja kakak hanya mengatakan hal yang tidak-tidak karena kelelahan, dan mungkin juga karena kakak tidak akan bisa menerima semua perlakuan dua orang itu."


"Iya, kak."


"Kalau begitu kau istirahatlah. Besok kita akan lebih sibuk lagi."


"Baik kak."


Permaisuri Yan pergi meninggalkan Min'er sendirian. Dia berjalan menuju kamarnya.


Sementara Min'er menatap kepergian kakaknya dengan pikiran yang penuh tanya akan perubahan sikap permaisuri Yan akhir-akhir ini dan apa yang sudah kakaknya katakan tadi.


Min'er menggelengkan kepalanya beberapa kali sebelum dia juga pergi ke kamarnya untuk istirahat.


Permaisuri Yan berhenti melangkah dan menoleh ke belakang, dan melihat Min'er masuk kedalam kamarnya, permaisuri Yan hanya bisa diam melihat itu.


"Jika dia tidak percaya, maka biarkan saja seperti itu. Karena percaya atau tidak, selama dia masih menganggapku sebagai kakaknya sendiri, maka aku akan menggantikan Qing Lian untuk melindunginya."


Permaisuri Yan masuk kedalam kamar dan mengunci pintunya.


**


Di dalam istana, kaisar Shun yang masih terjaga tengah menatap gelang giok yang pagi tadi permaisuri Yan pakai.


Dia ingat dulu dia sangat marah setiap permaisuri Yan memakai gelang giok pemberian ibu suri itu. Bahkan dia sampai memukuli permaisuri Yan hanya karena dia tidak mau melepaskan gelang itu dari pergelangan tangannya.


Kaisar Shun menatap dengan lekat gelang giok itu, dia juga sesekali mengusap gelang itu dengan pelan.


"Apa yang sudah terjadi padaku? Apakah aku memang sudah menyukai Qing Lian?"


Kaisar Shun meletakan gelang giok itu diatas meja. Dia lalu melihat kotak coklat yang berisi rambut permaisuri Yan, jepit rambut dan sebuah surat dari permaisuri Yan.


Kaisar Shun mengambil surat itu. Dan dengan perasaan yang tidak tahu apa yang harus dikatakan, kaisar Shun membuka dan membaca surat dari permaisuri Yan.


Berikut isi dari surat permaisuri Yan untuk kaisar Shun


Salam pada yang mulia kaisar. Semoga yang mulia panjang umur.


Yang mulia, aku tahu jika sejak awal yang mulia tidak pernah menyukaiku. Aku minta maaf jika selama aku berada didalam istana selalu membuat yang mulia kaisar selalu marah dan bahkan membenciku.


Aku juga minta maaf untuk semua yang telah keluargaku lakukan, sehingga membuat yang mulia semakin membenciku dan keluargaku.


Yang mulia, jika saja aku bisa mengembalikan waktu. Aku tidak akan pernah mau untuk menikah dengan yang mulia dan masuk kedalam istana. Aku benar-benar tidak menginginkan itu.


Tapi aku yang saat itu masih lemah dan sudah jatuh cinta padamu saat pertama melihatmu hanya bisa mengikuti apa yang orang tuaku lakukan.


Jika yang mulia selalu berfikir semua adalah keinginanku yang menginginkan diriku menjadi ratu, sungguh yang mulia sudah salah besar.


Hanya karena menunggu yang mulia membalas rasa suka ku, aku menuruti orang tuaku dan bertahan didalam istana. Walaupun yang mulia tidak pernah melihatku dan bahkan tidak mau menyentuhku. Aku tetap bertahan, hingga akhirnya aku sadar jika semua yang aku lakukan tidak pernah berarti dimata yang mulia kaisar.


Yang mulia, jika kelak yang mulia bertemu dengan wanita yang kau cintai. Aku hanya akan berdoa agar yang mulia merasakan rasa sakit yang pernah aku rasakan, karena telah mencintaimu hingga setengah dari nyawaku.


Yang mulia, meski aku telah meninggalkan istana dan bukan lagi permaisuri Yan negara Qin. Namun aku tidak akan berhenti untuk membuktikan, jika wanita yang telah yang mulia pilih, yang telah membuatku berdiri di ambang kematian, bukanlah wanita yang layak untuk menggantikan ku sebagai permaisuri di negara Qin ini.


Mohon jaga kesehatan yang mulia.


Qing Lian.


...----------------...


Kedua mata kaisar Shun terasa begitu panas karena menahan perasaan yang ada didalam dirinya.


Selama permaisuri Yan berada di dalam istana, apakah dia melakukan kesalahan ataupun tidak. Kaisar Shun akan selalu marah dan memukulinya untuk melampiaskan kemarahannya karena hal lain.


Semua ingatan bagaimana perlakuan dirinya pada permaisuri Yan sangat terlihat begitu jelas. Seolah kaisar Shun tengah melihat kilas balik dirinya saat menyakiti permaisuri Yan.


Kaisar Shun meremas surat yang ada ditangannya, dan tanpa seijin darinya. Air matanya mengalir begitu saja.


"Kenapa, kenapa setelah semuanya sudah terjadi. Aku baru menyadari kebodohanku ini?"


Kaisar Shun menyesali semua yang telah dia lakukan pada permaisuri Yan. Tapi semua itu sudah sangat terlambat, permaisuri Yan telah pergi dan dia tidak akan mungkin mau kembali lagi.