King's Regrets

King's Regrets
41



Beberapa hari kemudian, terjadi keributan didalam paviliun He. Paviliun dimana selir Ning tinggal.


Selir Ning yang tiba-tiba perutnya merasa sakit berteriak-teriak karena perutnya seperti sedang di tusuk-tusuk oleh ribuan jarum.


Tabib istana pun sudah memeriksa kondisi tubuh selir Ning, tapi tidak ada yang aneh pada tubuhnya.


Kaisar Shun yang ada di istana raja memerintahkan kepada beberapa tabib hebat yang ada di ibu kota untuk pergi ke paviliun He, dan memeriksa kondisi selir Ning.


Setelah hampir satu jam, para tabib yang memeriksa selir Ning keluar dari paviliun He. Mereka saling berbisik dna menggelengkan kepala mereka.


Para tabib itu lalu pergi ke aula istana dimana kaisar Shun sudah menunggu mereka untuk memberikan hasil pemeriksaan selir Ning.


"Ampuni hamba yang mulia, hamba sudah beberapa kali memeriksa tubuh selir Ning. Tapi hamba tidak menemukan apa pun yang aneh pada tubuh selir Ning." Ucap tabib istana.


"Hamba juga, yang mulia." Ucap slaah seorang tabib dari luar istana.


"Kami juga, yang mulia." Ucap semua tabib yang sudah memeriksa selir Ning.


Kaisar Shun merasa bingung, semua tabib mengatakan tidak ada yang aneh pada tubuh selir Ning. Tapi selir Ning berteriak-teriak jika perutnya terasa begitu panas dan sakit.


"Baiklah, kalian sudah melakukan yang terbaik."


"Terima kasih, yang mulia."


Semua tabib yang ada di aula keluar meninggalkan kaisar Shun dengan tabib istana.


"Ada apa tabib istana?" Tanya kaisar Shun.


"Ampuni hamba yang mulia, sebelum para tabib itu datang untuk memeriksa selir Ning. Hamba telah meminta pelayan selir Ning untuk menekan perut bagian bawah selir Ning. Lalu hamba juga memeriksa denyut nadi selir Ning."


"Lalu apa yang kau ketahui?"


"Ampun yang mulia, selir... selir Ning.."


"Katakan!"


"Selir Ning mungkin tidak bisa mempunyai seorang anak, karena rahim selir Ning telah rusak dan lemah. Jika selir Ning memaksa untuk mengandung seorang anak, maka di khawatirkan selir Ning dan calon bayi akan meninggal."


Kaisar Shun terkejut mendengar hal itu.


"Apa kau tahu penyebabnya?"


Tabib istana menggeleng "Saya tidak tahu pasti, tapi kemungkinan karena selir Ning terlalu banyak berfikir dan emosi. Jadi mengakibatkan rahimnya tertekan."


Kaisar Shun merasa bingung dengan perkataan tabib istana. Karena setahu dia, selir Ning selalu tampak senang dan di tambah dia selalu memanjakan selir Ning.


Hanya saja beberapa minggu yang lalu, dia kehilangan kakaknya dan juga dia sedikit tertekan saat permaisuri Yan membawa seorang pelayan di aula istana.


Tapi itu semua bisa di atasi, kaisar Shun juga sudah menghukum mati pelayan itu. Sehingga membuat selir Ning senang.


"Sebenarnya dia terlalu banyak berfikir apa?"


Kaisar Shun menatap tabib istana "Apakah tidak ada obat yang bisa membuat kondisi selir Ning membaik?"


"Ampuni hamba yang mulia, hamba rasa tidak ada. Saat ini kondisi rahim selir Ning sangat lemah dan tidak akan mampu bertahan jika dia harus memaksakan diri memiliki anak."


Kaisar Shun mengepalkan tangannya, jika apa yang tabib istana katakan benar. Itu artinya dia tidak akan bisa mempunyai penerus dengan selir Ning.


"Pengawal, panggil selir Zhu. Katakan padanya untuk datang ke istana ku sore ini." Ucap kaisar Shun pada kepala pengawal.


"Baik, yang mulia."


Kepala pengawal itu lalu pergi ke paviliun selir Zhu.


"Tabib istana, datang ke istana ku sore nanti. Aku ingin kamu memeriksa selir Zhu."


"Baik, yang mulia."


Tabib istana membungkukan badannya pada kaisar Shun sebelum dia meninggalkan aula istana.


Kaisar Shun merasa aneh pada tubuh selir Ning, pasalnya beberapa bulan yang lalu dia berkata jika tubuhnya baik-baik saja. Dan bahkan dia juga meminum ramuan agar tubuhnya semakin sehat saat dia mengandung seorang bayi nantinya.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Apakah ini hukuman dari dewa, karena aku dan selir Ning sudah menyakiti Qing Lian dulu?"


Kaisar Shun terus memikirkan semunya, dia merasa menyesal karena telah melepaskan Xia Lian An.


***


Di kota Yu, Xia Lian An sedang bersiap untuk membuat barbeque di halaman rumahnya bersama dengan Xiao Wei, Xiao Fen dan pekerjanya yang di toko kue.


Hari ini juga dia menutup toko kue nya lebih cepat, agar merekabm bisa menikmati makanan dengan lebih santai.


"Hari ini, obat itu pasti sudah bereaksi. Dan aku yakin selir Ning sedang menahan rasa sakit yang menggerogoti perutnya."


Xia Lian An, memotong daging rusa dengan penuh semangat. Sementara Xiao Wei mengurus kayu bakar bersama salah satu pekerjanya.


Semuanya sibuk di halaman rumah Xia Lian An, dan hari itu rumah Xia Lian An sangat ramai.


Xiao Fen melihat Xia Lian An memotong daging rusa, dia lalu mendekati Xia Lian An untuk membantu.


Beberapa sayuran pun sudah di siapkan, begitu juga dengan beberapa ikan, jamur dan yang lainnya. Malam ini mereka benar-benar akan berpesta dengan daging rusa segar.


Xia Lian An sebenarnya mengundang putri tertua, tapi karena putri tertua sudah mendapatkan bukti kejahatan dari menteri keuangan. Jadi dia tidak bisa datang dan ikut menikmati daging rusa itu.


"Nona Xia, daging rusa ini. Nona ingin aku memasak apa?" Tanya Xiao Fen pada Xia Lian An.


Xia Lian An terlihat berfikir sejenak, lalu dia menatap Xiao Fen sambil tersenyum.


Melihat senyuman itu, Xiao Fen tahu jika nona nya ingin dia memasak daging itu dengan resep yang baru lagi dari Xia Lian An.


"Nona, anda membuat saya takut." Ucap Xiao Fen.


"Hahaha, aku akan mengajarimu. Ini akan menjadi menu baru di negara Qin."


"Nona, anda pandai memasak. Lebih baik anda membeli sebuah toko dan membuka restoran, orang-orang pasti akan datang untuk menikmati makanan nona yang berbeda itu."


"Hmm benarkah? Apakah mereka akan menyukainya?"


"Tentu saja nona, masakan dari resep yang nona berikan sangat enak."


Xia Lian An diam, dia memikirkan apa yang Xiao Fen katakan.


"Kakak!"


Suara lantang yang penuh energi membuat Xia Lian An yang sedang fokus berfikir menjadi terkejut.


"Anak ini, tidak bisakah jika tidak berteriak seperti itu?"


Min'er dengan senyum lebarnya berjalan mendekati kakaknya sambil membawa beberapa buah dan manisan yang dia bawa dari ibu kota.


Xiao Fen pergi meninggalkan Xia Lian An dan adiknya.


"Kenapa kau membawa semua itu, bukankah sangat merepotkan membawanya dari ibu kota?" Ucap Xia Lian An pada Min'er.


"Ini adalah manisan yang kakak sukai, dan hanya ada di ibu kota. Jadi aku tentu harus membawakannya untuk kakak."


"Kau ini."


Min'er meletakan manisan yang dia bawa, lalu melihat tangan kakaknya yang masih ada bercak darah rusa.


"Apa yang akan kau lakukan dengan daging itu, kak?"


"Ini akan kita bakar, dan yang Xiao Fen bawa akan di jadikan sup dan rendang."


"Ren...dang? Apa itu?" Tanya Min'er dengan wajah bingungnya.


"Itu adalah makanan khas dari negara lain, kau belum pernah merasakannya. Jadi kau harus mencobanya nanti."


"Apa kakak yang akan memasaknya?"


Xia Lian An mengangguk "Tentu saja."


Min'er hanya mengangguk.


"Bantu aku membawa daging ini kesana, dan biarkan yang lainnya yang mengurus."


"Baik."


Min'er lalu mengangkat baskom yang terbuat dari tanah liat yang berisi daging rusa ke Xiao Wei dan pelayan toko kue Xia Lian An.


Setelah itu, dia mengikuti kakaknya ke dapur untuk melihatnya memasak.


Hampir dua jam Xia Lian An berada di dapur akhirnya dia keluar dengan beberapa hidangan yang Xiao Fen bawa.


Daging rusa yang lainnya pun sudah selesai di bakar, mereka yang baru pertama kali melihat masakan yang di buat oleh Xia Lian An bertanya-tanya.


"Ayo cobalah, rasanya sangat enak. Aku sudah mencobanya sendiri." Ucap Xia Lian An pada Min'er dan yang lainnya.


Karena Xia Lian An berkata seperti itu, Min'er mencoba satu potong daging rendang itu lalu memakannya.


"Ini.... ini sangat enak. Aku belum pernah merasakan makanan ini kak." Min'er benar-benar menikmati rendang rusa yang di masak oleh kakaknya.


Melihat Min'er yang merasa rendang itu enak, Xiao Wei dan yang lainnya ikut mencoba.


"Nona, ini memang sangat enak." Ucap Xiao Wei.


"Sudah saya katakan, lebih baik nona membuka sebuah restoran." Ucap Xiao Fen.


Min'er menatap kakaknya "Xiao Fen benar kak. Besok aku akan mencarikan toko yang akan di jual. Restoran kakak pasti akan ramai."


"Baiklah kalau begitu. Tapi selain toko,kakak juga membutuhkan beberapa pekerja dan koki untuk membantu kakak."


"Tentu saja aku juga akan mencarikannya."


Xia Lian An mengangguk dan tersenyum.


Semuanya menikmati pesta kecil malam itu dengan bahagia.