King's Regrets

King's Regrets
Eps 24



Beberapa hari kemudian, kaisar Shun memutuskan untuk kembali ke negara Qin, karena sudah cukup lama dia berada di negara Ming.


Kaisar negara Ming dan putra mahkota Zhang mengantar kepergian mereka sampai di pintu gerbang ibu kota negara Ming.


Putra mahkota Zhang menatap permaisuri Yan, dia seolah tidak rela jika permaisuri Yan harus ikut kembali ke kerajaan negara Qin. Putra mahkota Zhang sungguh ingin permaisuri Yan tetap terus tinggal didalam istananya, dan biarkan kaisar Shun kembali sendirian.


Kaisar Shun menyadari jika putra mahkota Zhang telah menatap permaisuri Yan sejak tadi, dan itu membuatnya tidajk suka. Tapi demi tidak terjadi keributan dia menahan emosinya dan tetap bersikap biasa didepan kaisar negara Ming dan putra mahkota Zhang.


"Terima kasih karena sudah mengunjungi negara Ming kami, kami benar-benar sangat senang." Ucap kaisar negara Ming.


"Aku juga sangat berterima kasih, karena selama beberapa hari kalian sudah menerima kami di negara kalian ini." Ucap kaisar Shun.


Kaisar negara Ming membawakan beberapa kotak besar hadiah perpisahan untuk kasiar dan permaisuri Yan.


Setelah berpamitan, kaisar Shun dan permaisuri Yan masuk kedalam kereta yang akan membawa mereka kembali ke negara Qin.


Selama perjalanan menuju perbatasan, kereta kaisar Shun dan rombongan di kawal oleh panglima perang negara Ming. Itu untuk berjaga agar selama dalam wilayah negara Ming, mereka tidak mendapatkan kesulitan.


Hampir satu jam perjalanan, mereka akhirnya sampai di perbatasan negara Ming. Panglima perang negara Ming pun kembali ke ibu kota negara Ming, sementara rombongan kereta kaisar Shun melanjutkan perjalanan mereka.


Seperti ketika berangkat, permaisuri Yan dan kaisar Shun tidak saling berbicara selama perjalanan pulang. Bahkan setelah beristirahat sebentar permaisuri Yan meminta agar dia menaiki kuda sendiri selama beberapa jam perjalanan.


Malam hari, saat mereka berhenti di sebuah lereng yang jaraknya sekitar 150km dari negara Qin. Mereka mendirikan tenda untuk beristirahat.


Mereka mendirikan dua tenda besar untuk kaisar Shun dan permaisuri Yan, satu tenda untuk tidur para pelayan dan dua tenda lainnya.


Selama didalam tenda, kaisar Shun selalu mengingat apa yang putra mahkota Zhang katakan saat mereka bermain catur beberapa hari yang lalu di istana negara Ming. Kata-kata putra mahkota Zhang benar-benar membuat kaisar Shun geram dan sedikit khawatir.


"S*al! Kenapa aku selalu memikirkan apa yang putra mahkota Zhang katakan? Seharusnya aku senang, karena jika begitu aku bisa melemparkan permaisuri Yan kepada putra mahkota Zhang." Ucap kaisar Shun pada dirinya sendiri.


Sementara didalam tenda permaisuri Yan, Xiao Wei telah selesai membantu permaisuri Yan berganti pakaian dan melepaskan semua perhiasan dan jepit rambut yang menempel pada tubuh permaisuri Yan


"Kau bisa istirahat, Xiao Wei." Ucap permaisuri Yan.


"Baik yang mulia."


Xiao Wei keluar dari tenda permaisuri Yan.


Permaisuri Yan menatap wajahnya pada cermin kecil didepannya "Rencana apa yang akan selir Ning pakai setelah aku kembali ke istana? Aku sangat menantikannya." (dlm hati)


Permaisuri Yan berdiri dan berjalan menuju tempat tidur, dia membaringkan tubuhnya dan perlahan memejamkan matanya hingga akhirnya di terlelap karena kelelahan.


**


Esok harinya, rombongan kereta kaisar Shun kembali melakukan perjalanan mereka ke negara Qin.


Dari dalam kereta, permaisuri Yan melihat sebuah hamparan rumput yang begitu hijau dan terlihat sangat subur. Beberapa burung dan kupu-kupu hinggap didahan pohon yang ada di sekeliling hamparan rumput hijau itu.


Wajah permaisuri Yan terlihat sangat bahagia, senyumnya mengembang dan kaisar Shun bisa melihat itu dari samping.


"Ternyata kau sangat cantik saat tersenyum." Ucap kaisar Shun tanpa sadar.


Permaisuri Yan yang mendengar itu menoleh dan menatap kaisar Shun.


"Apakah yang mulia baik-baik saja?" Tanya permaisuri Yan dengan heran.


"Aku baik-baik saja, memang ada apa denganku?"


"Perkataan yang mulia tadi sangat aneh."


"Kau..."


Kaisar Shun yang tidak mau berdebat, tidak melanjutkan ucapannya. Dia lebih memilih untuk melihat ke arah lain.


Permaisuri Yan yang melihat kaisar Shun tidak melanjutkan ucapannya kembali melihat keluar jendela kereta.


Kaisar Shun kembali menatap permaisuri Yan dari samping secara diam-diam.


"Apa ucapanku terdengar aneh baginya?" (dlam hati)


**


Akhirnya setelah melakukan perjalanan yang begitu melelahkan, mereka sampai didepan gerbang besar yang berdiri kokoh tepat didepan kereta mereka, mereka juga telah melewati beberapa hutan sebelum akhirnya sampai di gerbang timur negara Qin itu.


Pintu gerbang terbuka setelah kepala pengawal memberi perintah pada pengawal yang berjaga di gerbang timur itu.


Kereta rombongan kaisar Shun dan permaisuri Yan bergerak memasuki wilayah bagian timur negara Qin. Banyak orang yang melihat dan langsung membungkukan badan mereka, memberi hormat kepada kaisar dan permaisuri yang berada didalam kereta.


Beberapa kereta itu terus berjalan, melewati beberapa kota yang ada didalam wilayah kekuasaan negara Qin.


Sore harinya mereka baru sampai didepan istana kerajaan. Kaisar Shun dan permaisuri Yan turun dari kereta, begitupun dengan Xiao Wei yang naik kereta yang lain.


"Yang mulia, yang mulia kaisar. Akhirnya anda sudah kembali."


Suara seorang wanita membuat kaisar Shun dan permaisuri Yan menoleh bersamaan.


Mereka melihat selir Ning berlari kecil menghampiri kaisar Shun yang berdiri tepat disamping permaisuri Yan.


"Sungguh pemandangan yang indah. Kalau begitu, yang mulia aku kembali ke istana Yue Ji dulu. Aku tidak ingin menganggu kalian untuk melepaskan rasa rindu." Ucap permaisuri Yan.


Permaisuri Yan lalu berjalan meninggalkan kaisar Shun yang mematung karena perkataan permaisuri Yan itu.


"Yang mulia, yang mulia kaisar. Hamba sangat merindukan yang mulia." Ucap selir Ning dengan wajah bahagia setelah sampai didepan kaisar Shun.


Selir Ning tidak peduli dengan permaisuri Yan yang pergi begitu saja saat melihat dirinya datang. Justru itu sangat bagus pikirnya.


"Selir Ning, kau kembalilah dulu. Aku sangat lelah." Ucap kaisar Shun.


Belum sempat selir Ning menjawab, kaisar Shun sudah melangkah pergi meninggalkan selir Ning yang berdiri menahan emosinya.


Beberapa pelayan istana yang melihat itu berbisik, mereka seperti sedang mengejek selir Ning yang di tolak oleh kaisar Shun.


"Pasti karena permaisuri Yan sudah mempengaruhi kaisar ketika di negara Ming. Kaisar tidak mungkin berubah padaku seperti ini." (dlma hti)


Sementara itu di istana Yue Ji, permaisuri Yan memutuskan untuk langsung mandi dan berendam air hangat.


Tubuhnya terasa sangat lelah dan lengket setelah perjalanan yang begitu jauh.


"Haahh... Tubuh orang-orang jaman dulu sangat kuat, dengan kereta kuda yang kecil dan jalanan yang seperti itu, mereka bisa bertahan. Aku tidak akan mau lagi menaiki kereta kuda untuk perjalanan yang jauh seperti itu." Gerutu permaisuri Yan saat dia tengah berendam.


Permaisuri Yan perlahan memejamkan matanya, otot tubuhnya terasa mulai sedikit mengendur. Itu karena Xiao Wei mencampurkan ramuan kedalam bak mandi permaisuri Yan.


"Setidaknya ini cukup nyaman." Gumam permaisuri Yan.


Aroma bunga mawar yang menyeruak keluar dari bak mandi juga membuat pikiran permaisuri Yan menjadi tenang, sehingga rasa lelah yang dia rasakan perlahan berkurang.


Selesai berendam, Xiao Wei membantu permaisuri Yan berganti pakaian. Walau tubuhnya juga lelah, tapi Xiao Wei tetap melakukan tugasnya dengan sangat baik.


"Setelah ini kau pergilah istirahat. Biarkan yang lain yang berjaga didepan pintu kamar." Ucap permaisuri Yan.


"Tapi yang mulia..."


"Tubuhmu juga pasti sangat lelah. Aku tidak mau kau sakit."


Xiao Wei membungkukan badannya "Terima kasih atas kebaikan yang mulia."


"Sekarang kau panggil dua pelayan kesini."


"Baik yang mulia."


Xiao Wei keluar dari kamar permaisuri Yan, dan tak berapa lama dia kembali dengan dua orang pelayan yang dia percayai.


"Yang mulia, hamba sudah membawa dua pelayan seperti yang mulia inginkan."


"Iya, kau bisa istirahat di kamarmu sekarang."


"Baik yang mulia."


Setelah Xiao Wei keluar, permaisuri Yan melihat kedua pelayan yang Xiao Wei bawa.


"Xiao Wei sudah melakukan perjalanan jauh dengan ku, jadi aku memintanya beristirahat. Dan kalian akan menggantikan dia sementara waktu untuk berjaga didepan pintu kamar."


"Baik yang mulia." Ucap kedua pelayan itu sambil membungkuk.


"Selama aku istirahat, aku tidak mau ada orang yang menganggu. Jadi kalian harus menghalangi dan mengusir siapapun yang datang dan ingin bertemu dengan ku. Terutama selir Ning."


"Kami mengerti yang mulia." Ucap mereka lagi.


Permaisuri Yan mengangguk "Kalau begitu kalian bisa berjaga di luar."


"Baik yang mulia."


Kedua pelayan itu keluar dari kamar permaisuri Yan dan menutup pintu kamar dengan pelan. Mereka langsung berdiri disamping pintu kamar permaisuri Yan, dan berjaga seperti apa yang permaisuri Yan perintahkan.


Setelah kedua pelayan keluar, permaisuri Yan berjalan ke tempat tidur dan membaringkan tubuhnya.


"Hari ini sangat melelahkan. Badanku terasa seperti habis di pukuli." Ucap permaisuri Yan.


Tak butuh waktu lama bagi permaisuri Yan untuk tertidur pulas setelah dia memejamkan matanya.