King's Regrets

King's Regrets
Eps 53



Berita tentang selir Ning yang diam-diam keluar dari istana dan pergi ke negara Ming, telah di ketahui oleh kaisar Shun yang masih berada di negara Ming.


Kaisar Shun yang kesal atas perilaku selir Ning yang tidak mematuhi perintahnya itu, membuat kaisar Shun memutuskan untuk kembali ke negara Qin.


Kabar perihal selir Ning yang keluar dari istana dan hampir di lecehkan oleh para bandit pun sudah menyebar di ibu kota, dan kini rakyat negara Qin tengah ribut membicarakan hal yang tidak baik yang telah selir Ning lakukan.


Sementara selir Ning menjadi bahan pembicaraan di ibu kota, permaisuri Rui melihat selir Ning yang tergeletak tak berdaya didalam kamarnya.


Tubuh selir Ning penuh dengan luka gores akibat beberapa kali terlempar keatas tanah oleh ketiga laki-laki yang ingin melecehkannya.


Ya, selir Ning pingsan sebelum di lecehkan oleh ketiga laki-laki itu, dan dia tolong oleh dua orang pengawal yang di perintahkan oleh permaisuri Rui untuk mengikuti selir Ning.


Permaisuri Rui tidak ingin selir Ning mengalami hal buruk itu sendiri, dia ingin seluruh keluarga selir Ning yang telah menyakiti permaisuri Yan juga ikut merasakan hukumannya. Karena itu, dia menyelamatkan selir Ning dari para bandit di luar wilayah negara Qin itu.


"Sebentar lagi, kau dan keluarga mu akan merasakan ketakutan dan sakitnya di siksa. Seperti kau menyiksa permaisuri Yan dulu, selir Ning."


Permaisuri Rui memegangi perutnya yang masih terlihat rata, dia mungkin sedikit beruntung dari permaisuri Yan. Tapi dia juga tidak ingin terlalu berharap pada kaisar Shun.


Kehidupan di dalam istana itu tidak akan selalu baik, bahkan walaupun saat ini permaisuri Rui tengah hamil. Dia harus siap dengan semua yang akan dia alami. Karena dia tidak tahu, apakah anak yang akan dia lahirkan nanti adalah laki-laki atau anak perempuan.


Setelah puas melihat kondisi selir Ning, permaisuri Rui keluar dari paviliun He dan kembali ke istananya.


Permaisuri Rui melihat halaman paviliun He yang mulai di tumbuhi rumput kecil, itu karena beberapa pelayan tidak mau lagi melayani selir Ning yang sering berteriak memarahi mereka, bahkan tidak segan memukul mereka tanpa mereka tahu kesalahan yang telah mereka lakukan pada selir Ning.


Sementara anaknya masih belum sadar di paviliun He. Kedua orang tua selir Ning tidak berani keluar dari rumah mereka.


Beberapa orang melempari rumah mereka dengan sayuran atau telur busuk sambil mengutuk dan menghina mereka.


"Tuan, apa yang harus kita lakukan? Selir Ning benar-benar sudah melakukan hal yang membuat kita seperti ini." Ucap ibu selir Ning pada suaminya.


"Kau diamlah, aku tidak bisa berfikir jika kau masih saja tidak bisa diam!"


"Tuan.."


"Selir Ning melakukan itu juga, karena dia tidak mau jika yang mulia kaisar bertemu dengan anak perdana menteri Qing di negara Ming, dan kemudian mereka kembali seperti dulu."


Ibu selir Ning diam, dia merupakan wanita yang tidak mau hidupnya di permalukan oleh siapa pun. Karena itu dia tidak peduli bagaimana selir Ning saat ini. Dia mau semuanya kembali seperti dulu, sehingga dia terus bisa bertemu dengan teman-temannya dan pergi kemanapun dengan kepala yang tegak.


Di era kerajaan kuno ini, sebagian besar keluarga pejabat istana akan mengorbankan putri mereka demi kelangsungan hidup mereka yang selalu ingin di pandang tinggi oleh orang lain.


***


Di istana kerajaan negara Ming, Xia Lian An juga telah mendengar apa yang selir Ning alami dari sebuah surat yang permaisuri Rui kirimkan padanya lewat merpati.


"Selir Ning, perutmu bahkan belum sepenuhnya pulih. Tapi kau yang di penuhi rasa kecemburuan dan benci padaku telah mengantarkan dirimu sendiri pada kematian mu." Gumam Xia Lian An.


Xia Lian An masih ingat bagaimana pemilik tubuh asli mengalami penderitaan di dalam istana kerajaan Qin. Bagaimana selir Ning dengan kejam memberinya racun hingga dia tidak bisa bertahan dan akhirnya mati.


Air mata Xia Lian An tiba-tiba mengalir ketika mengingat semua itu, hatinya ikut merasa sakit atas apa yang pemilik tubuh asli alami.


"Nona Xia."


Putra mahkota Zhang yang melihat itu berjalan dengan cepat, dan berlutut di depan Xia Lian An.


"Lian'er, kenapa kau menangis? Siapa yang sudah membuatmu seperti ini?" Tanya putra mahkota Zhang dengan khawatir, sampai dia tidak sadar memanggil nama kecil Xia Lian An.


Xia Lian An menggelengkan kepalanya "Aku tidak apa-apa, lebih baik tuan Jiang berdiri, dan jangan berlutut di depanku seperti ini."


"Tidak apa-apa, katakan padaku siapa yang sudah membuat mu menangis?"


"Tidak ada, aku hanya merasa senang."


"Senang?"


Xia Lian An mengangguk "Benar, aku merasa senang."


Putra mahkota Zhang tidak mengerti pada Xia Lian An, dia lalu melihat kertas kecil diatas meja. Putra mahkota Zhang berdiri dan mengambil kertas kecil itu lalu membaca tulisan yang ada pada kertas itu.


"Selir Ning hampir di lecehkan saat akan menyusul kaisar Shun kesini?" Ucap putra mahkota Zhang.


"Benar, dia yang merasa takut kaisar Shun akan bertemu denganku disini diam-diam menyelinap keluar dari istana. Dia mengikuti kereta kaisar Shun, namun sepertinya dia tertinggal dan tersesat di jalan."


"Itu hukuman bagi wanita yang sudah berbuat jahat padamu."


"Itu belum cukup, aku ingin dia merasakan kesakitan sampai nyawanya terlepas dari tubuhnya. Agar dia tahu, bagaimana dulu aku merasakannya."


Putra mahkota Zhang melihat mata Xia Lian An penuh dengan dendam terhadap selir Ning. Dia pun menarik kepala Xia Lian An dengan pelan dan memeluknya erat.


Xia Lian An terkejut atas apa yang putra mahkota Zhang, namun dia juga merasa ada kehangatan dan rasa di lindungi oleh putra mahkota Zhang.


"Kau jangan khawatir, dia akan mendapatkan hukumannya."


Xia Lian An mengangguk.


Putra mahkota Zhang melepaskan pelukannya "Hari ini kaisar Shun akan kembali ke negara Qin. Sepertinya dia sudah tahu tentang masalah ini."


"Iya, sepertinya begitu. Aku juga telah meminta seseorang untuk melakukan sesuatu padanya, dan menjadikan ayah selir Ning sebagai kambing hitamnya."


"Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?"


"Kau adalah putra mahkota negara Ming, itu tidak baik. Lagi pula orang yang melakukannya adalah orang yang membenci kaisar Shun dan selir Ning. Jadi walaupun mati, dia rela asalkan bisa membuat kedua orang itu sekarat."


Putra mahkota Zhang melihat Xia Lian An begitu kuat menghadapi semuanya. Usianya yang bisa di bilang masih muda, sudah memikirkan berbagai cara untuk membalas dendam kepada orang-orang yang pernah menyakitinya dulu.


"Sekarang karena sudah ada orang yang membantu mu, kau bisa sedikit menenangkan pikiranmu."


"Iya, kau benar."


Xia Lian An merasa bersyukur, karena setelah dia mendapatkan ketidak adilan dia masih mempunyai orang-orang yang peduli dan baik padanya.


"Selir Ning, kaisar Shun nikmati perlahan-lahan semuanya."