
Keesokan harinya, ayah selir Ning di seret dan di lemparkan ke atas lantai ruang pengadilan istana.
Di depannya, duduk seorang kepala pengadilan dan beberapa pejabat pengadilan istana lainnya yang akan mengadili dan mengintrogasi ayah selir Ning.
Wajah ayah selir Ning pucat, sebab seharian dia tidak makan apapun karena takut akan mendapatkan hukuman berat, setelah kaisar Shun melihat semua bukti kejahatan dan penggelapan pajak rakyat yang dia lakukan selama bertahun-tahun.
Ayah selir Ning juga tengah memikirkan alasan apa agar dirinya tidak di hukum oleh kaisar Shun.
Kepala pengadilan menatap ayah selir Ning yang berlutut di atas lantai sambil menunduk tak berdaya.
Di samping ayah selir Ning berdiri beberapa pengawal dan dua orang algojo istana yang membawa sepotong kayu besar dan sebuah tali untuk memukuli ayah selir Ning, jika dia tidak mau mengakui perbuatannya, sedangkan bukti yang sangat kuat sudah ada di tangan kepala pengadilan.
"Aku akan bertanya padamu, apakah kau mengakui semua kejahatan mu itu?" Ucap ketua pengadilan pada ayah selir Ning.
Ayah selir Ning mendongak menatap ketua pengadilan, dia lalu menggelengkan kepalanya.
"Tidak, saya di fitnah. Saya tidak pernah melakukan itu, saya adalah perdana menteri yang sangat setia pada yang mulia kaisar. Sayatidak pernah melakukan hal itu."
"Jangan menyagkal! Semua bukti ada disini. Buku pemasukan dan pengeluaran pajak dari rakyat, dan juga buku pemasukan dan pengeluaran pribadimu! Apa kau akan terus membohongi yang mulia dengan bukti kuat ini?"
"Saya sungguh tidak melakukannya, saya di fitnah. Saya sunggung telah di fitnah." ayah selir Ning terus menyangkal perbuatannya di depan ketua pengadilan.
Melihat jika ayah selir Ning tidak mau mengakuinya, kepala pengadilan menatap kepala pengawas dan menganggukan kepalanya.
Salah seorang yang membawa sepotong kayu berjalan mendekati ayah selir Ning dan mengayunkan potongan balok itu pada tubuh ayah selir Ning beberapa kali.
"Aaakhhh! Aakh! Jangan pukul lagi. Saya sungguh di fitnah, jangan pukul lagi. Ampun!" Teriak ayah selir Ning.
Darah segar keluar dari pakaian yang ayah selir Ning kenakan akibat pukulan balok dari algojo istana.
"Apa kau masih mau menyangkalnya?" Tanya kepala pengadilan lagi pada ayah selir Ning setelah dia tidak lagi di pukuli.
"Uhuk, uhuk. Saya... Saya tidak melakukannya. Ini adalah fitnah kejam yang orang lain lemparkan padaku."
"Baiklah, karena dengan bukti ini kau masih menyangkal, aku akan mempertemukanmu dengan seorang saksi yang akan membuatmu tidak bisa lagi menyangkal perbuatan jahatmu."
Ayah selir Ning terkejut, dia sama sekali tidak tahu jika akan ada seorang saksi yang datang ke dalam ruang pengadilan istana.
"Bawa dia masuk." Ucap kepala pengadilan kepada salah seorang pengawal istana.
Pengawal istana masuk ke dalam ruang pengadilan dengan seorang laki-laki yang berusia 30 tahunan. Kedua kaki laki-laki itu di rantai, begitu juga dengan kedua tangannya yang di ikat oleh tali dengan kencang. Tubuhnya juga terdapat beberapa luka, seperti telah di pukuli.
Bruuuk!
Pengawal istana mendorong tubuh laki-laki itu hingga laki-laki itu tersungkur diatas lantai.
Ayah selir Ning menatap laki-laki itu dengan tidak percaya, laki-laki yang ada disampingnya adalah orang yang selalu membantunya dalam melakukan kejahatan yang selama ini dia lakukan.
Tidak ada yang tahu tentang laki-laki itu, bahkan tidak ada yang tahu dimana laki-laki itu tinggal selama ini. Tapi saat ini, ayah selir Ning melihatnya dengan kedua matanya sendiri, jika orang yang telah membantunya itu juga tertangkap dan menjadi saksi di ruang pengadilan.
Setelah seorang saksi di datangkan, kepala pengadilan melanjutkan introgasinya kepada ayah selir Ning.
Beberapa kali ayah selir Ning di pukuli karena dia tetap tidak mau mengakui kesalahannya, meski saksi di sampingnya telah mengakui apa yang selama ini ayah selir Ning lakukan.
"Tidak, aku adalah ayah dari selir Ning. Selir kesayangan yang mulia. Yang mulia pasti percaya jika aku telah di fitnah." Ucap ayah selir Ning yang tidak bisa lagi berfikir setelah di pukuli oleh algojo istana.
"Sepertinya kau tidak tahu jika saat ini selir Ning sedang berada di penjara istana dalam, karena kejahatan yang telah dia lakukan pada permaisuri terdahulu."
Mata ayah selir Ning membulat mendengar kabar tentang putrinya itu.
Belum sempat ayah selir Ning melanjutkan ucapannya, dia jatuh dan tak sadarkan diri.
Setelah itu kepala pengadilan mewakili kaisar Shun menjatuhi hukuman mati pada ayah selir Ning dan orang yang sudah membantunya itu. Kaisar Shun juga memerintahkan untuk mengambil semua kekayaan keluarga selir Ning, dan mengirim seluruh keluarga selir Ning ke tempat pengasingan yang berada di perbatasan.
Sementara selir Ning di jatuhi hukuman mati dengan meminum racun, dan dia akan melakukannya di depan rakyat negara Qin, sebagai rasa penyesalannya terhadap permaisuri Yan. Dan juga agar rakyat negara Qin semakin tahu konsekuensi orang yang berani melakukan kejahatan kepada anggota keluarga kerajaan.
...----------------...
Dua hari setelah keputusan hukuman mati terhadap ayah selir Ning dan juga selir Ning keluar, selir Ning di arak dari penjara istana dalam menuju aula luar yang ada di tengah ibu kota. Tangan dan kakinya di rantai, dia juga sudah tidak memakai pakaian bagus dan mewah seperti biasanya.
Di atas aula itu ada sebuah meja kecil yang di atasnya ada semangkuk racun yang akan selir Ning minum.
Para rakyat yang melihat selir Ning datang, melempari selir Ning dengan sayuran busuk dan juga makanan basi lainnya.
"Dasar manusia kejam!"
"Dasar wanita tidak tahu malu!"
"Mati saja kau wanita jahat!"
Berbagai macam umpatan rakyat negara Qin terdengar bergantian, begitu juga dengan sayuran busuk dan makanan basi yang berterbangan dan mengenai tubuh selir Ning.
Selir Ning yang masih tidak percaya dengan keputusan kaisar untuknya, menatap mangkuk berisi racun di atas meja dengan tatapan kosong.
Air matanya mengalir membasahi wajahnya yang pucat dan kotor akibat sayuran busuk yang di lemparkan ke arahnya.
"Titah kaisar!" Ucap kepala pengawal dengan lantang.
Seketika semua rakyat bersujud untuk mendengarkan dekrit dari kaisar.
"Karena kejahatan yang telah di lakukan oleh selir Ning terhadap permaisuri terdahulu. Pada hari ini, aku Xuan Li kaisar negara Qin mencabut gelar selir yang ada padanya. Dan setelah titah ini di bacakan, mantan selir Ning harus meminum racun yang telah di sediakan sebagai hukuman atas kejahatan besarnya."
Selir Ning memejamkan matanya saat titah kaisar selesai di bacakan, kepalanya menunduk tak berdaya. Semua yang telah dia lakukan demi menjadi seorang ratu sia-sia, bahkan keluarganya pun telah lenyap dari negara Qin.
Dengan air mata yang terus mengalir, selir Ning menatap mangkuk berisi racun yang ada di depannya.
"Yang mulia, aku ingin yang mulia tahu. Walaupun aku mati, aku tetap mengagumi dan menyukai yang mulia dengan tulus. Semoga di kehidupan selanjutnya kita bisa bertemu dan menjadi sepasang suami istri dengan banyak anak, dan hidup bahagia."
Selir Ning mengangkat mangkuk berisi racun itu dengan tangan gemetar, dia menggigit bibirnya yang juga bergetar.
Dalan satu tegukan, selir Ning menghabiskan semangkuk racun itu dan tak lama tubuhnya tumbang, kepalanya membentur lantai aula dengan keras.
"Xuan Li, selamat tinggal."
Selir Ning meninggal setelah dia memuntahkan darah segar dari dalam mulutnya.
Kematian tragis selir Ning di saksikan oleh banyak orang. Dan menjadi cerita yang mengakar pada rakyat negara Qin, tentang seorang selir yang melakukan banyak kejahatan demi menjadi seorang ratu.
***
Xia Lian An yang mengetahui jika hari itu adalah hari selir Ning di hukum mati, menatap lurus keluar jedela kamarnya.
"Selamat jalan selir Ning, semoga di kehidupanmu selanjutnya kau bisa menjadi manusia yang lebih baik." Ucap Xia Lian An pelan.
Kini dendam pemilik tubuh asli kepada selir Ning dan keluarganya telah terbalaskan. Dan selanjutnya, dia akan membalaskan dendam kepada keluarga perdana menteri Qing, yang telah membunuh ibu kandung dari pemilik tubuh asli.
"Bersiaplah perdana menteri Qing, kalian selanjutnya."