King's Regrets

King's Regrets
Eps 19



Sesuai dengan apa yang putri tertua janjikan pada permaisuri Yan sebelumnya. Hari ini putri tertua menemui kaisar Shun untuk berbicara dengannya.


Di dalam istana raja, putri tertua duduk didepan kaisar Shun.


Seperti yang sudah di perkirakan, hubungan kedua kakak beradik ini tidak begitu baik. Itu karena selir Ning yang sudah mempengaruhi kaisar Shun.


"Kakak tertua, katakan saja apa yang kakak inginkan." Ucap kaisar Shun.


Putri tertua menatap kaisar Shun "Benar-benar sangat mudah diduga, ternyata apa yang ibu suri katakan dulu benar."


"Kakak tertua!"


"Baiklah, baiklah. Aku hanya ingin membawa permaisuri Yan untuk mengunjungi rumahku beberapa hari."


"Tidak bisa, dia tidak....."


"Apa kau pikir aku akan mendengarkanmu setelah apa yang terjadi pada permaisuri Yan beberapa waktu ini? Apa kau sudah lupa apa yang pernah aku katakan pada mu, yang mulia kaisar?"


Kaisar Shun terdiam, ini adalah kali pertama dia mendengar kakaknya memanggil namanya dengan sebutan "yang mulia". Sebelumnya walau mereka berselisih putri tertua tidak akan pernah memanggilnya seperti itu.


"Kakak, bagaimana bisa kau...."


Putri tertua berdiri "Itu saja yang ingin aku katakan, aku harap yang mulia selalu panjang umur dan bahagia." Setelah mengatakan itu putri tertua keluar dari istana raja.


Putri tertua pergi tanpa ingin mendengar apapun lagi dari kaisar Shun. Dia ingin adiknya menyadari jika apa yang sudah dia lakukan adalah kesalahan yang sangat besar.


Kaisar Shun mematung, dia merasa jika saat ini hubungan antara dirinya dan kakak tertuanya sangat jauh. Bahkan hatinya sampai gemetar ketika kakaknya sendiri memanggil dirinya dengan sebutan itu.


Setelah keluar dari istana raja, putri tertua langsung pergi ke istana Yue Ji untuk menemui permaisuri Yan.


Saat putri tertua sedang berjalan ke istana Yue Ji, dia melihat selir Ning sedang berbisik pada seorang wanita muda. Wanita itu kemudian pergi setelah dibisiki oleh selir Ning.


"Apa yang sedang dia rencanakannya kali ini?"


Putri tertua mengurungkan niatnya untuk pergi ke istana Yue Ji, dia memilih untuk mengikuti kemana wanita muda yang berbicara dengan selir Ning tadi pergi.


Setelah hampir 20 menit mencari, akhirnya putri tertua menemukan wanita itu. Wanita itu ternyata masuk kedalam toko obat yang tidak jauh dari istana.


Putri tertua menunggu wanita itu hingga dia keluar dari dalam toko obat.


Setelah beberapa saat, putri tertua melihat wanita itu keluar sambil membawa beberapa bungkus obat di tangannya.


Saat wanirmta itu melewati sebuah jalan yang cukup sepi, putri tertua mempercepat langkahnya sampai dia berdiri tepat di belakang wanita itu.


"Kau, berhenti disana!"


Wanita yang membawa obat itu menoleh, dia menoleh dan melihat seseorang yang memakai masker untuk menutupi wajahnya berdiri dibelakang dirinya.


"Ka... Kau.... Siapa kau?"


Putri tertua yang menyamar itu berjalan mendekat, dia sangat tahu jalan yang dilewati oleh wanita itu. Karenanya dia memutuskan untuk menjegat wanita itu dijalan yang sunyi yang dia lewati.


"Aku hanya ingin tahu apa yang kau bawa itu."


Wanita itu melihat obat yang dia bawa lalu tiba-tiba memeluk obat itu dengan sangat erat.


"Ini... Ini hanya obat deman untuk tuanku. Aku mohon... Tolong jangan sakiti aku."


Melihat reaksi dari wanita itu, putri tertua sangat yakin jika ada yang aneh dengan obat yang di beli oleh wanita itu.


Putri tertua berjalan mendekati wanita itu.


"Mohon ampun tuan, tolong jangan sakiti aku." Wanita itu berlutut pada putri tertua yang masih menyamar.


"Berikan itu semua, aku akan melepaskanmu."


Wanita itu menggelengkan kepalanya sambil mengeratkan pelukannya pada obat yang tadi dia beli.


Dengan tidak ragu sama sekali, putri tertua mencabut belati miliknya lalu mengarahkan belati itu pada leher wanita itu.


Melihat sebuah belati ada dilehernya, tubuh wanita itu bergetar dan keringatnya keluar seperti orang yang selesai mandi.


"To.... Tolong jangan... Bunuh saya." Ucap wanita itu.


"Jika kau tidak mau belati ini mengoyak lehermu, beritahu aku apa yang kau bawa dan siapa orang yang menyuruhmu?"


Wanita itu diam, tanggannya meremas bungkusan yang dia bawa.


Putri tertua yang semakin kehilangan kesabaran menekan belatinya pada leher wanita itu.


"Katakan siapa?"


"Itu... Itu adalah selir kesayangan kaisar, selir Ning. Dia menyuruhku membeli obat ini."


"Apa kau tidak sedang berbohong padaku?"


"Tidak, tidak. Saya berkata yang sebenarnya. Dia.. Dia menyandera adik ku satu-satunya, jika... jika aku tidak melakukan apa yang dia katakan, adik ku.. Dia akan.."


Wanita itu tidak melanjutkan ucapannya, tubuhnya bergetar karena menangis.


Putri tertua menarik belati dan menyimpannya kembali.


"Jika kau mau bekerjasama denganku, aku akan menyelamat adikmu dan memberikan kalian pekerjaan di tempatku." Ucap putri tertua sambil berdiri.


Wanita itu menatap putri tertua dengan penuh harapan.


"Benarkah itu, anda bisa menyelamatkan adik saya?"


"Iya, tapi kau harus bekerjasama dengan ku."


Wanita itu mengangguk dengan cepat" Baik, saya akan melakukan apapun asal adik saya bisa selamat."


"Sekarang kau ikut denganku, kita akan menemui tabib pribadiku untuk mengetahui obat apa yang kau beli. Setelah itu kita bisa membahas cara untuk menyelamatkan adikmu."


"Baik, saya akan menuruti anda."


Putri tertua dan wanita itu lalu pergi ke sebuah tempat. Kali ini putri tertua tidak akan melepaskan seorang saksi penting yang akan membuat kaisar Shun membuka matanya, jika selama ini dia sudah sangat salah menilai selir tersayangnya itu.


Ketika sampai didepan rumah tabib pribadinya, putri tertua melihat seseorang tengah berbicara dengan tabib itu.


Putri tertua yang sudah ada didepan pintu langsung masuk, dan membuat sang tabib dan orang itu terkejut.


"Tuan putri." Ucap tabib dan orang itu.


"Tabib Yun, tuan Hong. Maaf mengejutkan kalian berdua." Ucap putri tertua.


"Salam kepada putri tertua." Ucap tabib Yun dan tuan Hong bersamaan sambil memberi hormat.


Melihat kedua orang itu memberi hormat dan memanggilnya tuan putri pada orang yang berada didepannya, wanita itu langsung berlutut dan menundukkan kepalanya.


"Mohon ampuni hamba tuan putri, hamba tidak mengenali tuan putri. Hamba pantas mati." Ucap wanita itu.


Putri tertua melihat wanita itu lalu tersenyum.


Tabib Yun dan tuan Hong saling bertatapan karena tidak mengerti apa yang sudah terjadi kepada dua wanita yang ada didepan mereka.


"Berdirilah. Karena kau sudah tahu siapa aku, bukankah kau yakin jika aku bisa membantu mu menyelamatkan adikmu?"


"Hamba sangat percaya pada tuan putri, hamba akan melakukan apapun untuk tuan putri."


"Baik, kalau begitu berikan obat dan resep itu pada tabib Yun. Biarkan tabib Yun memeriksanya."


Wanita itu mengangguk dan berdiri, dia lalu berjalan kearah tabib Yun dan memberikan obat serta resep yang ditulis diatas selembar kertas pada tabib Yun.


"Periksalah obat serta resep itu. Dan sementara biarkan wanita ini tinggal disini untuk keamanannya." Ucap putri tertua lagi.


"Baik tuan putri." Ucap tabib Yun.


"Tuan Hong, anda bisa membantu saya menyelamatkan seorang sandera?"


"Tentu tuan putri, kehormatan bagi hamba bisa membantu tuan putri." Ucap tuan Hong.


Putri tertua mengangguk.


"Apa kau tahu dimana adik mu di kurung?" Tanya putri tertua pada wanita itu.


"Dia di kurung dalam gudang kayu, didalam kediaman keluarga selir Ning."


Tabib Yun dan tuan Hong terkejut mendengar itu, jika adik dari wanita itu di culik dan di kurung didalam kediaman keluarga selir Ning. Ini berarti sebuah kejahatan yang melibatkan banyak orang.


"Aku mengerti. Kau tinggal disini dulu dengan tabib Yun agar lebih aman."


"Baik, hamba mengerti." Ucap wanita itu.


Putri tertua berbalik dan berjalan keluar dari rumah tabib Yun bersama dengan tuan Hong yang berjalan di belakangnya untuk menyelamatkan adik dari wanita itu.