King's Regrets

King's Regrets
Eps 36



Setelah beberapa minggu istana kerajaan ditinggalkan oleh permaisuri Yan, suasana istana menjadi jauh lebih sepi. Bahkan angin yang berhembus pun terasa seperti tidak mempunyai arah.


Didalam istana raja, selir Nuan yang tengah melayani kaisar Shun berganti pakaian seperti biasanya, melihat kaisar Shun tampak sering melamun. Padahal saat masih ada permaisuri Yan didalam istana, dia tampak lebih bersemangat. Walaupun permaisuri Yan selalu membuatnya marah.


Selir Nuan juga merasa jika tubuh kaisar Shun sedikit lebih kurus dari sebelumnya.


"Yang mulia, jika kita tidak bisa merelakan seseorang yang kita cintai karena sebuah keterlambatan. Maka itu sama seperti kita akan membunuh diri kita sendiri." Ucap selir Nuan saat memasangkan ikat pinggang pada tubuh kaisar Shun.


Mendengar itu kaisar Shun tertegun, karena ternyata apa yang sedang dia alami bisa terlihat oleh selir Nuan.


"Apa kau pernah merasakan jatuh cinta, selir Nuan?"


Selir Nuan menatap kaisar Shun dan mengangguk pelan "Iya, yang mulia."


"Apa aku membuatmu berpisah dengan orang yang kau cintai?"


Selir Nuan tersenyum, dia lalu meminta kaisar Shun untuk duduk agar dia bisa membantu kaisar Shun merapikan rambutnya.


"Sebelum yang mulia menikahi saya, saya sudah merelakan seseorang yang saya cintai pergi untuk menikahi wanita lain yang telah di jodohkan oleh keluarganya."


Selir Nuan menyisir rambut kaisar Shun dengan lembut, agar tidak begitu kuat tertarik.


"Pasti sangat menyakitkan."


Selir Nuan menggelengkan kepalanya "Apa yang mulia tahu, selain rasa sakit karena melihat orang yang kita cintai hidup bersama orang lain, ada satu rasa yang tidak akan pernah hilang pada diri seseorang?"


"Apa itu?"


"Rasa kecewa."


Kaisar Shun terdiam, dia melihat pantulan dirinya pada cermin yang ada di depannya.


"Rasa kecewa, karena orang yang kita cintai tidak pernah mempercayai kita. Rasa kecewa, karena melihat orang yang kita cintai memeluk orang lain di depan kedua mata kita, padahal dia tahu jika kita sangat mencintainya. Rasa kecewa saat semua perkataan yabg kita ucapkan hanya di anggap kebohongan oleh orang yang kita cinta, dan rasa kecewa, karena kita mencintai orang yang ternyata tidak pernah mencintai diri kita." Sambung selir Nuan sambil menusukan tusuk konde berbentuk naga pada rambut kaisar Shun.


Selir Nuan meletakan sisir yang telah dia pakai. Dia melihat kaisar Shun yang terdiam, seolah kaisar Shun tengah menyadari, jika apa yang selir Nuan katakan adalah untuk mengingatkan kaisar Shun, bahwa semua itu adalah rasa kecewa yang selama ini permaisuri Yan pendam dalam diri permaisuri Yan pada kaisar Shun.


"Sudah selesai, yang mulia." Ucap selir Nuan.


"Selir Nuan, apa menurutmu aku tidak pantas untuk mendapatkan cinta dari seseorang?"


Selir Nuan tertegun dengan pertanyaan kaisar Shun yang kemudian dia tersenyum.


"Apakah itu pantas atau tidak, itu semua bergantung bagaimana yang mulia memperlakukan seseorang yang ada disamping yang mulia."


Kaisar Shun mengangguk "Akhirnya aku mengerti, memang seharusnya aku melepaskan dia sejak awal. Sehingga dia tidak perlu merasakan begitu banyak kekecewaan dariku."


"Yang mulia."


"Aku tidak apa-apa, terima kasih selir Nuan."


Ini adalah kali pertama selir Nuan mendengar kaisar Shun berterima kasih padanya. Selir Nuan lalu membungkukan badannya dan pergi meninggalkan kaisar Shun sendirian didalam kamarnya.


Kaisar Shun menatap kotak coklat berisi gelang giok yang ada diatas meja.


"Maaf, karena sudah membuatmu merasakan begitu banyak rasa kecewa."


Sejak permaisuri Yan pergi, kaisar Shun tidak pernah pergi ke paviliun He untuk menemui selir Ning.


Kaisar Shun sendiri tidak tahu kenapa dia merasa sangat tidak ingin melangkahkan kakinya ke paviliun He itu. Padahal sebelumnya dia selalu kesana untuk membuat permaisuri Yan yang masih didalam istana sakit hati, dan meminta cerai darinya.


Tapi setelah hal itu tercapai, ketertarikan dirinya pada selir Ning seolah sirna. Dan sekarang kaisar Shun lebih banyak menghabiskn waktu didalam ruang baca. Terkadang dia meminta selir Nuan atau selir Zhu untuk menemaninya.


Dulu saat kasim ketua mengingatkan untuk berkunjung ke paviliun He, kaisar Shun akan langsung kesana dengan semangat. Tapi sekarang, ketika kasim ketua berbicara satu kata mengenai selir Ning, kaisar akan menatapnya dengan tajam.


***


Di kota Yu, Xia Lian An yang sedang duduk didalam kamarnya terdiam.


"Ini sudah minggu kedua setelah aku keluar dari istana. Itu artinya hanya tinggal satu mingyu lagi obat yang selir Ning minum bereaksi."


Xia Lian An sengaja memberi obat pada selir Ning dengan efek yang akan terjadi setelah tiga minggu di konsumsi. Itu karena dia sudah merencanakan semuanya dengan matang.


Dalam waktu tiga minggu, saat obat itu bereaksi dia maupun orang-orang yang ikut keluar dengannya dari istana tidak akan pernah di curigai.


Obat itu tidak mempunyai bau dan tidak akan bisa terdeteksi jika tabib memeriksa tubuh selir Ning nanti. Hanya ada satu yang akan tabib katakan setelah memeriksa tubuh selir Ning. Yaitu, selir Ning mempunyai rahim yang lemah dan rusak, jadi dia tidak akan pernah bisa mempunyai anak.


Rencana yang sudah tersusun rapi dan sudah diperhitungkan dengan matang oleh Xia Lian An tidak mungkin gagal. Karena pembalasan dendamnya pada orang-orang yang sudah membuat nyawa pemilik tubuh asli meninggal, harus berakhir dengan keberhasilan yang sempurna.


"Xiao Wei."


"Iya nona, anda memerlukan sesuatu?"


"Kau pergilah ke toko daging, katakan pada pemilik toko jika minggu depan aku ingin daging rusa segar, satu ekor utuh."


"Satu... Satu ekor, nona?"


"Iya, satu ekor."


"Untuk apa nona, apa nona mau membuat pesta?"


"Kau benar, pesta yang akan membawa seseorang satu langkah menuju kehancuran."


"Nona."


Xia Lian An menatap Xiao Wei lalu tertawa karena melihat Xiao Wei yang ketakutan.


"Aku hanya bercanda, aku ingin melakukan barbeque seperti dulu. Jadi kita memerlukan satu ekor daging rusa segar. Agar semua orang yang bekerja di toko ikut merasakan masakan yang di buat oleh koki istana kita."


Xiao Wei mengangguk "Kalau begitu, besok saya akan ke toko daging terbaik di kota untuk membelinya."


"Iya, lakukan dengn baik."


"Baik, nona."


Xiao Wei lalu keluar dari kamar Xia Lian An, untuk kembali melakukan pekerjaannya.


Sementara itu di dapur, Xiao Fen sedang sibuk membuat kue yang baru saja diajarkan oleh Xia Lian An padanya. Kue itu sebenarnya sangat mudah di buat, tapi karena itu adalah kue yang baru pertama kali Xiao Fen lihat dan rasakan. Jadi terasa sulit.


Permaisuri berjalan menuju lemari, dia membuka lemari itu dan mengambil sebuah kantong kecil dengan bordiran bunga yang sangat cantik.


"Aku ingat ini adalah kantong yang pernah Xiao Wei berikan padaku ketika dia pertama kali berhasil membuat sebuah kantong." Gumam Xia Lian An.


Xia Lian An juga melihat satu pakaian yang terakhir dia pakai saat keluar dari istana.


"Ah, aku bahkan lupa untuk mengirimkan pakaian ini ke istana." Ucap Xia Lian An sambil menyentuh pakaian itu.


Dia mungkin tidak perlu mengembalikan pakaian itu ke istana, tapi dia tidak ingin ada pakaian yang mengingatkan dirinya pernah jadi seorang permaisuri didalam rumahnya.


Semua barang-barang yang dia bawa pun hanya barang-barang yang pernah dia beli sendiri dengan uang bulanan yang dia terima selama ini.


Perhiasan, aksesoris, dan semua pakaian berbahan sutra dan satin terbaik yang biasa Xia Lian An pakai didalam istana, dia tinggalkan disana. Apakah itu akan di buang atau tidak nantinya, itu bukanlah urusan Xia Lian An lagi.