
Sore harinya putra mahkota Zhang sampai di kota Yu, dan dia langsung pergi ke rumah Xia Lian An.
"Salam yang mulia putra mahkota." Ucap Xiao Wei setelah membukakan pintu gerbang rumah Xia Lian An.
"Apakah nona Xia ada, nona Xiao?" Tanya putra mahkota Zhang.
"Ada yang mulia, silahkan. Saya akan memberitahu nona kedatangan anda."
"Baiklah."
Putra mahkota Zhang dan pengawal pribadinya masuk dan mengikuti Xiao Wei. Mereka lalu duduk di dalam rumah Xia Lian An, sementara Xiao Wei pergi untuk menemui Xia Lian An.
Sambil menunggu Xia Lian An datang, putra mahkota Zhang berjalan keluar dan berdiri di dekat taman.
"Putra mahkota Zhang?"
Putra mahkota Zhang menoleh, dia sedikit terkejut melihat putri tertua berada di rumah Xia Lian An. Di tambah kaki kirinya di balut dengan kain.
"Yang mulia putri, kenapa anda disini. Dan apa yang terjadi dengan kaki anda?" Ucap putra mahkota Zhang setelah berjalan mendekati putri tertua.
"Kakiku terkena panah saat aku akan kesini."
"Bahkan seseorang pun berani menyakiti kakak dari kaisar."
"Putra mahkota Zhang, anda sendiri sedang apa di sini?"
"Ah, saya ingin menemui nona Xia. Setelah mengunjungi kaisar Shun, saya kesini."
"Putra mahkota Zhang, aku mengingatkanmu jika Lian'er tidak semudah itu kau dapatkan. Dan juga kaisar Shun...."
"Yang mulia putri, saya juga ingin mengingatkan anda. Saat ini nona Xia bukan lagi istri dari kaisar Shun, jadi mohon berhenti untuk menganggapnya adik iparmu sendiri. Dan juga, nona Xia tidak akan pernah kembali dengan kaisar Shun yang telah menyakitinya hingga dia merasa terluka sampai ke tulang-tulangnya."
"Putra mahkota Zhang, kau...."
"Kakak tertua, tuan Jiang. Apa yang sedang kalian bicarakan?" Xia Lian An berjalan mendekati mereka berdua.
"Kami tidak sedang berbicara apapun." Ucap putri tertua dengan cepat.
Putra mahkota Zhang melihat sikap putri tertua yang seolah sedang menutupi apa yang telah mereka bicarakan berdua tadi. Dia lalu tersenyum.
"Nona Xia, aku membawakanmu manisan dari ibu kota. Aku juga membawakanmi beberapa potong pakaian yang cantik untuk mu."
"Tuan Jiang, kau tidak perlu melakukan itu."
"Tidak apa-apa, nona Xia telah memberikan aku kantong wewangian ini. Tentu saja alu harus memberikan sesuatu untuk nona Xia."
Xia Lian An menatap putri tertua dengan canggung karena putra mahkota Zhang mengungkit tentang kantong wewangian yang dia berikan.
Putri tertua melihat kantong wewangian yang ada pada pinggamg putra mahkota Zhang, tangan mengepal kuat, karena dia tahu engan memberikan kantong itu pada putra mahkota Zhang, artinya Xia Lian An memang tidak akan pernah bisa bersama dengan kaisar Shun lagi.
"Em... Kakak tertua, aku akan membantu kakak kembali ke kamar untuk istirahat." Ucap Xia Lian An memecah keheningan yang mencekam itu.
Putri tertua hanya mengangguk.
"Tuan Jiang, anda bisa menunggu sebentar. Aku akan membantu kakak tertua dulu."
"Baik, nona Xia."
Xia Lian An lalu memegang lengan putri tertua dan memapahnya masuk ke dalam kamar.
"Kakak lebih baik istirahat, mengenai hubungan saya dan yang mulia kaisar. Aku benar-benar ingin menguburnya."
"Lian'er."
"Aku akan keluar agar kakak bisa beristirahat."
Xia Lian An berbalik dan pergi meninggalkan putri tertua.
Putri tertua menatap kepergian Xia Lian An dengan putus asa.
"Maafkan aku ibu, aku sudah berusaha."
Di ruangan yanh berbeda, putra mahkota Zhang sedang meminum teh yang di bawakan oleh Xiao Wei. Sementara di atas kursi yang lain terdapat beberapa kotak yang putra mahkota Zhang bawa untuk Xia Lian An.
"Tuan Jiang, kenapa anda membawa begitu banyak barang untuk ku?" Ucap Xia Lian An setelah masuk ke dalam ruangan itu.
"Aku tidak tahu harus memilih pakaian yang mana untuk nona Xia, semua terlihat cantik."
Xia Lian An menghembuskan nafasnya pelan, dia tidak mengerti apa yang di pikirkan oleh putra mahkota negara Ming ini.
"Tuan Jiang, sebenarnya apa yang tuan Jiang dan kakak tertua bicarakan tadi?" Tanya Xia Lian An dengan hati-hati.
Putra mahkota Zhang tersenyum "Apa dia tidak mengatakan apa-apa padamu, nona Xia?"
"Tidak." Xia Lian An menggelengkan kepalanya.
"Dia terus saja memanggilmu Lian'er dan menganggapmu seperti kau saat masih bersama dengan kaisar Shun. Aku hanya mengingatkan padanya, jika apa yang dia lakukan tidaklah baik. Dia hanya akan terus mengikau padaasa lalu dengan panggilan kakak dan adik."
Xia Lian An diam, sebenarnya apa yang putra mahkota Zhang katakan benar. Tapi, putri tertua sudah banyak berbuat baik pada Xia Lian An. Jadi dia tidak tega untuk tidak mempebolehkan putri tertua memanggilnya adik.
Putra mahkota Zhang berdiri dan berjalan mendekati Xia Lian An lalu meraih tangannya.
"Nona Xia, kau harus berdiri dengan tegak di atas kakimu dan keyakinanmu sendiri. Orang-orang yang hanya akan mengikatmu dengan kenangan masa lalu, kau seharusnya tidak perlu lagi memikirkannya."
"Tuan Jiang.."
"Aku tahu tuan putri sangat baik padamu, tapi dia yang selalu memanggilmu adik akan terus mengikatmu pada masa lalumu dengan kaisar Shun."
Putra mahkota Zhang membelai pipi Xia Lian An dan menatap kedua mata yang bening itu.
"Aku hanya tidak ingin masa lalu terus mengikuti wanita yang aku cintai. Meski aku tidak tahu apakah nanti kita akan bersama atau tidak, tapi... setidaknya aku ingin membuatmu terlepas dari bayangan kesakitan itu."
Xia Lian An diam, dia tidak tahu harus berbuat apa kepada putri tertua yang sudah sangat baik terhadapnya.
Jika dia melarang putri tertua memanggilnya adik lagi, itu mungkin akan menyakiti hati putri tertua. Tapi jika dia tetap membiarkan putri tertua memanggilnya adik, semua yang di katakn oleh putra mahkota Zhang jika dia tidak akan pernah bisa terlepas dari masa lalu, akan menjadi kenyataan.
"Nona Xia?"
"Aku... aku akan memikirkan. Bagaimana pun dia sudah sangat baik padaku."
"Aku mengerti."
Putra mahkota Zhang menatap Xia Lian An, dia begitu takut akan kehilangan wanita yang dia cintai itu. Dia juga tidak mau, jika Xia Lian An terus mengingat bahkan memimpikan perlakuan kaisar Shun padanya dulu.
Hanya dengan cara melepaskan Xia Lian An dari orang-orang yang berhubungan dengan kaisar Shun, putra mahkota Zhang akan merasa sedikit lebih tenang. Karena setidaknya Xia Lian An tidak akan melihat kaisar Shun pada diri putri tertua atau adik dari kaisar Shun.
"Maafkan aku, biarkan aku melakukan hal yang egois sedikit padamu. Aku sungguh tidak ingin kau terus berada dalam ingatan masa lalu itu, Lian'er."