King's Regrets

King's Regrets
Eps 32



Esok harinya, permaisuri Yan di temani oleh Xiao Wei dan koki istana berjalan menuju aula istana. Dimana semua orang sudah menunggunya, termasuk kaisar Shun.


Dengan hati-hati Xiao Wei membantu permaisuri Yan berjalan menaiki tangga menuju aula istana.


Di luar permaisuri Yan melihat para pelayan dan pengawal sudah berdiri dan menatap permaisuri Yan yang berjalan melewati mereka.


"Yang mulia permaisuri tiba!" Ucap kepala pengawal dengan suara kerasnya.


Semua orang yang ada didalam aula menatap kearah pintu, mereka melihat seorang wanita yang mengenakan pakaian kebesaran seorang permaisuri.



Dengan langkah pelan namun pasti, permaisuri Yan berjalan ke arah kaisar Shun yang berada di singgahsananya.


Permaisuri Yan menatap kaisar Shun tanpa ekspresi, seolah dia sudah enggan memberikan batasan ruang untuknya dan kaisar Shun.


Kaisar Shun melihat tatapan permaisuri Yan padanya. Hatinya bergetar dan ada rasa seperti tercubit.


"Apa yang sebenarnya aku rasakan, kenapa begitu tidak nyaman melihat permaisuri Yan menatapku dengan tatapan seperti orang asing itu?"


Sementara permaisuri Yan terus berjalan melewati semua pejabat, selir, anggota keluarga kerajaan lainnya dan para pelayan istana yang ada didalam aula.


Mata selir Ning menatap permaisuri Yan penuh rasa bahagia, karena sebentar lagi dia tidak akan melihat permaisuri Yan didalam istana.


Permaisuri Yan berjalan menaiki tangga hingga dia sampai didepan kaisar Shun. Di bawah kakinya terdapat bantal kecil yang nantinya akan di pakai oleh permaisuri Yan untuk berlutut.


Permaisuri Yan berbalik dan menatap semua orang yang ada didalam aula istana. Dia juga melihat senyum tersembunyi selir Ning saat melihat kearahnya.


"Tersenyumlah selagi kau masih bisa selir Ning, karena beberapa bulan lagi aku yang akan tersenyum dengan puas."


Kasim ketua berjalan didepan semua orang yang ada didalam aula, lalu kasim ketua berdiri menghadap kaisar Shun dan permaisuri Yan yang berdiri diatas singgahsana.


"Salam kepada yang mulia kaisar, salam kepada yang mulia permaisuri. Semoga yang mulia panjang umur dan sejahtera." Ucap kasim ketua sambil memberi hormat.


"Salam kepada yang mulia kaisar dan yang mulia permaisuri. Semoga yang mulia panjang umur dan sejahtera." Ucap semua menteri dan orang-orang yang ada didalam aula sambil memberi hormat, termasuk selir Ning.


Ini adalah kali kedua permaisuri Yan berdiri disamping kaisar Shun dan mendapatkan penghormatan seperti itu, setelah dulu saat pertama permaisuri Yan diangkat menjadi permaisuri kerajaan. Karena selama ini yang selalu berada disamping kaisar Shun adalah selir Ning, jadi selir Ning yang selalu mendapatkannya.


Permaisuri Yan diam, dia menatap semua orang yang membungkukan badan mereka padanya.


"Jadi seperti ini rasanya di hormati?" Guman permaisuri Yan.


Kaisar Shun tertegun mendengar gumaman permaisuri Yan, entah kenapa ada rasa bersalah pada dirinya, karena dia tidak pernah mau jika permaisuri Yan ikut bersamanya untuk mendapatkan salam dari para pejabat istana setiap pagi dan sore.


Setelah semua orang berdiri, permaisuri Yan berbalik dan menghadap ke kaisar Shun.


Xiao Wei yang berdiri tidak jauh dari permaisuri Yan berjalan mendekat, dia membantu permaisuri Yan berlutut diatas bantal yang ada dibawah kaki permaisuri Yan.


Semua orang menyaksikan permaisuri Yan berlutut didepan kaisar Shun.


Kepala pelayan yang selalu berada disamping kaisar Shun mendekat sambil membawa baki yang dialasi kain merah untuk meletakan mahkota, perhiasan dan juga jepit rambut yang permaisuri kenakan.


Kaisar Shun melihat permaisuri Yan yang berlutut didepannya.


Permaisuri Yan menutup kedua matanya saat tangan kaisar Shun terulur untuk melepas mahkota yang terpasang diatas kepala permaisuri Yan.


Tangan kaisar Shun bergetar saat mengangkat mahkota itu, kaisar Shun lalu meletakkan mahkota itu diatas baki yang di bawa oleh kepala pelayan.


Setelah melepaskan mahkota, kaisar Shun melepaskan kalung yang melingkar pada leher permaisuri Yan.


Kaisar ingat, kalung itu adalah kalung yang pernah dia pakaikan pada permaisuri Yan dulu, dan sekarang dengan tangannya sendiri, dia melepaskan kalung itu.


Permaisuri Yan sengaja memakai semua perhiasan yang dia pakai saat pertama kali masuk kedalam istana, itu karena semua perhiasan yang dia kenakan hari ini adalah perhiasan yang dulu di pakaikan kaisar Shun langsung padanya saat mereka menikah.


Hati kaisar Shun benar-benar merasa tidak nyaman, dadanya sangat sesak saat melepaskan satu persatu perhiasan yang melekat pada tubuh permaisuri Yan.


Sampai dia melihat gelang giok berwarna biru muda di pergelangan tangan permaisuri Yan.


Permaisuri Yan diam, dia juga sengaja memakai gelang giok pemberian ibu suri hari ini. Karena dia tahu semua perhiasan yang dia pakai hari ini akan di lepas dan di simpan kembali didalam istana.


Kaisar Shun mengangkat tangan permaisuri Yan dan dengan pelan menarik gelang giok itu dari tangan permaisuri Yan.


Putri tertua melihat hal itu, tangannya mengepal dengan kuat saat kaisar Shun melepas gelas giok itu dari pergelangan tangan permaisuri Yan.


"Itu...itu adalah gelang giok pemberian ibu suri."


Putri tertua masih ingat saat permaisuri Yan berkata, jika kaisar Shun marah dan tidak mengijinkan permaisuri Yan memakai gelang giok itu. Jadi permaisuri Yan tidak lagi memakainya.


Dan hari ini, gelang giok itu permaisuri Yan kembalikan pada keluarga kerajaan dengan cara yang membuatnya sangat merasa bersalah dan sedih.


"Ibu, maafkan aku tidak bisa menepati janji pada ibu."


Setelah melepaskan gelang giok itu, kaisar Shun melihat air mata mengalir dari kedua mata permaisuri Yan yang masih terpejam.


"Kenapa hatiku sakit melihat air mata itu, bukankah seharusnya aku sangat bahagia karena akhirnya dia pergi dari istana ini?"


Kaisar Shun mundur beberapa langkah dari permaisuri Yan.


Mahkota dan semua perhiasan yang permaisuri Yan sudah di lepas. Xiao Wei berjalan mendekati permaisuri Yan lalu membantunya berdiri.


Kaisar Shun menatap wajah permaisuri Yan yang terlihat begitu kecil, bahkan wajah itu tidak lebih besar dari telapak tangannya.


"Yang mulia, anda harus melepaskan jubah yang mulia permaisuri." Ucap kepala pelayan pada kaisar Shun yang terdiam.


Kaisar Shun sedikit terkejut, dia lalu mendekati permaisuri Yan dan dengan hati-hati melepaskan jubah tipis yang permaisuri Yan pakai.


Aroma permaisuri Yan memenuhi indra penciuman kaisar Shun, saat tubuhnya berada sangat dekat dengan permaisuri Yan. Itu adalah jarak terdekat kaisar Shun dengan permaisuri Yan setelah mereka menikah beberapa tahun yang lalu.


Kaisar Shun menghirup aroma tubuh permaisuri Yan dengan pelan, seolah dia tidak ingin kehilangan aroma yang sangat lembut itu.


Sementara itu, permaisuri Yan diam saat kaisar Shun melepaskan jubah tipis miliknya. Dia merasa sudah terlalu lama dan ingin segera mengakhiri semuanya.


Jubah itu kaisar Shun letakan diatas baki, dia lalu menatap permaisuri Yan yang menatapnya dengan dingin.


"Salam kepada yang mulia kaisar, semoga yang mulia panjang umur." Ucap permaisuri Yan sambil membungkukan badannya pada kaisar Shun.


Kaisar Shun membatu saat permaisuri Yan memberi salam padanya, nada bicara permaisuri Yan padanya seperti orang asing yang tidak saling mengenal satu sama lain.


"Kenapa aku merasa jika aku dan permaisuri Yan berada sangat jauh?"


Permaisuri Yan kembali berdiri, dia lalu berbalik dan melihat semua orang yang ada di bawahnya.


"Terima kasih untuk kebaikan kalian selama ini padaku." Ucap permaisuri Yan sambil kembali membungkukan badannya.


Semua orang tertegun melihat permaisuri Yan membungkukan badannya pada mereka. Meskipun sekarang dia bukan lagi permaisuri kerajaan negara Qin, tapi bagi orang-orang yang ada disana, permaisuri Yan tetaplah permaisuri negara Qin mereka.


Permaisuri Yan menuruni tangga di bantu Xiao Wei, dia tidak menoleh sedikitpun untuk melihat kaisar Shun. Hingga akhirnya dia sampai didepan pintu aula istana.


"Semoga yang mulia permaisuri selalu bahagia dan selalu sehat diluar sana." Ucap selir Nuan sambil membungkukan badannya.


Melihat selir Nuan mengatakan itu, raja kecil maju beberapa langkah kedepan.


"Semoga yang mulia permaisuri panjang umur dan selalu bahagia."


Raja kecil membungkukan badannya untuk memberikan hormat terakhirnya pada permaisuri Yan.


Permaisuri Yan hanya tersenyum, namun dia tidak berbalik. Baginya jika dia berbalik, itu seperti dia tidak ingin pergi dari istana kerajaan itu.


Para menteri, raja kecil, putri tertua dan selir Zhu membungkukan badan mereka, memberikan hormat terakhir mereka mengantar kepergian permaisuri Yan dari istana kerajaan.


Kaisar Shun tidak menyangka jika permaisuri Yan begitu di hormati oleh semuanya, bahkan kakak tertuanya pun ikut membungkukan badannya.


Selir Ning yang sendirian tidak membungkuk merasa sangat kesal, karena semua orang begitu menghormati permaisuri Yan yang sekarang bukan lagi seorang permaisuri negara Qin.