
"Terima kasih"
"Ehm.. jangan kepedean dulu.. siapa bilang aku lakuin ini tanpa maksud ?"
"Aku tahu ! sayangnya maksud yang menjadi tujuanmu itu tidak akan terwujud"
"Setidaknya aku masih memegang peranan penting di hati anakku arash..benar begitu kan uncle arsen ?"
"Damn you arkhan !!"
"Hahahaa..lihat wajahmu ars, setidaknya kali ini posisi kita seri. kamu dapat hati ara dan aku dapatkan hati arash..adil kan !! hahaha" ucap arkhan tertawa puas meledek arsen.
"Shiitt !! aku pastikan anakku akan membencimu !" gerutu arsen sambil menyesap kopinya.
"Ya..ya..ya..terserah lah ! hahaha"
Arsen mengacuhkan tingkah arkhan mengusiknya, dia memainkan gelas kopi dengan tangan kanannya.
"Ars, aku mau memastikan satu hal.." Arkhan menatap serius pada arsen.
Arsen tersenyum miring menanggapi ucapan arkhan yang baginya seperti sebuah candaan.
"Sial ! gue serius nih !"
"Hmm.."
"Ekhem oke, kita serius sekarang ! aku mau tahu kematian arlan murni kecelakaan atau itu perbuatan seseorang ?" tanya arkhan dengan tatapan tajam dan badan sedikit maju ke arah arsen meski terhalang meja.
Alis arsen terangkat terkejut mendengar pertanyaan arkhan yang secara tiba-tiba, namun sepersekian detik dia mampu mengontrol dirinya kembali tenang.
"Menurutmu ?"
"Pantas kamu punya julukan pengusaha seribu wajah karena kamu bisa mengganti karakter sesuai dengan musuh yang kamu hadapi. dan menghabisinya tanpa tersentuh hukum"
"Wow..aku merasa tersanjung untuk usahamu yang susah payah menggali info tentang aku..lalu apa hubungan kematian arlan dengan aku ?"
"Dari informasi orang suruhan ku, saat itu kamu berada di negara yang sama dengan arlan. meski dia tidak menyebutkan keberadaan mu di lokasi kecelakaan arlan. tapi aku yakin kematian arlan bukanlah sebuah kecelakaan melainkan sebuah kesengajaan..benarkan ?!"
"Heh, kamu mencurigaiku ?"
"Ayolah ars, bukan itu maksud ku ! aku hanya ingin memastikan itu saja"
"Lalu apa yang kamu lakukan saat ini, menginterogasi dan menanyaiku tentang itu ?"
"Oke, aku akan jujur ! karena kamu yang punya alasan melakukan itu semua"
"Oh ya ?!"
"Keluarga ku memang tidak punya bukti, tapi ayahku mengetahui sesuatu sejak lama mengenai keluargamu dan aku tahu itu. karena akulah orang yang selalu di jadikan tumbal untuk menyelesaikan setiap kekacauan yang di buat arlan."
"Entah aku harus berterimakasih pada kecelakaan ini atau aku harus bersedih dan marah dengan kematiannya yang tidak wajar. tapi yang pasti hidupku sudah tenang tidak lagi di haruskan repot dengan urusan arlan yang selalu bikin kacau sejak dulu"
"Kenapa aku bilang kamu punya alasan melakukan itu semua ?, karena sejak kedatanganmu di sekolah dulu arlan berambisi untuk mengalahkanmu dan membuatmu tunduk padanya, tapi sayangnya kamu lebih kuat darinya. dan ketika malam itu di saat kita bertemu di kafe dan berpapasan denganmu di luar. kamu ingat julian kan, dia mengatakan malam itu akan berangkat ke villa desta."
" Dan tak lama setelah kalian pergi arlan dan arman menghilang untuk beberapa jam mereka kembali setelah lewat dini hari ke basecamp. aku berpikir saat itu arlan selalu pulang dini hari itu hal biasa, dan pantas dia merebut jaketku karena memang dia sangat membutuhkannya karena urusannya sampai dini hari."
"Lalu secara tiba-tiba ayahku menyuruh aku dan arlan langsung berangkat ke luar negeri tapi lagi-lagi arlan menolak. saat itu dia bilang untuk apa ke luar negeri, toh musuhnya sudah mati. aku tidak tahu siapa yang dia maksud saat itu"
"Dan setelah satu tahun berlalu lagi-lagi aku mendapat kabar berita tentang arlan kali ini benar-benar membuatku terkejut. arlan mengalami kejadian yang membuatnya lumpuh dan terra yang wajahnya rusak parah. namun sayangnya polisi menyebutkan itu hanya kekacauan yang di buat ketika mereka mabuk, bahkan arman dan ardi tak menyangkal hal itu. tapi justru pengakuan arlan lah yang membuat kami kaget terutama ayah maka dari itu ayah segera membawa arlan untuk tinggal di luar negeri dan mengubah identitasnya agar tidak bisa di temukan oleh ayahmu."
"Perusahaan ayahku bangkrut secara mendadak dengan banyak hutang. ayahku hampir bunuh diri tapi bersyukur dia mampu bertahan dengan menjual aset yang tersisa, dia membangun kembali perusahaannya. dan aku memulai bekerja di industri hiburan di tempatku kuliah...bosen ya dengernya ?!"
"Lanjutkan !"
"Di saat semua sudah terkendali dan kembali normal, perusahaan ayah berkembang dan aku berhasil mendirikan art studio ternyata puluhan tahun tak membuat arlan melupakan dendamnya. lagi-lagi arlan membuat ulah, kejadian 4tahun lalu yang menimpa kiara hingga membuat anakmu meninggal dan kiara terluka..apakah yang ku ceritakan itu semua bukan sebuah alasan kenapa aku menanyakan ini semua padamu ?"
"Perbuatan arlan tak bisa di maafkan bahkan ayah sendiri mengutusku untuk mencari keberadaan kiara untuk meminta maaf karena baginya hanya aku yang mampu menyelesaikan masalah ini. aku mencari keberadaan kiara sama seperti mu hampir putus asa. namun sebuah keberuntungan datang di saat aku tak berharap justru aku menemukannya di sini yang sedang hamil besar."
"Ketika pertama kali kiara melihatku dia seperti melihat hantu dia berlari ketakutan seperti orang gila. bahkan ayahmu tuan mavros mengancamku akan membunuhku jika aku terlihat di dekat kiara. tapi aku tak perduli sampai akhirnya tante sita menjelaskan trauma yang di alami kiara yang di sebabkan oleh arlan."
"Aku terenyuh ketika tante sita membawaku ke sebuah pusat rehabilitasi bagi orang-orang yang mengalami trauma dramatis menjalani terapi. dalam keadaan hamil besar kiara harus menjalani itu semua bahkan aku melihat terkadang dia masih merasa ketakutan di tengah orang banyak yang gak habis pikir tante sita bilang dia masih sempat memikirkan buka usaha. dan beruntung perlahan kiara mampu melewati itu semua dan sampai saat ini dia semakin lebih baik bahkan semakin cantik..aku gila jika membayangkan perasaanku yang sekali lagi jatuh cinta padanya..maaf bro "
"Perasaan mu tidak salah hanya salah sasaran"
"Jadi apa jawaban mu..apa arlan tewas di bunuh atau murni sebuah kecelakaan..aku hanya ingin kepastian"
"Mengapa harus bertanya..menurutmu apakah kematiannya layak untuk di perhitungkan..atau nyawanya begitu berharga hingga patut di pertahankan..jawaban itu bisa kamu dapatkan sendiri..kenapa masih harus bertanya !!"
Arsen tersenyum tipis hampir tak terlihat dengan tatapan tajam menghunus pada lawan bicaranya.
"Jika kamu masih penasaran siapa pelakunya, selidiki lebih lanjut..penjarakan dia !!"
Braakk
Sebuah gebrakan meja oleh seseorang menyadarkannya dari lamunannya saat dia berbicara dengan arkhan dua hari lalu. Alis arsen terangkat dan menghela napas pada sosok yang mengganggunya.
"Dasar anak durhaka ! kenapa mukamu masam begitu sama mom !"
"Oh mommy sayang.." arsen berdiri dan memutar menghampiri sang mama lalu memeluknya.
"Bagaimana kabarmu juan ? mommy kangen banget !" ucap helen dalam pelukan arsen.
"Seperti yang mom lihat aku baik..bagaimana kabar mom dan daddy" arsen membawa helen ke sofa.
"Daddy kamu sedang bersama ara dan arash..mom sengaja kesini untuk membuat surprise tapi kamunya malah asyik melamun, gagal deh!"
"Daddy..? dalam rangka apa kalian kemari..kalau begitu aku bisa menyerahkan kembali pekerjaan ini ke daddy"
"Jangan coba-coba! ayahmu sudah terlalu tua untuk mengurus banyak perusahaan dan kamu bagaimana mungkin bisa lupa ulang tahun mu sendiri..mom dan dad ingin mengadakan pesta sekalian kumpul keluarga untuk kembalinya kamu dan ara"
"Tap.."
"Jangan menolak !!"
"Terserah mommy.."
Arsen membiarkan sang mama terus bicara, sesekali dia hanya mengangguk dan tersenyum. dia sangat bersyukur mempunyai orang tua yang selalu mendukungnya dalam hal apapun.