
Sejak satu minggu lalu arsen benar-benar menyibukkan dirinya dan tenggelam dalam pekerjaannya sebagai pengalihan. karena kondisi ayahnya masih belum pulih dan sang mama selalu mengabarinya mengenai hal itu. selama satu minggu pula arsen mengutus lingga untuk mengawasi dan mencari info mengenai kiara dan arkhan.
Rahangnya kembali mengeras tatkala dia mengingat kejadian itu. namun informasi yang di dapatnya terasa ada kejanggalan terutama mengenai keberadaan anak itu. usia anak itu menurut hitungannya sama dengan usia anaknya jika hidup tapi apakah mungkin, dan yang lebih membuatnya penasaran ternyata arkhan bukanlah ayah biologis dari anak itu.
Arsenpun meminta bantuan desta dan pedro untuk mencari keberadaan dokter leon dan dokter bayu yang dulu pernah sempat dia cari, namun hanya menemukan alamat fiktifnya saja dan setelahnya lebih fokus pada pencarian kiara.
Saat ini dirinya berada di sebuah klinik di desa berjarak 100km dari kota podgorico. di hadapannya ada seorang dokter yang dulu menangani kiara. arsen sengaja langsung menuju tempat ini begitu menerima laporan email dari desta. Alangkah terkejutnya ia ketika sang dokter memberitahu kebenaran tentang kondisi kiara saat itu. namun sang dokter yang bernama bayu tak memberitahu alasan kiara pergi darinya.
Rasa amarah, kesal dan kecewa mendominasi dirinya saat ini. bagaimanapun dia harus menemui kiara tapi arsen ingin sedikit bermain pada istrinya sebagaimana yang selama ini kiara lakukan padanya.
Sebuah acara perusahaan di buat arsen, acara penyambutan dirinya yang di buat secara dadakan dua minggu lagi. semua divisi di buat sibuk dengan tahapan prosesnya. namun arsen menekankan jika untuk catering dia hanya akan menyetujui dari arashio cake and bakery.
Cathy mendatangi toko ini lagi, kali ini tidak hanya untuk menikmati makanannya. namun dia juga mendapat tugas untuk melakukan negosiasi sebuah penawaran kerja sama dari bossnya. cathy membuka pintu kaca itu seperti biasa sapaan selamat datang akan menyambutnya. saat ini dia mendatangi toko ini seorang diri ketika dia mengajak lingga laki-laki itu beralasan banyak kerjaan.
Cathy memandang kagum perempuan cantik berhijab di hadapannya. hidungnya yang mungil dan mancung serta alis mata tebal nan rapi di tambah bulu mata lentik meski tanpa maskara membuatnya semakin sempurna.
"Ekhem..maaf apakah anda yang bernama miss catherine waltz ?"
"Oh..i..iya maaf saya catherine waltz panggil saja saya cathy..dan anda ?"
"Saya putri pemilik toko ini..tadi karyawan saya bilang anda ingin bertemu dengan saya, benar begitu ?"
"Benar, silakan !" cathy mempersilakan kiara untuk duduk.
"Terima kasih" tanpa ragu kiara menarik kursi yang ada di hadapannya dan duduk berhadapan dengan cathy.
Pembicaraan mengenai penawaran kerja sama berlangsung cukup lama. meski sebenarnya lebih banyak bicara santai daripada membicarakan pekerjaan. sampai akhirnya cathy pun mengakhiri pembicaraan mengenai pekerjaan.
"Baiklah miss cathy, besok saya akan menemui pimpinan anda ! boleh saya minta kartu namanya ?!" ucap kiara kemudian.
"Terima kasih bu putri, dan ini kartu nama perusahaan kami ! karena kami perusahaan baru jadi belum mencantumkan nama pimpinan kami" jelas cathy tapi itu justru membuat kiara mengernyitkan dahi sambil kembali membaca berulang kali kartu nama tersebut.
"Mmm..jika ibu putri tidak yakin mungkin kita bisa buat janji temu di luar saja, bagaimana ?" cathy yang memahami sikap ragu kiara langsung menawarkan opsi lainnya, dia tidak boleh gagal.
"Oh, bukan itu ! siapa nama pimpinan anda ? bukankah saya harus mengetahui namanya ketika nanti menemui beliau !"
"Maxwell doverie" ucap cathy sembari menyerahkan note kecil pada kiara.
"Terima kasih"
Sekali lagi kiara mematut dirinya di depan cermin dia ingin terlihat pantas ketika menemui seseorang yang menginginkan bantuannya. apalagi dia bergerak di bidang kuliner sehingga penampilannya yang bersih dan rapih akan membuat image pada masakan yang di buatnya.
Ruang kerja bernuansa coklat kayu dan beraroma citrus terkesan sangat manly dan dingin di mata kiara. begitu dirinya tiba di perusahaan ini beberapa menit yang lalu petugas keamanan membawanya ke lantai ini dan bertemu cathy. kemudian cathy memintanya untuk menunggu di dalam ruangan atasannya sementara dia ingin menyiapkan sesuatu untuk di hidangkan pada kiara.
Tak lama kemudian pintu itu terbuka, kiara yang tadi sedang memainkan ponselnya mendongakkan kepalanya melihat ke arah pintu tersebut.
Betapa terkejutnya kiara sontak tubuhnya berdiri kaku, tanpa sadar ponsel di tangannya terjatuh, dan bibirnya terasa kelu tak mampu mengucapkan kata. matanya terus menatap pada sosok laki-laki yang terus menatapnya tajam dengan raut yang sulit kiara tebak. entah apa yang di rasakan laki-laki di hadapannya ini marahkah, bencikah atau kecewa pada dirinya yang meninggalkannya 4 tahun silam.
Arsen menatap tajam kiara yang telah meninggalkannya. ada kemarahan dan kecewa dalam dirinya namun ternyata rasa rindu dan cintanya lebih besar pada kiara. apalagi setelah dia mengetahui kebenarannya dari dokter bayu jika dirinya mempunyai seorang anak laki-laki.
Arsen berjalan mendekat di lihatnya kiara yang tertunduk dengan bahu bergetar.
Entah mengapa tiba-tiba kiara merasa bersalah luar biasa dia melihat arsen yang berjalan mendekatinya, dirinya tak sanggup menatap arsen lebih dekat dia hanya mampu menundukkan kepalanya. sungguh hatinya merasa sakit saat ini kiara hanya mampu menangis mengingat kesalahannya yang meninggalkan suaminya. namun dia merasa itu adalah pilihan terbaiknya.
"Ma..maaf..maaf hiks..hiks..hiks maaf..maaf" kiara hanya mampu mengucapkan kata maaf di sela isakan tangisnya.
Arsen menatap sendu kiara hatinya ikut terenyuh melihat kiara yang terisak. ingin rasanya dia menarik kiara dalam pelukannya namun kemarahan dalam dirinya membuatnya menahan keinginan itu.
"Kenapa menangis ? bukankah kamu begitu bahagia saat ini ?" justru malah kalimat sarkas yang terlontar dari mulut arsen.
Kiara mendongak dan menatap arsen nanar dengan bibir bergetar ingin mengucapkan sesuatu namun lidahnya tak mampu bergerak.
"Lihat dirimu ara ! begitu berubahnya kamu dari penampilan sampai nama panggilan pun seolah ingin menghilangkan jejak tentang kita. bukan begitu ? atau sebegitu bahagianya kamu lari dan hidup bersama pria lain ?" nada sinis dan ketus semakin keluar dari mulut arsen. dan itu semakin membuat kiara terisak.
"Berapa banyak..sebutkan berapa banyak yang laki-laki itu berikan..aku tak perduli dengan hidupmu dan laki-laki itu..tapi aku menginginkan ANAKKU kembali" ucapan arsen yang penuh tekanan dan intimidasi membuatnya terhenyak, bagaimana arsen bisa tahu keberadaan arash anaknya.
"Aku akan mengambilnya darimu ara...ing.."
Plaaakk
"Jangan coba-coba !! nyawaku taruhannya !! dia ANAKKUUU!!!" desis kiara dan berteriak di depan arsen sambil menghapus airmatanya kasar lalu mendorong tubuh arsen kuat untuk menyingkir dari hadapannya dan pergi meninggalkan ruangan itu.
Arsen mengusap pipinya yang terasa panas akibat tamparan keras kiara. senyum tipis itu muncul di sudut bibirnya kemudian dia menelepon seseorang untuk membuat perhitungan.
Sementara cathy yang tiba dengan makanan dan minuman di atas sebuah baki melihat heran ke arah kiara yang tiba-tiba keluar dari ruangan bossnya sambil menangis dan berlalu begitu saja melewatinya.
Ada apa sebenarnya di dalam sana ? mungkinkah bossnya melakukan sesuatu di luar batas ? pikiran cathy mulai menerka-nerka.
"Ibu putri tung.." cathy berusaha menahan kiara yang telah menghilang di balik pintu lift.