Kiara

Kiara
37.



"Aaakkh.." teriak kiara histeris ketika baru menyadari keberadaan arsen di dalam kamar.


"Ka..kakak..kok...a..ada di sini ? ma..mau apa ?" tanya kiara gugup menghentikan gerakan tangannya yang menggosok rambutnya dengan handuk.


Matanya mencari sekeliling hijabnya yang dia taruh asal.dengan terpaksa dia hanya menyampirkan handuk pada kepalanya dan mencengkramnya di bawah dagu.


Arsen merasa gemas dengan tingkah kiara, meski pada awalnya dia cukup terkejut dengan tampilan kiara dengan rambut terurai basah dan hanya menggunakan bathrobe panjang sampai betisnya.arsen mendekati kiara perlahan tanpa ekspresi membuat jantung kiara semakin dag dig dug.


Kiara menatap arsen dengan perasaan campur aduk,karena ini pertama kalinya dia tampil tanpa penutup kepala di hadapan arsen.meski dia tak menghindar tidur dalam satu kamar dan satu ranjang dengan arsen tapi kiara belum pernah memperlihatkan rambutnya pada arsen.


Arsen melepaskan cengkraman kiara di dagu pada handuknya,dengan tatapan yang tidak dapat kiara mengerti.dengan satu kali tarikan handuk itu telah terlepas dan teronggok di lantai kamar.kiara tersentak dan jantungnya kian memompa cepat dengan debaran yang semakin kencang.


Perlahan dan lembut arsen membelai sisi wajah kiara menelusurinya dengan sentuhan jarinya.hingga berakhir di ujung bibir kiara yang sedikit terbuka.


"Apapun yang ada di diri kamu itu halal bagiku dan jangan pernah menyembunyikannya di hadapanku" tegas arsen dengan gerakan bibir dan satu tangannya.


Dada kiara turun naik mengikuti ritme jantungnya yang berdegub semakin tak karuan.tatapannya terkunci pada mata arsen yang menatap lekat padanya.terlebih ketika kepala arsen semakin menunduk dan mendekat ke arah bibir kiara.


Cup


Sentuhan bibir arsen yang awalnya berupa kecupan berubah menjadi sebuah jilatan pada tepi bibir kiara.dan itu membuat arsen semakin penasaran untuk ********** lebih dalam lagi.tangan arsen menarik tengkuk kiara untuk semakin memperdalam lumatannya.


Kaki kiara semakin terasa lemas seolah tak bertulang,otaknya seakan blank untuk merespon semua.ketika di rasa arsen menggigit bibirnya tanpa sengaja dia membuka mulutnya.sehingga memudahkan akses arsen untuk lebih dalam menelusuri mulutnya.


Tangan kiara mendorong arsen di saat napasnya mulai sesak dan akal sehatnya telah kembali,dengan terengah kiara mengatur napasnya kembali normal.dan menatap arsen dengan jengkel.


"Kak arsen..stop ! hah..hah..kakak mau ngapain ke sini ? gimana nanti kalau teman sekamar aku dateng ? terus ini lagi...demen banget sih..bikin orang jantungan" ucap kiara kesal sambil tangannya menahan dada arsen yang sangat dekat dengan tubuhnya.


Benar-benar ajaib,batin kiara saat arsen mengabaikan protesnya.kiara melihat arsen yang berjalan menuju sofa.kiara mengambil handuknya yang tergeletak di lantai karena ulah arsen dan melanjutkan kembali mengeringkan rambutnya.


Tanpa di sadari kiara kulit pahanya yang putih mulus sedikit terekspos ke hadapan arsen.


"Kak..sebenernya kakak tuh mau ngapain ke sini.kan kalau mau ketemu kakak bisa kirim pesan aja sih" lanjut kiara sembari menatap arsen yang sedang sibuk memindah-mindah channel televisi.


"Iihh..malah di cuekin gini..jawab kek,apa kek atau gimana kek..emang enak di cuekin gitu"


Arsen meletakkan remote tv di atas meja dia menghela napas berat.sedari tadi dia menahan untuk tidak menyerang kiara karena benar-benar sulit baginya.seandainya dia tidak dapat menahan dirinya mungkin sudah sedari tadi, ketika dia melihat kiara keluar kamar mandi langsung menyerangnya.


Sepertinya ujiannya masih berlangsung saat kiara sekarang duduk di sampingnya dengan bathrobe yang tersingkap memamerkan paha mulusnya,seolah mengejek arsen untuk membelai.


Dengan helaan napas berat,arsen menoleh menatap kiara tepat pada bola matanya.


"Sungguh kamu mau tahu apa mauku ?" tanya arsen lembut dengan gerakan tangannya dan membelai lembut pipi kiara.


"I..iya.." kiara mengangguk pelan dan merasa suasana menjadi sedikit tegang untuknya.


Arsen tersenyum kecil masih mengelus pipi kiara dan merapihkan rambut kiara ke belakang telinga.


"Aku mau kamu " ucap arsen lalu secepat kilat mendaratkan bibirnya kembali pada bibir kiara yang terasa manis dan lembut.


Dalam pagutan arsen hati kiara berkecamuk mencerna ucapan arsen.dia merasa bingung harus bagaimana,dan bagaimana jika tiba-tiba nisa dan ayesha kembali dan melihat keberadaan arsen di sini,dan yang lebih membuatnya bingung bagaimana cara membalas pagutan arsen yang begitu memabukkan.


Membuat kiara hilang akal karena terbuai dengan ciuman arsen yang lembut.sampai akhirnya kiara menyadari ketika bathrobenya telah turun tersingkap dari lengannya dan di rasakan ciuman arsen yang telah menjamah lehernya.


Mungkin sudah tiba waktu baginya untuk menyerahkan dirinya pada arsen sebagai seorang istri.jika di antara mereka belum tumbuh cinta setidaknya kiara tidaklah menyesal karena memberikan mahkotanya pada seseorang yang berstatus suaminya yang sah di hadapan tuhan.dia hanya berharap semoga pilihan ayahnya adalah sesuatu yang benar dan tepat untuk masa depan hidupnya.