
Akhirnya arsen memutuskan memindahkan kiara ke rumah sakit terbaik di kotanya. arsen meminta dokter terbaik dan fasilitas terbaik untuk kiara.
Sudah 3 hari sejak kepindahannya kiara masih terpejam. bahkan arsen sempat memarahi pihak rumah sakit akan kinerja mereka yang di anggapnya tidak profesional. tapi untungnya desta dapat mencegah keributan itu.
Bahkan sang paman kini turun tangan akibat mulut lemes desta, untuk memastikan hanya dokter terbaik yang merawat kiara. arsen menatap sang istri yang tertidur lelap dengan beberapa alat medis di tubuhnya. dia menggenggam tangan kiara,mencium keningnya dan duduk di samping ranjang kiara.
"Apa yang membuatmu nyaman di sana? seindah itukah mimpimu ? apa yang menarik perhatianmu dariku, ara ? bangun lah ara..! marahi aku..! omeli aku..! hukum aku..! terserah apa aja mau kamu..aku bilang bangun ara..! bangun.." arsen bergumam sambil menggenggam tangan kiara dan menciuminya.
"Jadilah istri yang patuh turuti ucapan suamimu..aku bilang bangun ara..! sshh apa kamu tau kamu membuatku gila..!ku mohon sadarlah ara..aku mohon bangun sayang..please ara !" arsen menyugar rambutnya frustasi.
Seseorang yang melihat arsen dari kaca kecil pintu ruangan, tampak terenyuh melihat betapa frustasinya seorang arsen.
Clek..
Pintu ruangan di buka oleh seseorang dari luar. arsen menoleh dan ia terkejut, wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan bugar yang semalam dia telepon pagi ini hadir di hadapannya.
Arsen menghampiri mama mertuanya sita. dia memeluk hangat, begitupun dengan sita. pedro yang mengantar sita hanya berdiri di depan pintu dia mengangguk hormat saat matanya bersitatap dengan arsen.
"Mama seperti mimpi akhirnya bisa denger suara kamu lagi semalam." ucap sita dalam pelukan arsen lalu dia merenggangkan pelukannya dan menatap arsen lembut.
"Bagaimana keadaanmu ? pedro sudah cerita semuanya..tolong jangan sampai sakit, mama masih butuh kamu untuk menjaga anak mama"
Arsen kembali memeluk sita dengan erat dan penuh penyesalan.
"Maaf..maaf aku lalai menjaga ara ma..maafin aku..aku gagal !" ucap arsen dengan nada penuh penyesalan.
"Ssstt sudahlah..!" sita menepuk lengan atas arsen dan berjalan menjauh menuju sofa.
"Kemarilah ! kamu makan dulu..tadi mama mampir di jalan buat beli ini..pedro cerita beberapa hari ini makan kamu gak teratur bahkan kamu juga kurang tidur" ucap sita sambil mengeluarkan dan menata bekal yang di bawanya di atas meja.
Arsen menghampiri sita dan menempatkan diriya di sofa single.
"Terima kasih"
"Heem..kamu tau sebenernya banyak pertanyaan yang ingin mama tanyakan..bahkan mama ingin sekali marah dan bicara kasar sama kamu. tapi mama masih tunggu niat baik kamu untuk menjelaskannya sendiri tanpa harus menekanmu" ucap sita sambil terus menata makanan yang ternyata cukup banyak.
"Tapi entah jika keanu yang bertanya, maaf, karena mama harus memberitahu keanu tentang ini" lanjut sita menoleh pada arsen.
Arsen tersenyum menanggapi obrolan sita dan mereka mulai memakan makanan yang tersedia itu. begitupun dengan pedro yang di panggil sita untuk ikut makan bersama.
"Issh kamu itu tinggal di indo harus doyan nasi, apalagi nasi uduk ini tuh paling enak lho..cobain yaa !" komentar sita dan menyodorkan nasi favorit kiara.
Dengan cepat arsen menahan tangan sita yang akan menyuapinya. arsen menggeleng pelan dengan mimik wajah yang tak enak hati.
"Cepet bangun ra ! suami kamu susah makannya ini. nanti kalau kamu bangun paksa dia makan nasi ra" ucap sita dengan sedikit kencang seolah bicara santai dengan kiara. arsen menatap sita haru karena wanita ini mampu menyembunyikan kesedihannya.
Clek..
Pintu itu kembali terbuka, pedro yang melihat segera akan beranjak namun di cegah sita.
Pedro pun kembali duduk dan tak lama masuk 2 orang dokter dan satu perawat. arsen mengernyit karena biasanya hanya 1 orang dokter dan 1 orang perawat saja yang datang. arsen menghentikan makannya dan menghampiri mereka. sita dan pedro hanya melihat dari tempat mereka duduk.
"Selamat pagi pak..wah, rupanya sedang sarapan ya..maaf mengganggu pak, karena sudah masuk jam kontrol dokter" sapa ramah perawat pada arsen yang berdiri di samping kiara.
"Silakan ! tapi siapa dia ? bukankah saya sudah bilang tidak ada dokter lain yang boleh menangani istri saya kecuali anda, dan perawatnya hanya anda suster vhia" selidik arsen.
Plaakk..
"Issh anak ini !! lebay banget, maaf dok silakan di lanjut aja " ucap sita yang tiba-tiba berdiri di samping arsen dan menepak lengannya kencang.
Dokter leon tersenyum melihat interaksi ibu dan anak.
"Pak arsen perkenalkan dia dokter bayu" dokter leon memperkenalkan rekan kerjanya.
"Bagaimana sus ?"
"Semua bagus dok..seperti biasa normal dari detak jantung dan tekanan darah oke semua"
"Sepertinya dia masih betah tidur ! terima kasih sus..tolong simpan catatannya di ruangan saya. oh ya pak arsen bisa kita bicara ?"
Pedro yang awalnya hanya menyimak tanpa ingin ikut campur, beranjak mendekati arsen dan memberikan ipadnya pada arsen. di sana arsen membaca semua latar belakang seorang dokter yang kini ada bersamanya lalu dia menyerahkan kembali ipadnya pada pedro.
Arsen mengangguk dan mempersilakan mereka duduk di sofa yang tadi mereka duduki. begitu pula dengan sita yang ikut duduk di sebelah arsen lain halnya dengan pedro dia memilih berdiri di ujung ranjang kiara.
"Lanjutkan dok ! Apa terjadi sesuatu dengan istri ?"
"Baiklah..! Hhhh..sebelumnya maaf mungkin ini bukan kabar baik" dokter leon menghela nafas berat.
"Hasil x-ray ibu kiara menunjukkan adanya infeksi pada dinding rahim dan itu akan membuat kondisinya semakin memburuk terlebih kondisi janin yang juga tidak baik..jika saya memberikan pilihan yang dimana keduanya tidak menguntungkan.."
"Apa maksud dokter ?" sita memotong ucapan dokter.
"Maaf bu..kita terpaksa harus melakukan kuret dan pengangkatan rahim ibu kiara atau pilihan lebih baik kita hanya melakukan kuret untuk meminimal infeksi karena pertumbuhan janin. tapi seandainya ibu kiara sembuh pun, kesempatan dia untuk hamil kemungkinan di bawah 10 persen"
'Apa tidak ada cara lain?" tanya sita yang shock mendengar kondisi kiara.
"Pertumbuhan janin yang sedikit cacat di tambah kondisi ibu kiara yang seperti itu bisa jadi akan membahayakan keduanya. bagaimana pun selama masih ada yang bisa di selamatkan akan kami selamatkan meskipun sekecil apapun kesempatan itu"
Arsen mengusap kasar wajahnya dan meremas rambutnya frustasi.
"Hhhh..!! lakukan yang terbaik untuk istri saya" arsen menjawab dengan berat hati dan helaan nafas yang tercekat. sita menatap arsen di sebelahnya yang begitu frustasi dan putus asa. pilihan sulit yang harus arsen ambil merelakan buah hatinya.
"Tunggu !! aku ibunya..tolong jangan angkat rahim kiara seberapapun kecil harapannya untuk punya anak setidaknya dia masih punya harapan"
Arsen terhenyak untuk sesaat kemudian dia membawa sang mama mertua ke pelukannya. tanpa mereka sadari di saat pembicaraan itu ada pergerakan yang hanya di sadari oleh pedro sendiri.