
"Araa..please !!"mohon seorang laki-laki yang berstatus kakaknya."ngomong kek..apa susahnya sih ngasih tau keberadaan mereka doang"gerutu kiano kesal melihat sikap kiara yang acuh padanya.
Kiara memutar matanya malas menghadapi sikap sang kakak yang sedari tadi merengek layaknya seorang bayi. sudah seminggu ini harinya benar-benar di buat kesal atas ulah sang suami arsen.
Bagaimana tidak,setelah arsen menyuruh lingga menjadi bodyguardnya bahkan sampai harus menempatkan lingga dalam satu ruangan kerja dengannya. namun beruntungnya lingga bisa di ajak kerja sama hingga saat ini tidak ada satupun yang curiga dengan status pekerjaan lingga yang sebenarnya.
Dan hari ini kiara di buat lelah dengan kehadiran sang kakak di kantornya seusai jam kerja. kiara mengacuhkan sang kakak yang terus mengikutinya berjalan, tangannya memegang ponsel mengetikkan pesan untuk lingga agar menjaga jarak agak jauh karena dia tidak ingin sang kakak mengetahui keberadaan lingga yang akan membuat kepalanya pusing dengan banyak pertanyaan dari sang kakak.
"*mas lingga hari ini aku pulang sama kakak aku..kamu bisa pulang duluan "
"tapi non..bagaimana dengan tuan apa sudah tahu jika kakak nona datang menjemput ?".
"iya aku sudah kasih tahu dia..kalau mas lingga takut kak arsen marah mas boleh ikutin aku tapi jaga jarak agak jauh yaa"
"baik non* !"
Kiara meletakkan kembali ponselnya ke dalam tas dan menghela napas lelah ketika di liriknya sang kakak yang sedang merajuk padanya selama perjalanan pulang.
"Araa..!!"
"Assalamualaikum.."kiara membuka pintu rumahnya meskipun dia tahu tidak akan ada yang membalas salamnya namun itu sudah menjadi kebiasaan baginya."gak capek apa bang ngerajuk terus sepanjang jalan..kalah sama kenz..uups"kiara langsung menutup rapat mulutnya dia melempar tasnya ke atas sofa dan melangkah ke dapur untuk mengambil minum tanpa menyadari kehadiran dua sosok yang berada di sana.
"Kenz..apa maksud kamu ? dia anak abang kan ? "tanya kiano penasaran, "ayo dong ra mau sampe kapan kamu tutup mulut kaya gini..abang udah usaha nyari mereka ra..terus abang harus gimana lagi,kiaraa anindya jawab abang"kiano menyugar rambutnya kesal.
Braakk
Kiara meletakan gelasnya dengan keras di atas meja makan dan menatap tajam pada kiano.
"Maaf itu bukan urusan ara !!"
"Ma..bantuin abang dong !"ucap kiano ke arah belakang kiara yang secara refleks membuat kiara memutar kepalanya dan membuatnya terkejut.
"Mama..?! sejak kapan mama ada di situ sama kak arsen ?" ucap kiara dan segera menghampiri sang mama lalu mencium tangannya dan memeluk sang mama erat kemudian menatap arsen dengan senyum dan melakukan hal yang sama pada arsen.
"Sejak dari kalian masuk kami sudah ada di sini..iya kan nak arsen ?"balas sita dan di angguki oleh arsen."sebaiknya kalian duduk dulu bicarakan semua baik-baik"sita menyuruh kedua anaknya untuk duduk.
Kiara menarik kursi dan menuruti perintah sang mama dia meraih gelas kosong bekas minumnya dengan cepat gelas itu terisi kembali,kiara mendongak menatap manis pada sang suami. mengucapkan terima kasih dengan gerakan bibirnya.
"Nak arsen silakan duduk..kamu bisa gabung juga" sita menyilakan arsen namun dengan halus arsen menolak dia memilih berdiri bersandar pada tepi meja pantry memperhatikan dan menyimak pembicaraan mereka.
Pusat perhatian arsen lebih terfokus pada kiara dia bisa melihat sisi lain dari kiara yang menunjukkan emosi dan keras kepalanya, tanpa sadar bibirnya tersungging yang sesekali menyesap kopi yang di genggamnya.
Perdebatan terus berlangsung tampak sita yang memijit keningnya melihat perdebatan kedua anaknya.
"Ara..bisakah kamu mengalah ? mama gak habis pikir kenapa kamu begitu keras kepala biarkan kiano menyelesaikan masalahnya dengan niken" sita menyela di antara perdebatan anaknya.
"Maa.."kiara menatap sang mama tak percaya dengan apa yang di dengarnya"tapi ma..aah kenapa sih malah jadi terkesan aku yang salah..ma masalahnya bukan aku gak mau ngasih tau keberadaan niken tapi aku udah janji sama niken untuk tutup mulut kalau abang nanya tentang dia..mama harusnya ngerti dong posisi aku..kenapa malah aku yang di sudutkan..abang seneng liat aku di marahin,makanya abang minta mama ikut datang ke sini"omel kiara kesal.
"Ra..maksud mama cuma agar masalah ini lebih cepat selesai itu aja..mama gak ada maksud untuk menyudutkan atau menyalahkan ara" sita berusaha menengahi.
Melihat perselisihan yang semakin sengit dan kiara yang terlihat lelah dan hampir menangis arsen menarik kursi di sebelah kiara. dia menggenggam tangan kiara yang ada di atas meja memberikan kekuatan apapun pilihan kiara dia akan mendukungnya.kiara menatap tangannya yang di genggam lalu menoleh pada arsen meminta bantuan dengan isyarat matanya.
"Lakukan yang menurut kamu benar..aku akan selalu ada di samping kamu"
Kiano memperhatikan sikap arsen pada adiknya lebih tepatnya dari pertama dia masuk rumah ini. tanpa di sadari adiknya kiano selalu memperhatikan arsen yang selalu menatap kiara intens yang sesekali tersenyum tipis penuh makna.
"Bang, ara capek bisa kita udahin aja"kiara menghela napas lelah.
"Oke..kalau kamu gak mau kasih tau, abang bakal cari tau sendiri"
"Terserah abang !"
"Abang bakal minta bantuan seseorang dan jika orang itu tidak mau bantu abang maka abang punya cara biar dia mau tidak mau pasti terima tawaran abang" ucap kiano dengan senyum licik melirik sekilas pada arsen dan arsen menyadarinya.
"Baguslah,kenapa gak daritadi aja sih"jawab kiara acuh dan menikmati usapan pada punggungnya.
"Memang kamu mau sewa detektif lagi ?"tanya sita penasaran.
"Gak ma..buang duit doang nyewa mahal sampai hari ini gak ada hasil bahkan keterangan data kenzo lahir di rumah sakit mana aja mereka gak bisa"kiano menyandarkan punggungnya memainkan gelas cangkir yang berada di atas meja.
Kiara sudah menduga om yudis papa niken pasti akan menyembunyikan data-data itu.
"Terus siapa orang yang kamu maksud bisa bantu kamu ?"tanya sita lagi
Kiano tersenyum lebar dengan tatapan licik dia mengarahkan pandangannya pada arsen.
"Arsen !! dia yang bakal bantu aku cari informasi tentang niken "
"APAA !!"ucap kiara dan sita bersamaan.
Arsen menunjuk dirinya dan mengendikkan bahu jika dia tidak paham apa maksud dari perkataan kiano.
"Yah mau gimana lagi,arsen pasti gak mau kalau aku dateng tiap hari dan ganggu kamu terus jadi otomatis dia pasti bakal bantu aku bikin kamu luluh"
"Hahaha kepedean kamu bang..kak arsen gak bakal lakuin itu dan kalau abang masih ngotot ganggu aku, bisa di pastiin kamu gak bakal dapat apa-apa..jadi lupain aja"sarkas kiara.
"Oh ya,kalau gitu aku punya tawaran menarik untuk arsen"
"Lupain kalo itu berupa uang atau materi..kak arsen gak butuh itu karena istrinya bukan perempuan matre"
"Hahahaa..aku tahu istrinya gak gila harta ada hal lain yang aku tawarkan dan itu rahasia"
"Terserah abang yang pasti info yang abang dapet bukan dari mulut aku" ucap kiara menyesap minumnya dan berdiri"aku mau mandi dulu..geraahh" kiara memundurkan kursinya dan melangkah meninggalkan ruangan itu namun sebelum itu kiara berbalik menatap arsen.
"Kak arsen..tolong ambil keuntungan sebanyak mungkin dari abang jangan pake perasaan dalam kesepakatan" ucap kiara lantang pada arsen dengan bahasa isyaratnya.
Arsen tersenyum lebar dan mengangguk dengan tingkah istrinya dan sita hanya menggelengkan kepalanya.
"Issh..dasar adik durhaka !"teriak kiano pada kiara yang sudah menaiki anak tangga.
Kiara mengabaikan teriakan kiano dirinya sudah terlalu lelah melayani kakaknya yang rese dan kini saatnya untuk dia merilekskan diri di dalam bathup dengan air hangat.