
"Kia,nanti mau makan apa ?"nisa menggeser kursi mendekati kiara yang tengah sibuk menginput beberapa file pada layar komputernya.
"Gak tau mbak kerjaan aku masih banyak juga,pengen makan bakso sih sebenernya tapi takut mual lagi"balas kiara tanpa berpaling dari layar dan jari yang lincah bermain di atas keyboard.
"Iya sih..tapi kamu udah periksa belum yah minimal tespack gitu.emang kamu gak penasaran sama kondisi kamu sendiri.siapa tau yang di bilang genta itu benar ki"
"Nantilah mbak,aku lupa terus mau beli alatnya ke apotik" jawab kiara yang mengelak atas pertanyaan nisa.
Bukan bermaksud ingin menyembunyikan dia hanya ingin mengikuti nasihat dari para tetua di keluarganya,saat kumpul keluarga besar mereka selalu bilang jika ada yang hamil di bawah usia 4bulan istilah pamali gembar gembor dulu menjadi tradisi di keluarga dari pihak sang ayah.
Dan saat ini dirinya hanya menunggu waktu yang tepat untuk memberitahu para sahabatnya bukan bermaksud menyembunyikannya.usia kehamilannya saat ini memasuki 13 minggu yang artinya 3bulan lebih hanya tinggal satu bulan lagi dia merahasiakannya dari para sahabatnya sekaligus selamatan si calon bayi dan rumah baru.
"Sorry ganggu nih..kia kamu di suruh menghadap ke kantor big boss sekarang. tadi mbak winda telepon tuh"seorang perempuan yang mereka kenal bernama yuni sekretaris pak heru menyela pembicaraan mereka dengan ramah.
Kiara menghentikan ketikannya pada keyboard dan menatap yuni dengan tatapan bingung begitu juga dengan nisa.
"Ada apa ya mbak yun ? kok tiba-tiba boss besar manggil "tanya kiara dan hanya di balas dengan senyuman tipis serta bahu yang terangkat.
"Ya udah sana cepat,siapa tau kamu di promosiin naek jabatan kia..iya kan mbak yun"
"Bisa jadi juga sih.selamat ya"
"Apaan sih..belum tentu benar mbak yun udah kasih selamat aja..ini aku kenapa jadi deg-degan ya"ucap kiara sambil berdiri dari tempat duduknya.
Nisa dan yuni hanya tersenyum melihat reaksi kiara. di ujung ruangan meja tempatnya lingga melihat kiara yang berdiri dia pun dengan sigap berdiri.namun sebelum sempat dia melangkah sebuah notif masuk dari kiara yang memberitahu jika dia hanya ingin menemui desta dan segera lingga mengurungkan maksudnya.
Sepanjang perjalanan menyusuri koridor dan dalam lift pikiran kiara berkecamuk mengapa desta memanggilnya atau mungkin ada hubungannya dengan arsen.
"Gawat jangan-jangan kak arsen nemuin desta nyuruh mecat aku..aish awas aja kalau sampe beneran aku di pecat"gumam kiara sepanjang jalan menuju ruang pimpinan.
Kiara melihat jam di tangannya pukul 11.18 sebentar lagi jam makan siang dan mungkin dia akan melewati jam makan siangnya kali ini.dari tempatnya berjalan kiara melihat winda tengah fokus dengan dua komputer sekaligus.
Perlahan kiara mendekati winda yang tidak menyadari kedatangannya.kiara mengetuk sisi meja winda untuk mencari perhatian.
"Eh sorry..kiara ya..langsung masuk aja deh..gak apa-apa udah di tunggu"ucap winda ramah.
"Beneran mbak ?!"
"Hemm"
Kiara mengetuk pintu ruangan desta namun tidak ada sahutan dengan isyarat tangan kiara melihat winda menyuruhnya langsung masuk.
Perlahan kiara membuka pintu ruangan itu tampak kosong.pelan-pelan kiara memasuki ruangan lebih dalam dan dia terkejut melihat seorang laki-laki yang tertidur di sofa dengan posisi miring setengah meringkuk membelakanginya.
Dengan segera kiara berbalik dan berlari keluar.dia menghampiri winda kembali.
"Mbak maksudnya apa ini..kenapa bapak destanya gak ada terus ada laki-laki yang tidur di ruangan pak desta saya di suruh tunggu di dalam gitu"tanya kiara bingung.
"Gak tau juga pak desta tadi titip pesan seperti itu..mungkin tamunya pak desta yang mau ketemu sama kamu kali"windapun sama bingungnya dengan kiara.
"Terus gimana mbak..saya balik lagi aja ke ruangan saya deh"
"Eh jangan..kamu temuin dulu ini perintah dari pak desta lho"
"Tapi..ah kalau gitu mbak temenin aku yaa..jadi kalau ada apa-apa mbak juga ikutan"
"Kan mbak yang nyuruh aku masuk..hehehe temenin ya mbak please"
Akhirnya kiara menarik winda untuk masuk bersamanya.mereka saling tatap ketika melihat laki-laki yang tertidur membelakangi mereka.
"Kenapa posisinya kaya gitu tangannya di atas kepala jadi gak keliatan mukanya"bisik kiara pada winda.
"Udah kamu bangunin gih"
"Gak enak mbak"
"Terus mau sampe kapan kamu di sini aku udah laper nih..aku tinggalin kamu di sini sendiri mau ?"
"Janganlah mbak..iya ini aku coba bangunin"
Kiara mencoba membangunkan orang tersebut menggunakan handphonenya untuk menggoyang badan orang itu.dan akhirnya orang itu menggeliat dan berbalik dengan mata masih terpejam.winda yang melihat itu menghela napasnya berbeda dengan kiara yang terkejut.
Dan kiarapun membiarkan winda pergi setelah dia mengetahui laki-laki itu.kiara mengambil tempat di seberang arsen dia duduk memandangi suaminya yang tertidur lelap sambil menunggu arsen bangun kiara memesan makanan untuk makan siang,dan tidak lupa mengabari nisa juga lingga jika dirinya mungkin masih lama di tempat ini.
Suara alarm terdengar dari saku celana arsen.mata itu perlahan terbuka mengambil handphonenya dan mematikan alarmnya lalu menguap dan mengusap wajahnya kasar.ketika arsen menoleh dia tersentak melihat keberadaan kiara dan melihat yang di lakukannya.
Kiara tersenyum melihat ulah suaminya yang bangun tidur.dan dia juga tahu arsen terkejut dengan keberadaanya.
Arsen bangun dari rebahnya dan menyandarkan punggungnya pada sofa.dia menepuk sisi sebelahnya meminta kiara pindah.kiara pun menurutinya,dengan posesif arsen mendekap kiara menyurukkan kepalanya di leher kiara yang berbalut hijab.
"Kamu sudah makan ? apa dia juga baik-baik saja"arsen menggerakkan tangannya dan kiara memperhatikan gerakan tangan arsen.
Kiara mengelus rambut arsen lembut sesekali membelai sisi wajah arsen.
"Belum aku nunggu kakak bangun dan hari ini dia baik gak nakal"
Mendengar jawaban kiara yang menunggunya untuk makan siang membuat arsen merasa bersalah.
"Maaf..kalau gitu kita makan siang sekarang" arsen berdiri mengajak kiara untuk makan siang.
"Mau kemana aku udah pesen kok..tadaa nih dia makan siang kita..jangan takut buat kakak gak ada nasinya aku beliin italian food nih"kiara menunjukkan dua kotak makan dari restoran berbeda.
Arsen tersenyum kecil dan menepuk kepala kiara lembut lalu duduk kembali.mereka menikmati makan siang dengan nyaman begitupun kiara tanpa rasa mual seperti biasanya.makanan merekapun telah habis kiara juga sudah membereskan sisa bungkusnya kini saatnya dia kembali ke ruangan.
Kiara berdiri dan berpamitan pada arsen untuk kembali ke pekerjaannya.namun arsen menariknya hingga duduk di atas pangkuan arsen.
"Aku mau kamu tetap di sini" ucap arsen membelai pipi kiara.
"Tapi kak.."belum selesai kiara bicara arsen sudah menyerangnya dia mencium bibir kiara lembut dan sedikit **********.kiara yang awalnya terkejut dengan serangan arsen mulai menikmati dan memejamkan matanya.
Keduanya yang terbawa suasana ke dalam ciuman intim itu hingga tidak menyadari kedatangan seseorang yang melihat aksi mereka.
"Woii gila lo berdua mesum di kantor gue"ucap desta yang baru saja kembali dari makan siangnya.
Tubuh kiara menegang di atas pangkuan arsen ketika mendengar suara yang dia kenal dia tidak sanggup berdiri untuk menatap orang itu.kiara membenamkan wajahnya di ceruk leher malu dia terlalu pada desta selain sebagai atasan juga sebagai makhluk yang telah ketahuan berbuat asusila di kantor meski dengan pasangan yang sah.
Arsen merasa geram dengan sikap desta yang masuk seenaknya dan membuat kiara malu setengah mati.dengan sebelah tangannya arsen mencopot dan melemparkan sepatu pada desta menyuruhnya untuk keluar.desta yang mendapat lemparan sepatu mengerti dengan tatapan arsen menyuruhnya pergi.desta keluar ruangan dan di sambut winda dengan tatapan bingung.
"Jangan nanya..!bukan kamu aja yang bingung..sebenernya yang jadi boss itu gue atau dia kok malah gue yang di usir kaya tamu"gerutu desta menggaruk kepalanya yang tidak gatal di depan meja sekretarisnya.dan winda hanya tersenyum geli melihat tingkah bossnya.