Kiara

Kiara
81



Hembusan angin yang terasa dingin menyeruak masuk dari pintu balkon yang terbuka. meski matahari bersinar namun tak mampu memberikan kehangatan, memaksa tubuh yang berada di dalam selimut itu menggeliat semakin menarik dan meringkuk lebih dalam.


Pergerakan orang yang berada di bawah selimut itu menjadi sebuah tontonan yang menarik bagi si pelaku yang membuka pintu balkon tersebut. senyumnya semakin mengembang tatkala di rasa pergerakan itu semakin liar yang menarik semua bahan untuk menutupi dirinya.


Lesakkan di sisi ranjang di rasakan sang pemilik tubuh yang berada di dalam selimut. matanya masih enggan terbuka dan dia terus bergerak mencari kenyamanan dan kehangatan dalam tidurnya.


"Sayang, tolong tutup pintunya nak bunda kedinginan ini" ucapnya dari balik selimut yang menutupi seluruh tubuhnya setelah dia merasakan sisi ranjangnya bergerak oleh seseorang.


"Mau sampai kapan kamu tidur sayang?"


Dengan cepat kiara menyibak selimutnya menyembulkan kepalanya. matanya melirik ke sebelah kanan pada seseorang yang tadi bicara. lalu pandangannya memutar ke seluruh ruangan. ternyata hanya ada dirinya dan arsen di ruangan itu. kiara menghela napas lagi-lagi dengan seenaknya arsen memasuki rumahnya.


Kiara menghentakkan selimutnya hingga terjatuh ke lantai lalu mendudukkan tubuhnya menghadap arsen. dia menatap arsen jengkel.


"Kakak...? kok bisa ada di sini ?!" tanya kiara sambil berusaha turun dari ranjang.


"Kak arsen tuh kebiasaan selalu bikin orang panik tau gak..aku kan udah bilang tolong kabarin dulu sebelum kemari. bukan apa-apa, arash butuh waktu untuk menerima keberadaan orang lain.." cerocos kiara yang berjalan menutup pintu balkon dan mencari keberadaan bergonya.


"Orang lain..? apa aku orang lain..?"


"Uups.." kiara menoleh dan meringis menyadari kesalahannya dalam berucap.


"Mak..maksud aku bukan begitu kak..tolong pahami, aku hanya minta kita lakukan secara pelan-pelan biarkan arash merasa nyaman dulu dengan kehadiran kakak sambil kita beri pengertian tentang kebenaran siapa ayahnya..kakak ngerti kan maksudku ?!"


"Tidak..aku tidak akan pernah mau menunggu dan tidak akan pernah memberikan posisiku pada orang lain walau itu hanya satu detik. aku akan lakukan dengan caraku !" arsen berdiri menghampiri dan menatap tegas pada kiara sambil menyampirkan helaian rambut kiara ke belakang telinga.


Kiara melihat keyakinan dalam tatapan arsen lalu dia kembali menghela napas, tangannya terulur membelai pipi arsen dengan senyum manisnya.


"Baiklah ! lakukan yang kakak mau selama itu membuat arash nyaman dan senang aku ikut cara kakak " tangan kiara yang membelai pipi arsen turun menyusuri dada dan kini menggenggam telapak tangan arsen kuat dengan senyum yang terpatri di wajahnya.


Arsen mengumpat dalam hati dengan hal kecil yang di lakukan kiara. arsen melepaskan tangannya dari genggaman kiara dia mengusap wajahnya untuk mengenyahkan pikiran kotor dalam kepalanya. entah sejak kapan arsen merasa semenjak bertemu kembali kiara banyak berubah.


Perubahan kiara yang lebih terkesan ekspresif terhadap sekitar menjadi perhatiannya. di banding dulu dia hanya melihat kiara yang kaku dan sedikit bicara. mungkin karena dulu dirinya bisu sehingga kiara berusaha untuk menyesuai dengan keadaannya. atau mungkin lingkunganlah yang membuat kiara berubah.


"Aku mau mandi dulu kalo gitu..takut arash keburu bangun" kiara beranjak dari hadapan arsen namun dengan sigap arsen menahan lengan kiara.


Kiara menatap arsen bingung dia berpikir mungkinkah masih ada hal yang ingin di sampaikan oleh arsen. kiara melihat tatapan arsen padanya berubah seolah sedang menginginkan sesuatu. seketika tubuhnya menegang saat arsen menariknya masuk dalam pelukannya.


Kiara menahan wajah arsen yang semakin mendekat. mungkin jika dulu dia akan gugup ketika arsen melakukan ini tapi saat ini dia sudah lebih bisa menguasai dirinya mungkin itu semua juga berkat terapi yang di berikan lucas untuk mengatasi jika terjadi trauma padanya.


"Aku tahu.." kali ini biarkan dirinya yang berinisiatif lebih dulu. kiara mengecup bibir arsen lembut namun entah mengapa yang awalnya hanya ingin memberi sebuah kecupan menjadi ******* kecil dan mendapat balasan ******* liar yang menuntut.


Arsen terkejut, kiara memulai lebih dulu menciumnya dan hal ini tidak akan dia lewatkan begitu saja. arsen membalas ciuman kiara lebih menuntut bahkan lidah mereka saling membelit di dalam mulut. tangan kiara yang mengalung di tengkuknya memudahkan arsen lebih leluasa menikmati rasa manis itu.


Tanpa di sadarinya suara ******* meluncur dari bibir kiara ketika arsen mencium dan menjilat leher jenjangnya sampai tulang selangka. bahkan dia merasakan remasan lembut pada dadanya yang masih terbalut piyama.


Hal ini membuat arsen gila dia menginginkan lebih dari ini. dia membawa kiara pada tepi ranjang dalam ciuman panasnya. dia mendudukkan kiara di atas pangkuannya dengan kedua sisi lutut kiara bertumpu pada tepi ranjang.


Dan pada akhirnya keduanya meluapkan seluruh perasaan yang tertahan dalam aktifitas panas mereka. ******* yang tercipta dari keduanya mencerminkan betapa liar kegiatan mereka. bahkan kali ini sisi liar kiara anindya putri mampu membuat seorang arsenio juan mavros tersenyum puas.


Tak henti-hentinya arsen mengecupi puncak kepala kiara setelah sesi panas mereka. kiara semakin merapatkan tubuhnya pada dada bidang arsen yang telanjang. mereka bergelung di bawah selimut untuk beristirahat karena kelelahan setelah olah raga pagi yang panas ini.


Kiara mendongak membelai rahang arsen dan menatap warna mata arsen yang menjadi warna kesukaannya.


"Kak..aku senang kakak bisa bicara lagi dan aku bahagia kakak gak lupain aku..maaf aku baru bisa bilang sekarang..dan maaf untuk waktu yang terlewat 4 tahun kemarin" kiara mengecup lembut bibir arsen lama dan melepas dengan senyum yang menghias di wajah cantiknya.


Arsen menarik kiara masuk ke dalam pelukannya lebih erat.


"Aku pikir kamu sudah melupakan aku.." arsen tertawa kecil


"Bahkan ketika kamu melihat aku pun seolah seperti melihat hantu. tidak seantusias kamu melihat lingga" lanjutnya dengan sedikit cemberut.


"Tap.."


"Ssst..let me finish..dan setelah mendengar ceritamu aku mulai mengerti dan paham akan ketakutan dan rasa khawatirmu tentang masa laluku dan kehidupan ku. tapi kamu harus tahu ara..tidak ada seorangpun yang bisa memaksa ku untuk melepas kalian dan mengambil kalian dari aku selama aku masih hidup...aku pertahankan dan menjaga kalian dengan nyawa ku !" ucap arsen tegas menatap dalam mata kiara lalu mencium mesra tanpa rasa menuntut.


Kiara semakin mengeratkan pelukannya dalam dekapan arsen. merasakan kehangatan yang di berikan arsen padanya. pillow talk yang di lakukannya setelah sesi bercinta membuat hatinya lega. namun sialnya mengapa tiba-tiba terlintas di pikirannya sosok arkhan yang membuatnya kembali resah. dia merasa kini menjadi istri yang berselingkuh karena memikirkan pria lain. kiara tersenyum kecut mengenyahkan pikiran tentang sosok arkhan yang terlintas tanpa permisi itu. kiara bergerak menyamankan posisinya dalam pelukan arsen.


"Ara please berhenti bergerak..kamu membangunkan yang di bawah sana"


"Haaah..! Iihh mesum" kiara memukul dada arsen pelan setelah dia merasa ada sesuatu yang menonjol mengenai bawah perutnya.


Arsen tertawa lepas melihat reaksi kiara terhadap dirinya padahal sebelum ini siapa coba yang memulai lebih dulu.