
Cahaya matahari yang menerobos masuk dan udara sejuk pagi hari membuat seseorang menggeliat di balik selimutnya.kiara menaikan selimutnya menutupi kepala untuk menghalau sinar matahari yang masuk dan membuatnya nyaman di balik selimut.
Tiba-tiba kiara teringat akan keberadaan nisa dan ayesha,segera dia menyibak selimutnya. Kiara terduduk dengan tumpukan bantal di belakangnya,matanya menatap lurus pada pintu balkon yang terbuka.
Sebuah pemandangan yang tidak biasa tepat di hadapannya mengalihkan pikirannya tentang nisa dan ayesha.tampak olehnya arsen yang sedang menikmati sejuknya pagi di balkon yang terbuka dengan secangkir kopi.kilasan kejadian semalam terbayang di ingatannya melihat sosok arsen yang berdiri memunggunginya tanpa mengenakan kaos.
Semburat merah dan perasaan malu di rasakan kiara ketika tiba-tiba arsen berbalik menatapnya.dengan cepat kiara memalingkan wajahnya,bersikap seolah biasa saja.jantung kiara berdetak cepat saat di rasakannya arsen melangkah mendekatinya.
Cuuupp
Kecupan ringan di rasakan kiara mendarat pada puncak kepalanya.kiara mendongak menatap arsen yang tersenyum tipis tanpa mengatakan apa-apa,lalu menuju kamar mandi menghilang di balik pintu.
"Aaaaakkkh..manis banget sih" batin kiara sembari menggigit ujung bantal dengan gemas.
Seeerrr...
Suara siraman air shower yang membasahi tubuh kekar itu tak mampu mengurangi kegundahan hatinya, semenjak dia menerima berita mengenai pujaan hatinya.beberapa kali arkhan membasuh wajahnya berharap semua yang dia dengar dari arlan itu hanya kebohongan.
Bahkan dua hari ini dirinya mendatangi rumah kiara yang ternyata kosong.dia sengaja menunggu sampai dini hari jika sewaktu-waktu kiara datang.namun lagi-lagi usahanya nihil.
"Itu tidak mungkin.."
"Kiara hanya milikku.."
"Milikku...aarrggh..kenapa harus arsen.."
Arkhan memukul dinding kamar mandi meluapkan rasa frustasi dan penasarnnya.dia mematikan shower dan mengusap wajahnya dengan kasar,menarik handuk dan memakainya dengan cepat.
Dia memutuskan untuk menyusul arlan keluar kota dan berharap mendapatkan kebenaran dari semua ini.
Hidangan sarapan pagi yang terlambat telah tersaji rapih begitu kiara keluar dari kamar mandi setelah arsen selesai.kiara mengernyitkan dahinya melihat arsen yang telah berganti pakaian,seingatnya ketika arsen datang semalam dia tidak membawa apa-apa.
Kiara mendekati arsen yang telah duduk di sofa dengan secangkir teh di tangannya.dia duduk di sebelah arsen dengan canggung karena memang di ruangan ini hanya ada satu sofa panjang.
"Pa..pagi.." sapa kiara kikuk dan mencoba bersikap tenang.
Arsen menoleh tersenyum dan mengangkat sedikit cangkirnya sebagai balasan sapa pada kiara.dia menepuk sisinya yang masih berjarak agar kiara lebih mendekat.
"I..iya kak.." kiara menerima suapan arsen dengan canggung dan rasa malu yang tiba-tiba menjalar membuat wajahnya kembali merah mengingat kejadian semalam.
Lagi-lagi arsen di buat gemas dengan tingkah kiara.dia menarik kiara dalam pelukannya dan mengayunkan badannya saking gemasnya.
"What the...!!" teriak ayesha dan nisa yang tiba-tiba masuk dan terkejut melihat kiara dalam pelukan seorang laki-laki.
Tubuh kiara menegang kaku dalam pelukan arsen ketika mendengar teriakan dua sahabatnya yang tiba-tiba masuk.dia benar-benar melupakan keberadaan mereka,pikirannya telah di buat arsen tak sadar.dengan perlahan dia melepaskan diri dari dekapan arsen dan berbalik menghadap kedua sahabatnya dengan senyum yang di paksakan.
"Ha..haii..ka..kalian kok udah datang...mak..maksud aku kapan kalian datang..?" ucap kiara salah tingkah sambil menyikut lengan arsen yang berada di sebelahnya.
"Jadi sebenarnya kamu gak mengharap kami datang ?" nisa justru malah balik bertanya dan ayesha menatap datar pada kiara dan arsen.
"Bukan gitu mbak..aku bisa jelasin.."
"Jelasin apa ? kemarin kamu bilang dia cuma sepupu jauh kamu tapi sekarang..mana ada sepupu pelukan kaya gitu..bener gak yes ?" sarkas nisa dan meminta pembenaran pada ayesha.
"Iya mbak..aku juga gak nyangka sama kamu kia..apa sih yang kamu sembunyiin ? masalahnya ini dalam kamar dengan posisi kalian pelukan beda halnya jika kamu kedapatan cuma makan bareng aja" sindir ayesha sambil melirik makanana yang ada di meja.
"Denger ya kia..mbak gak akan ikut campur dan gak mau tahu juga urusan kamu, selama kamu bisa menjaga sikap kamu tapi sekarang mbak kecewa.kamu, yang mbak kenal bisa menjaga diri ternyata bisa menerima laki-laki masuk ke dalam kamar" ucap nisa dengan suara yang mulai terlihat kecewa.
Braakk
Arsen menggebrak meja sedikit keras untuk menarik perhatian para wanita yang sedang berdebat.dan ternyata itu berhasil,mereka seketika terdiam menatap arsen.kiara yang melihat perubahan wajah arsen langsung mengerti jika pria itu sudah mulai di liputi emosi.
Kiara menatap kedua sahabatnya yang tampak terkejut kemudian beralih menggenggam lengan arsen untuk menenangkannya.dan semua itu tak luput dari pandangan ayesha dan nisa.
"Kak arsen..maaf,bisa kakak kasih aku kesempatan buat ngejelasin ke mereka ? pleasee.." bujuk kiara menatap mata arsen dengan memohon.
Arsen melihat nisa dan ayesha dengan tatapan yang tidak dapat di pahami.lalu mengelus pipi kiara dan mengangguk kecil.
"Baiklah.." dengan gerakan bibir dan helaan napas berat arsen berdiri dan mengecup puncak kepala kiara.dia berjalan melewati nisa dan ayesha tanpa menoleh lagi sampai akhirnya menghilang setelah pintu tertutup kembali.
"Haaah..baiklah..dari bagian mana kalian mau tahu ceritanya ?" tanya kiara dengan hembusan napas lelah menatap kedua sahabatnya yang hanya berdiri melihat interaksi dirinya dengan arsen.
Dan kiara hanya bisa pasrah mungkin sudah waktunya mereka tahu mengenai statusnya.sepertinya ini akan menjadi sebuah dongeng di siang hari, yang beruntungnya kali ini makanan sudah tersaji untuk menemaninya berdongeng.