Kiara

Kiara
62.



Plaak..


Dengan kemarahan yang memuncak pria paruh baya itu menampar sang anak yang duduk di kursi rodanya.


"Papa sudah peringatkan kamu. jangan buat masalah lagi !" hadi sastra wijaya memijit pelipisnya yang terasa pening.


"Belasan tahun lalu papa sudah bantu kamu untuk bersembunyi dari kejaran mavros. bahkan papa terpaksa harus melupakan dan menerima keadaan kamu sekarang. hanya untuk apa ?..hanya demi menyelesaikan dendam kalian" hadi berkali-kali menghela napas menatap sang anak yang hanya tertunduk.


"Papa tau kamu marah dengan keadaanmu, tapi bisakah kamu memaafkan dan membiarkannya berlalu begitu saja" ucap hadi lembut pada sang anak.


Kepala arlan terangkat menatap sang ayah tajam tak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Maksud papa aku harus diam aja kehilangan kaki aku ! bertahun-tahun aku cuma duduk, bahkan aku tidak bisa melakukan tugas seorang suami karena kelumpuhan saraf aku. setiap malam aku harus mimpi buruk meski terapi selama bertahun-tahun aku jalani, tidak mampu menghilangkan ingatan kejadian itu. yang lebih menyakitkan princess dan queen harus hadir dengan cara medis. dan sekarang papa bilang harus lupakan dan biarkan ! Tidaak !! papa juga harus ingat yang jadi korban di sini bukan cuma aku tapi terra..terra juga korban dari seorang mavros !"


Plaakk..!


"Anak bodoh !! kamu pikir aku tidak tahu awal dari masalah ini. itu semua karena ulah kebodohan dan kesombonganmu. andai aku tidak berpikir kamu darah dagingku mungkin sudah sejak lama aku menembak mati orang sepertimu."


"Dan papa akan menyesalinya nanti !" sarkas arlan.


"Penyesalan terbesarku adalah terlalu memanjakanmu. hal yang bisa aku lakukan sebagai seorang ayah saat ini aku memintamu menuruti dan patuh pada ucapanku..pergilah malam ini juga !! tinggalkan negara ini segera !! biar papa yang menyelesaikan masalahmu seperti belasan tahun lalu. tugasmu sekarang jaga keluargamu dengan baik" ucap hadi menepuk pundak sang anak.


"Hiduplah dengan baik dan jangan kembali lagi ke negara ini !!" ucap hadi sambil melangkah keluar ruangan meninggalkan arlan yang tampak mengepalkan tangannya erat.


Hadi menutup pintu lalu menghela napas sekali lagi. dia memijit dan menekan ujung hidung dekat matanya. entah, apa yang akan terjadi dengan anak dan perusahaannya kali ini. dia mengambil kacamatanya dari dalam saku kemejanya lalu memakainya. seorang asisten kepercayaannya datang menghampirinya, dan memberikan sebuah amplop coklat ke tangannya.


"Selamat pagi tuan hadi"


"Pagi, rom ! bagaimana hasil penyelidikanmu ? sudah kau temukan siapa istri dari arsenio itu ?"


"Sudah tuan, semua informasinya ada di dalam sana " jawab romi menunjuk amplop itu dengan ibu jarinya.


"Hmm baiklah, kalau begitu kita berangkat ke kantor sekarang"


Derap langkah menggema di selasar rumah sakit menuju ruang tindakan. arsen dan sita tampak ikut mengiringi di belakangnya. namun sebuah teriakan yang membuat brangkar itu terhenti sejenak.


"Tungguu..!!"


Arsen dan sita menoleh kearah sumber suara, mereka sangat terkejut ternyata beberapa orang yang mereka kenal berjalan mendekati keduanya.


"Kiano !" ucap sita yang berbarengan dengan arsen menyebut kedua orang tuanya.


"Mom ! Dad !" ucap arsen tak percaya bagaimana orangtuanya bisa berada di sini padahal tidak ada seorangpun yang memberitahu mereka.


Buugghh


Alih-alih mendapat pelukan arsen justru malah menerima sebuah bogem mentah pada perutnya dari sang ayah. meski sang ayah telah berumur namun fisiknya masih terlihat bugar dan gagah tak heran jika pukulannya masih terasa sakit dan membuat arsen sedikit meringis.


Sita terperangah menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya, ketika sahabat suaminya yang tiba-tiba memukul keras perut anak menantunya.


"Stop it, luke !! lihat..! anakku harus segera masuk ruang tindakan. pukul nanti setelah ara selesai di tangani. helen, tolong bilang suamimu jangan gi-la" ucap sita yang berdiri di antara ayah dan anak yang keduanya sama-sama mengeluarkan tatapan lasernya. berbeda dengan helen yang menanggapi acuh interaksi suami dan anaknya.


"Sudahlah sita ! biarkan saja..!.. maaf mengganggu, cepat segera lakukan yang terbaik untuknya ! tolong " ucap helen pada sita yang terlihat kesal dengan tingkah suaminya, lalu menatap pada dokter dan perawat yang tampak bingung sambil tersenyum ramah.


Ruang rawat inap vvip itu tampak ramai dengan adanya beberapa orang dewasa di sana. beberapa jam lalu akhirnya kiara keluar dari ruang tindakan dan di pindahkan ke ruang perawatan. dokter mengatakan kondisi kiara baik-baik saja dan akan terlihat setelah satu jam saat kiara siuman.


Getar ponsel yang di letakkan di atas meja kafetaria menarik perhatian arsen. dia melihat nama sita tertera di sana, dengan segera arsen mengangkat panggilan tersebut. dan tak lama raut lega juga bahagia terpancar di wajahnya lalu dia segera menghabiskan kopinya dan bergegas pergi meninggalkan kafetaria itu.


Kiara membuka matanya perlahan menyesuaikan cahaya lampu dalam ruang. dia melihat ada banyak orang di sana, bahkan sang mama dan kakaknya juga ada di sana. kiara mengenali satu persatu dari mereka tapi kiara tak mengenali dua orang paruh baya yang tampak asing baginya. laki-laki dan perempuan bule itu tampak elegan dan cantik meski sudah berumur.


"Ara..syukurlah nak..!" sita menghampiri kiara dan memeluk kiara dengan erat.


"Ma..mamaa..hiks..hiks" kiara balas memeluk sita erat dan menangis dalam pelukan sita.


"Ssstt..udah ra..malu banyak orang, masa nangis sih..anak mama yang cantik harus kuat ya"


"Ara..ka..kangen mama..hiks..hiks"


"Iya..iya..cup..cup.." sita menepuk punggung kiara memberi ketenangan.


"Lihat ra..mertua kamu datang lho..ada pak handoko juga desta bahkan abang kamu juga di sini buat temenin kamu. jangan nangis lagi dong cantiknya mama..hem" bisik sita lagi dan kiara mengangguk dalam pelukan sita sambil tersedu. dia melepas pelukannya dari sang mama dan menoleh ke depan menatap satu persatu wajah yang berada di sana.


Sita memberikan kesempatan yang lain untuk menghampiri kiara lalu dia menghubungi arsen.


Suara pintu terbuka membuat semua orang menoleh ke arahnya. arsen berjalan cepat ke arah kiara dengan begitu bahagia dan haru. arsen memeluk kiara erat menciumi puncak kepala kiara. arsen menangkup wajah kiara menatap mata kiara penuh kerinduan.


"Terima kasih sudah mau bertahan dan kembali..terima kasih" ucap arsen senang dan kembali menciumi wajah kiara.


Kiara terkejut ketika dia mendengar suara arsen pertama kalinya seharusnya dia bahagia tapi mengapa dia merasa sakit di dadanya. kiara kembali terisak ketika arsen kembali menariknya masuk dalam pelukannya.


Arsen merenggangkan pelukannya setelah kiara sedikit tenang dan membelai pipi kiara, dia tersenyum bahagia dan menatap kiara penuh cinta.


"Aku mencintaimu ara..aku senang kamu kembali" arsen mengecup bibir kiara lembut dan tersenyum.


Kiara menatap mata arsen dengan kesedihan, seharusnya dia bahagia, seharusnya dia senang dengan pernyataan arsen yang mencintainya karena tidak di pungkirinya kiarapun merasakan hal sama. tapi entah apa yang di rasakannya saat ini begitu menyesakkan dadanya.


Kiara melepaskan tangan arsen yang menangkup wajahnya. dia menatap arsen lekat seolah ingin merekam wajah itu dalam ingatannya.


"Ka..mari kita bercerai !" ucap kiara dengan mata berkaca.


Sontak membuat orang yang berada di sana terkejut dengan pernyataan kiara. arsen membeku dan tak percaya dengan apa yang di dengarnya. dia kembali tersenyum dan menarik kiara kembali dalam pelukannya.


"Ka..tolong ceraikan aku" ucap kiara lagi dalam ceruk leher arsen. arsen melepaskan pelukannya dan menatap bola mata kiara yang tergenang air lalu berdiri dan pergi berlalu tanpa mengucapkan kata apapun, mengacuhkan keberadaan semua orang yang menatapnya bingung.


Kiara kembali terisak dan tersedu dan sang mama memberikan kehangatan dalam pelukannya, membuat suasana di ruangan itu menjadi beku dan hening. kiano memilih menyusul arsen keluar, dia merasa sesak melihat adiknya yang menangis tersedu dalam pelukan sang mama.


Kiano harus mencari arsen, dia ingin tahu apa yang terjadi dengan kiara. tidak mungkin kiara meminta cerai jika tidak ada kejadian yang menyakitkan hati adiknya.


Kiano melihat arsen yang duduk melamun di kursi taman rumah sakit. dengan langkah cepat dia menghampiri arsen dan menarik kerah baju arsen.


Buuggh


Tanpa peringatan kiano memukul keras wajah arsen. arsen tersentak dan mencekal tangan kiano yang berada di kerah bajunya. dirinya sudah terpancing emosi karena sejak tadi dirinya sudah berusaha menahannya.


Tatapan tajam dari keduanya jelas sama-sama menuntut penjelasan. merekapun saling menyerang dan membalas hingga membuat kerumunan dan kegaduhan. tapi lagi-lagi kerumunan dan kegaduhan itu berubah menjadi penonton yang tertib seolah mereka sedang menyaksikan acara kick boxing secara live.


"Biarkan saja sampai salah satu dari mereka terkapar !" ucap sang ayah dari salah satu pelaku petarung.


Helen menghela napas menatap jengah kelakuan suami dan adik iparnya handoko. dia memilih kembali ke kamar kiara untuk menemani sita dan kiara.