
Derap langkah sepasang laki-laki dan perempuan di ruang kedatangan bandara menjadi pusat perhatian orang sekitar. dengan tubuh tegap serta kacamata hitam yang bertengger di hidungnya, dan wajah arogan nan tampan serta aura dingin laki-laki itu menjadi magnet perhatian kaum hawa. begitupun dengan tampilan modis dan anggun serta wajah cantiknya sang wanita menjadikan perhatian kaum adam berpusat padanya.
"Kamu sudah hubungi lingga ?!" tanya sosok laki-laki itu yang ternyata arsen pada sekretarisnya cathy.
"Sudah pak ! dia bilang sepuluh menit lagi sampai, agak sedikit macet" jawab cathy dengan senyum ramah yang terkesan genit meski arsen hanya melirik sekilas ke arahnya.
Arsen melihat arloji di pergelangan tangannya sekilas, lalu mengedarkan pandangannya sambil melepas kacamata hitamnya dan menarik koper kecil yang khusus dia bawa menuju coffe shop di area bandara yang di ikuti cathy di belakangnya.
Lima belas menit kemudian arsen melihat seorang pria yang memasuki coffe shop dengan terengah. dengan sebelah alis terangkat arsen memindai penampilan lingga yang berkeringat karena berlari. arsen bergeser memundurkan kursinya lalu berdiri dan mengulurkan tangannya pada lingga. dan di ikuti cathy yg juga berdiri.
"Kunci !!"
"Haaa..!!" lingga terlihat sedikit bingung namun dia segera sadar" ooh..i ini boss..maaf saya terlambat" ucapnya menelan saliva sambil lingga menyerahkan kunci mobilnya.
Arsen merebut kunci itu tanpa ekspresi lalu berjalan meninggalkan lingga dan cathy yang sibuk membenahi koper bawaannya. tak lama langkah arsen terhenti dan tanpa berbalik dia mengucapkan sesuatu yang membuat cathy mematung.
"Kamu antar cathy ke tujuannya..dan setelahnya bawa koper kecil itu ke penthouse, nyawamu taruhannya !"lalu beranjak meninggalkan mereka.
"Siaap boss !" ucap lingga sigap layaknya seorang tentara kemudian dia menghela napas lega dan mendudukan bokongnya di kursi kosong lalu memanggil pelayan untuk memesan ice coffenya.
"Heii..maksud pak arsen apa?" cathy yang tersadar dari kebingungannya menanyakan lagi pada lingga.
"Oh, bisa bahasa indonesia ya.."
Cathy memutar mata malas mendengar celotehan lingga.
"Kenalin nama gue lingga bukan hei.." ucap lingga menaikkan satu tangannya ke arah cathy yang masih berdiri di hadapannya.
"Issh sok akrab lo" cathy menepis tangan lingga dan duduk kembali di kursinya.
Lingga mencebik dan mengibaskan tangannya yang di tepis oleh cathy. lalu dia menyeruput minumannya dengan cepat sampai hampir habis setengahnya.
Cathy memandang sinis pada lingga dan melipat tangannya di depan dada.
"Hei ling-ling..aling..atau siapa nama lo tadi tarling..buruan deh udah siang nih, gue masih banyak kerjaan. gue gak kaya lo, kerja kalo ada telpon doang ke sononya santai" sindir cathy yang melihat lingga malah semakin santai.
"Sok banget..lagaknye udah kaya nyonya aje, nyonya aslinye aje gak kaya lo" gumam lingga yang ternyata masih bisa di dengar oleh cathy.
"Nyonya..!maksud lo apa.."tanya cathy dengan penasaran.
"Apa..?!" lingga malah balik nanya.
"Ish yang lo bilang tadi...nyonya apa ? asal lo tau yaa, pak arsen itu masih single. jadi jangan sok tau lo !"
Ingin rasanya lingga tertawa tapi dia hanya mengacuhkannya saja. lingga menghela napas menatap malas perempuan yang sedang bersamanya.
Benar-benar beda jauh dengan nona kiaranya. lingga mengingat terakhir kali dia bersama kiara yang sedang bertahan dari sekelompok orang yang tiba-tiba datang menyerang. hingga akhirnya dia tersungkur bersimbah darah.
Ketika dirinya sadar dari koma 5 bulan setelah kejadian itu. lingga sangat terkejut ketika mengetahui jika kiara menghilang dari rumah sakit dan yang lebih membuatnya menyesal dia tidak bisa menjaga kiara yang sedang mengandung saat itu. terlebih anaknya tak bisa di selamatkan juga. ada rasa sesak di hatinya, tapi dia bersyukur pedro dan arsen yang tidak memecatnya. mereka malah memberikannya sebuah rumah dan toko untuknya sebagai bentuk rasa terima kasih dan sekarang di kelola sang adik.
"Ehh malah bengong..ayoo berangkat !!" lingga mendengus mengusap ujung hidungnya mendengar ucapan cathy.
"Kemana ?" lingga bertanya sambil berdiri dengan malas.
cathy mengerutkan dahinya melihat tingkah lingga yang seolah menganggapnya angin lalu.
"Penthouse pak arsen" jawab cathy dengan percaya diri.
Lingga menoleh cepat ke arah cathy memastikan jika pendengarannya tidak salah.
"Kenapa..? kaget takut salah denger ya"
"Gak juga, cuma tinggi juga pede lo ye"
"Sotoy lo..lagian siapa lo pengen tau urusan gue..cuma supir tingkahnya selangit"
Rasanya lingga mau menyumpal mulut perempuan satu ini. entah bagaimana bisa bossnya mempekerjakan perempuan ini sebagai sekretaris pribadinya. lingga menggeser bangkunya dan mengambil koper milik arsen lalu meninggalkan cathy yang sedang melihatnya sinis.
Cathy menganga tak percaya melihat kelakuan lingga. bagaimana mungkin dirinya bisa di tinggalkan begitu saja. belum lagi koper miliknya di biarkan juga tidak ikut serta di bawa.
"Laki kok gitu..gak gentle banget,masa ngebiarin perempuan bawa barang sendiri" rutuk cathy dengan menghentakkan kakinya.
Lingga menyetop sebuah taksi dan sang supir membantu mengangkat barang-barang untuk di letakkan di dalam bagasi. cathy merasa heran pada lingga karena tidak menaruh koper itu di bagasi. lingga justru memasuki mobil bersama dengan koper arsen.
"Aduh jangan norak deh..ngapain sih masih di pegangin aje tuh koper..cepetan masukin bagasi "
"Sorry gue masih sayang nyawa, buruan lo masuk"
"Gimana gue mau masuk,koper lo ngabisin tempat tuh"
"Ck..lo bisa duduk di depan kali, lagian pengen banget lo duduk sama gue ye"
"Ih pede gila..amit-amit deh, turun level gue kalo gitu mah"
Perdebatan mereka terus berlangsung hanya dari hal kecil dan remeh. sampai akhirnya lingga mengalah demi ketenangan sang sopir taksi yang sudah beberapa kali menghela napas.
Merekapun tiba di sebuah gedung pencakar langit. mereka memasuki lobi sebuah apartemen mewah atau biasa orang sebut penthouse. lingga menscan ibu jarinya pada tombol lift pribadi bukan lagi tombol angka yang tertera di sana. di sampingnya cathy hanya memperhatikan gerak gerik lingga. karena sejujurnya ini pertama kalinya dia ingin mengetahui tempat tinggal arsen sang boss tampannya.
Lift itu terbuka yang langsung memperlihatkan sebuah living room yang sangat mewah dan elegan dengan chandelier yang menggantung menambah kesan glamour. cathy menatap kagum ruangan itu dia melangkah perlahan melihat sekeliling ruangan dan berdecak kagum.
Lingga tersenyum kecil melihat tingkah konyol dan norak dari sekretaris bossnya ini. dia meletakkan koper kecil arsen di sudut ruangan dekat anak tangga. lingga melihat arsen yang berjalan menuruni tangga hanya menggunakan celana sport panjang dan rambut yang masih basah.
"Gawat si boss keluar cuma pake begituan mana masih pada basah tuh rambut bikin si kucing betina minta di kawin ini mah" batin lingga sambil melirik cathy yang menatap arsen tanpa kedip dengan mulut menganga.
"Ya tuhan semoga nona kiara cepat kembali,jangan sampai perempuan kudis ini punya kesempatan masuk " lingga hanya bisa berharap agar kiara dapat kembali lagi.