
"Sebaiknya untuk saat ini kamu menghilang dulu sweetie, sampai semuanya normal kembali"
"Tapi aku ingin liat wajah arsen yang mengenaskan itu"
"Tunggu saatnya tiba! tidak untuk saat ini, turuti ucapanku sweetie"
"Baiklah..baiklah..terserah kakak saja! jangan lupa telepon aku untuk merayakan kemenangan kali ini"terra berdiri dan segera pergi dari ruangan arlan.
Rencana yang telah mereka rancang sebelumnya berjalan lancar.terra sengaja meninggalkan kiara di sana, dia menunggu di kejauhan sampai anak buah arlan datang membawa kiara pergi setelah itu dia meninggalkan daerah itu dengan santai.
Setelah terra menghilang di balik pintu, arlan melanjutkan pembicaraannya dengan miguel.
"Biarkan 2 hari ini si gila arsen itu menggila..urus secepatnya orang suruhan itu jangan sampai dia menjadi masalah baru" perintah arlan pada miguel, setelah mendapat laporan dari miguel jika anak buahnya berhasil menangkap kiara namun masalahnya ada yang membuntuti mobil mereka saat ini.
Mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi itu melewati beberapa jalur arteri yang yang tidak begitu ramai. untuk menghindari pusat perhatian dan petugas patroli jalanan.
Begitupun dengan lingga yang berusaha mengejar mobil tersebut. lingga menyadari ternyata dirinya tak sendiri, ada beberapa mobil lagi di belakangnya yang entah darimana datangnya.
Jalur yang mereka lewati saat ini merupakan arah menuju luar kota yang mana mereka melewati jalanan sepi dan perkebunan. lingga semakin memacu motornya dan berhasil menyalip mobil van itu. dia menghadang mobil itu dan menjatuhkan motornya, lalu berjalan mendekati mobil van yang berhenti karena terhalang olehnya.
Wajah tampan bersahabat nan ramah itu menghilang menjadi sosok menakutkan. sejak umur 8 tahun dirinya sudah tinggal di jalanan, dia pernah merasakan sakitnya hidup di jalanan, kelaparan dan kehujanan tanpa tempat tinggal bersama sang adik yang usianya baru 3tahun. beruntung ada seorang yang baik hati membawanya ke sebuah panti asuhan dan menyekolahkannya.
Namun pada usia 12 tahun dia memilih keluar dari panti meninggalkan sang adik di sana, dia tidak ingin dirinya menjadi beban kehidupan panti yang saat itu sedang dalam kesulitan.
Lingga kecil kembali ke jalanan dengan tujuan baru dia ingin jadi orang sukses. pekerjaan apapun dia lakukan untuk mengisi perutnya dari mengamen,mencuci piring bahkan kurir barang haram. kehidupan keras di jalanan menempa jiwanya semakin kuat sebutan penguasa jalanan ketika usianya 18 tahun sudah tersemat di namanya.
Keahlian beladiri dan cara bertarung dia dapat secara alami demi bertahan hidup, dan di tambah pengetahuan dari dunia maya serta latihan yang keras menjadikannya pribadi yang kuat dan tegas. Lingga menyadari jika hanya mengandalkan kekuatan tanpa otak maka tidak ada bedanya seperti cangkang kosong.
Karena itu dia mengejar ketertinggalan pendidikannya dengan mengambil kejar paket dari uang yang dia kumpulkan bahkan sampai lulus universitas. dan saat ini di hadapannya berdiri cecunguk yang telah mengusik wilayahnya membangkitkan kembali jiwa premanismenya.
"Lepasin cewek itu!!" teriak lingga lantang.
"Mending lo pulang gak usah ikut campur urusan kita atau lo lebih suka cari mati"
"Akhh banyak omong lo, anjiing!!"lingga meluapkan emosinya mulai menyerang.
Pertarungan 4 lawan satu itu berjalan sengit.meski kedudukan tidak imbang lingga berhasil merobohkan keempat orang tersebut. lingga membuka paksa pintu penumpang mobil van itu, dia melihat keadaan kiara yang terikat dan mulut tersumpal kain meringkuk di kursi.
"Iya non sabar ini saya buka talinya" ucap lingga pada kiara yang bergerak menggoyangkan badannya ketika lingga membuka pintu mobil.
"Hhah..hah.."kiara melempar kain yang ada di mulutnya setelah lingga melepas semua ikatannya"mas lingga gak apa-apa" lanjutnya menanyakan kondisi lingga yang sedikit memar.
Lingga terenyuh mendengar kiara mengatakan itu sebab baru kali ini ada yang peduli tentang kondisinya.
"Saya gak apa-apa non" ucap lingga sambil membantu kiara keluar mobil.
"Sebentar non" lingga mengeluarkan handphonenya untuk menghubungi pedro dan pandangan kiara tertuju pada empat orang yang tergeletak lalu mengamati sekitar yang kedua sisi jalan seperti hutan jati.
"Hallo tuan pedro tolong kami di..aakh sial!" belum selesai lingga bicara dia melihat segerombol orang yang jumlahnya lebih dari dua puluh orang yang sedang berlari ke arahnya dengan membawa senjata.
"Laarriii non!!!" lingga berteriak pada kiara yang berada di sebelahnya dan menarik tangan kiara untuk ikut berlari.
Kiara yang mengerti dengan situasi mengikuti lingga berlari memasuki hutan jati.
"Kenapa gak kita lawan aja mas !!" teriak kiara pada lingga di tengah larinya.
Mereka terus berlari memasuki hutan sampai akhirnya menemukan tempat sembunyi. lingga teringat ponselnya yang masih terhubung.
"Shiit ! gak ada sinyal" umpat lingga setelah melihat panggilannya terputus karena jaringan seluler yang buruk.
Kiara yang duduk bersandar pada pohon besar sambil mengatur napasnya yang tersengal hanya menatap lurus ke depan.
"Maaf.." kiara menoleh pada lingga dengan mata memicing mencari maksud dari kata maaf lingga.
"Maaf saya tidak bisa menjalankan tugas saya dengan baik" ucap lingga dengan kepala tertunduk.
Kiara menghela napas dan menepuk punggung lingga.
"Keadaan dan situasi ini gak pernah kita harapkan. jadi mas lingga gak perlu minta maaf"
"Tapi mas waktu itu kita bisa mengalahkan banyak preman..kenapa kali ini kita gak coba"lanjut kiara.
"Haa..waktu itu cuma sekumpulan preman tanpa keahlian mereka bertarung hanya modal nekat" lingga menghela napas dan menjelaskan.
"Oh..dan sekarang mereka orang-orang terlatih seperti tukang pukul bayaran" kiara bergumam dan di angguki oleh lingga.
"Tapi..apa non baik-baik aja?"tanya lingga dengan pandangan mengarah pada perut kiara.
"Oh ini..sepertinya dia calon atlet lari..aku gak apa-apa mas" kiara mengelus perutnya "yang kuat ya anak bunda" lanjutnya memberi sugesti sang buah hati.
Lingga tersenyum tipis melihat aksi kiara yang bicara pada calon buah hatinya. lingga mengeluarkan sticker transparan kecil berbentuk bintang.
"Apa itu mas ?"
"Hiasan rambut..kata orang bintang membawa keberuntungan"jelas lingga dan dia berikan pada kiara "tolong selipkan ini di sela rambut nona"
Bukan tanpa sebab lingga meminta kiara menyelipkannya dia tahu jika pedro melakukannya pasti ada maksudnya. yah,lingga sudah mengetahui sejak awal pedro menempelkan sticker ini di kerahnya serta membiarkan kiara pergi sendiri dan seperti biasa dia hanya mengikuti alurnya.
"Tapi.."belum selesai kiara bicara lingga sudah menyelipkannya di depan kening kiara menyentuh helaian rambut kiara yang tertutup hijab.
"Mereka ada di sini.. !!!"
Suara teriakan menyadarkan mereka dengan sigap mereka berdiri dan waspada. sepertinya kini keadaan mereka terkepung dan hanya satu yang bisa mereka lakukan.
"Non kali ini saya benar-benar minta maaf"
"Iya, kalau kita lolos mas lingga harus traktir aku es campur"
Rupanya dugaan lingga benar mereka adalah orang-orang terlatih dengan kemampuan beladiri yang mumpuni. keadaan kiara dan lingga semakin terdesak di tambah kondisi kiara yang sedang hamil. dengan sekuat tenaga lingga melawan dan melindungi kiara.
Lingga benar-benar kewalahan dan terjepit, dirinya kini terpecah dengan kiara. fokusnya terbagi melihat kiara yang bertarung melawan sekumpulan orang. dia merasa kagum dengan kiara dalam kondisi hamil masih sangat lihai dan gesit.
"Mas lingga awaass!!" teriakan kiara pada lingga yang melihat seorang dari arah belakang dengan sebilah parang.
Lingga yang sedang terjepit terlambat untuk menghindar satu sabetan dari parang itu mengenai tangannya. namun dia masih berusaha untuk melawan. tapi sepertinya orang-orang ini sangat terlatih dan kuat. sampai akhirnya sabetan terakhir mengenai perutnya dan membuatnya tersungkur.
"Linggaaa!!"
Teriakan kiara yang memanggil namanya yang terakhir dia dengar setelahnya hanya kegelapan.