
Desta menatap nanar sang sepupu yang duduk bersimpuh di lantai depan ruang operasi. dirinya masih tak percaya dengan adanya kejadian yang memilukan ini arsen meneriakkan namanya dan bisa menghilangkan traumanya pada mobil setelah belasan tahun silam.
"Destaaa..!! cepatt !!" arsen berteriak memanggil desta dari dalam mobil.
Desta yang tengah sibuk membantu pedro menoleh pada arsen yang berada di dalam sebuah mobil. dia berlari kencang menuju mobil itu dan meninggalkan pedro membersihkan semua masalah sendiri. pertama kali baginya juga mengendarai mobil seperti dulu lagi, waktu sebelum adanya perjanjian dengan sang ayah belasan tahun lalu.
Desta melihat kedatangan pedro yang berjalan mendekat ke arahnya dengan tampilan yang tidak kalah berantakan darinya. dia menunduk menatap dirinya sendiri, noda darah yang mengering di kaosnya entah milik siapa, tangan yang terasa pegal karena banyak memukul dan meraba wajahnya yang terasa berdenyut serta sudut bibir yang pecah karena hantaman sang lawan.
Bibir itu terukir senyum tatkala pedro tiba di depannya. kini dia merasa sedikit lebih baik, bagaimana tidak pedro terlihat mengenaskan dengan sebelah mata bengkak dan hidung yang memar. bahkan beberapa kancing kemejanya lepas dan ada beberapa luka goresan di tangannya.
"Masih idup lo..!" desta melakukan kepalan tangan beradu pada pedro.
Pedro hanya tersenyum menyambutnya, lalu menyenderkan tubuhnya di dinding rumah sakit samping desta.
"Bagaimana keadaan nyonya mavros ?"
Desta menggeleng pelan dan menghela napas.
"Gak tau ! tapi..tuh liat, orang sekuat itu terlihat menyedihkan. arsen benar-benar mencintai istrinya." desta menunjuk arsen dengan gerakan bibirnya. pedro menatap sekilas ke arah arsen lalu menghela napas dan kembali membuang pandangannya lurus ke depan.
"Gimana keadaan di sana ? udah beres semua"
Pedro tersenyum tipis tanpa menoleh pada desta.
"Clear, miguel lopes sudah mati !"
"Pantes tampilan lo bonyok dia lawan yang tangguh ya ?!"
"Tapi sayang.., arlan sastra wijaya berhasil kabur." pedro menunduk dalam alih-alih menjawab dia malah memberi laporan.
"Whaatt..siaall!!" geram desta dengan mengepalkan kedua tangannya di depan dadanya.
Arsen yang duduk bersimpuh dengan tangan yang bertumpu pada lutut yang di tekuk mendengarkan semua tanpa mereka sadari. tangannya terkepal erat menahan rasa ingin membunuh terhadap arlan.
lampu ruang operasi berganti warna pertanda telah selesai, tak lama keluar seorang dokter dari sana. arsen segera berdiri namun desta dengan cepat menyelanya.
"Bagaimana keadaannYya, dok ?" tanya desta yang mewakili arsen.
"Oh, apa anda suaminya ?"
"Saya suaminya" ucap arsen yang berdiri di belakang desta membuat cengiran kecil terbit di bibir desta, dia lupa jika sepupunya saat ini sudah bisa bicara. destapun bergeser sedikit ke samping.
"Silakan anda ikut saya"
"Tapi istri saya.."
"Istri anda akan di pindahkan ke ruang perawatan sementara ini dia masih belum sadarkan diri di bawah pengaruh anestesi. silakan ke ruangan saya, ada hal yang ingin saya sampaikan mengenai istri anda"
"Udah sono! ara gue yang jagain"
Arsen mengangguk lalu menepuk sisi bahu desta dan mengikuti langkah sang dokter. ketika dia melewati pedro, arsen tersenyum tipis dan memberikan kepalan tangan yang beradu pada pedro sambil melangkah menuju arah sang dokter.
"Mereka sudah membersihkan area itu. dan di pastikan tidak tercium oleh pihak berwenang. meskipun bocor itu bukan menjadi masalah kita lagi" lagi-lagi pedro memberi laporan tanpa di minta.
"Aish bisa gak sih sehari aja lo gak kerja. boss lo aje lagi pusing ma bininye, mending sekarang lo cari hotel deh. bersihin badan lo terus ganti baju lo tuh udah kaya gembel di gebukin..tau gak"
Pedro melihat tampilannya sendiri yang benar-benar berantakan.
"Bagaimana dengan tuan dan nyonya mavros ?"
"Ada gue, setidaknya gue masih keliatan tampan banding lo. muka lo jadi bahan tontonan orang lewat tuh"
"Hahaha benar juga..auw !" pedro tertawa lepas tapi seketika dia merasakan sakit di rahangnya.
"Mampus lo" ucap desta sambil tersenyum geli.
Di sisi lain arlan yang berhasil di selamatkan anak buahnya kini berada di tempat persembunyiannya, di sebuah pondok yang terletak di pedalaman desa.
"Hhhh..entah kali ini apa yang akan kau ambil dariku setelah ini." arlan mendesah menatap pada ujung kakinya yang terbujur di atas kasur.
Krieett
Pintu kayu itu terbuka dua orang kepercayaannya masuk, satu di antaranya membawa makanan.
"Dimana miguel ?" tanya arlan pada orang kepercayaannya.
Mereka saling bertatapan, entah bagaimana memberitahu pada atasannya kabar mengenai miguel.
"Katakan di mana miguel, suruh dia datang kemari !"
"Itu..anu..miguel.."
"Ada apa ? kenapa dengan miguel ?" arlan bergerak gusar tak sabar.
"Tenang tuan arlan, tubuh anda masih lemah dan tulang rusuk anda sepertinya ada yang patah." satu di antaranya berusaha menenangkan arlan.
"Katakan dimana miguel ?! jawabb!!" arlan menarik kerah baju anak buahnya.
"Maaf tuan, tapi..miguel dia, dia sudah mati" jawab anak buahnya dengan kepala tertunduk.
"Apaa !! miguel mati..miguel mati..hahahaaa..aaakkkhh siall!" arlan meracau di sertai tawa yang depresi.
"Keluar semua ! keluarr !!" arlan berteriak mengusir semua orang dari dalam kamarnya.
Seorang laki-laki keluar dari ruang privat seorang dokter, dia berjalan gontai menyusuri lorong rumah sakit yang berlawanan arah dari ruang rawat istrinya. desta melihat arsen yang berbelok menuju sebuah taman rumah sakit.
Desta meyakini jika ada sesuatu hal yang buruk pada kiara hingga membuat arsen sampai melamun di kursi taman. dirinya memang sengaja mengikuti arsen karena dia merasa seperti ada yang tidak beres dengan sepupunya.
"Hei bro..! jangan ngelamun di rumah sakit bahaya banyak setannya, kerasukan baru tau rasa lo !" desta menepuk pundak arsen lalu menyodorkan gelas kopi di tangannya.
"Hari ini gue liat lo belom ngopi kan ? nih, sengaja gue beliin buat lo." arsen yang tadinya enggan menerima akhirnya dengan terpaksa menerima pemberian desta.
"Thanks" ucap arsen yang menatap kosong gelas kopi yang mengepul itu.
Desta mendaratkan bokongnya di samping arsen dan menghela napas panjang lalu menyesap kopinya perlahan.
"Lo tau..sebenernya gue masih antara percaya sama gak waktu lo teriak manggil nama gue, gila..! bahkan muka ganteng gue sampe kena bogem baru gue percaya lo bisa ngomong lagi." desta memulai pembicaraan.
"Gue gak sabar ngeliat muka uncle dan reaksi aunty liat anak semata wayangnya bisa ngomong lagi"
Arsen tersenyum tipis menanggapi ocehan desta dan mulai menyesap pahitnya rasa kopi favoritnya.
"Ars, ara baik-baik aja kan ?" desta menoleh pada arsen dengan pandangan serius. pertanyaan desta yang tiba-tiba menanyakan kiara membuat tubuhnya menegang.
Desta yang melihat reaksi arsen menepuk pundak sepupunya memberikan kekuatan.
"Tidak..dia tidak dalam keadaan baik.." arsen menjawab dengan nada pelan.
"Maksud lo.."
"Aku harus memilih mempertahankan bayi itu atau harus merelakannya..apa yang harus aku katakan pada ara jika dia sadar nanti bayinya tidak ada dan orang yang menghilangkannya adalah ayahnya sendiri" arsen menengadahkan kepalanya menatap langit menahan sesak di dadanya.
"Jika lo pertahanin apa yang bakal terjadi sama anak lo."
"Kemungkinan besar dia akan cacat" setitik airmata keluar dari sudut mata arsen ketika membayangkan hal itu.
"Dan ini mungkin menjadi satu-satunya anak kami karena ara tidak mungkin bisa hamil lagi. obat yang arlan berikan merusak rahimnya" ada getaran emosi yang tertahan di rasakan arsen.
"Anj..! jadi apa pilihan lo ?"
Arsen menoleh pada desta dan menggeleng kecil. entah apa yang akan dia lakukan. apa yang menjadi pilihan terbaik untuk ara dan anaknya bahkan untuknya sendiri.