
Di sebuah gedung perkantoran tepatnya di dalam ruang kerja pribadi seorang arlan sastra wijaya pria yang penuh ambisi. dia tampak kesal lagi-lagi prediksinya salah tentang arsen. arlan menatap kesal pada orang yang telah dia percaya dalam perencanaan ini semua.
"Bagaimana bisa kamu memiliki orang-orang bodoh itu, miguel ?" desis arlan pada miguel orang kepercayaannya.
"Bahkan untuk membereskan seorang perempuan saja kamu tidak bisa, apa kekuatanmu saat ini sudah menghilang dan kamu menjadi seorang pecundang !!"
"Sebaiknya anda jangan memancing saya tuan arlan. jaga sikap anda, saya peringatkan uang anda tidak akan mampu meredakan amarah saya"
"Oohh bagus sekali sekarang kamu berani mengancam saya. saya ingatkan 'sekali kamu hidup sebagai anjing maka selamanya kamu akan menjadi anjing jangan bermimpi untuk menjadi singa.' lakukan saja tugasmu miguel !" arlan menggeram sambil menunjukkan amarahnya.
Miguel yang tersulut emosi dengan cepat mendekati arlan kedua tangannya menggenggam kursi roda arlan badannya setengah membungkuk dengan tatapan nyalang mengintimidasi.
"Kenapa mau membunuhku hemm?!!"
"Akan ada saatnya tuan!!" desis miguel di telinga arlan.
Arlan tersenyum lebar seolah sikap miguel adalah hiburan untuknya.
"Auh takutt.." arlan mengejek tepat dibawah tatapan miguel "Aku akan tunggu itu tapi saat ini jadilah anjing yang baik untukku.belajarlah untuk mengabdi dan setia. lakukan saja perintahku !!" ucap arlan menekan dada miguel dengan jarinya.
".....
Braakk
Sebelum miguel sempat membalas suara pintu yang di terobos masuk mengalihkan keduanya. miguel berdiri tegak dengan santai sambil merapikan jasnya dan arlan yang tersenyum lebar menyambut kedatangan sang tamu.
"Maaf ganggu..kakak sedang tamu yaa ?"
"Oh dia bukan tamu sweetie, perkenalkan dia miguel lopez partnerku dan miguel, perkenalkan dia terra sepupu kesayanganku"
"Hii..nice to meet you mr.miguel" terra mengulurkan tangannya sambil tersenyum manis dan miguel menerima uluran tangannya dengan sikap dingin.
"Abaikan saja tampang menyebalkannya dan..miguel bisa bahasa sini" jelas arlan sambil memutar kursi rodanya menuju jendela besar kantornya tempat favoritnya. entah mengapa arlan sangat menyukai berlama-lama menatap luar melalui jendela.
Dan kini ketiganya tampak serius membicarakan sesuatu. terkadang pembicaraan itu mampu merubah ekspresi wajah mereka. hingga akhirnya helaan nafas keluar dari mulut mengakhiri semuanya. terra dan miguel pun berdiri hendak keluar dari ruangan tersebut. namun sebelum itu kalimat arlan menghentikan langkah keduanya terutama miguel yang hanya berdiri terpaku sejenak.
"Aku ingin semua berjalan sesuai rencana dan aku tidak ingin mendengar kata gagal sekali lagi. dan kamu miguel.." ucap arlan sambil menatap keluar jendela lalu berbalik menatap miguel intens " Maaf untuk yang tadi. aku pastikan keluargamu hidup terjamin di sana!!" ucap arlan tanpa ekspresi di wajahnya.
Tanpa berpaling miguel berlalu meninggalkan arlan dan terra yang bingung dengan situasi saat ini. dan arlan yang melihat kepergian miguel hanya menunjukkan smirknya.
Kegaduhan yang di ciptakan oleh ibu dan anak di sebuah rumah membuat suasana sore itu terasa ramai. sedangkan seorang pria yang terlihat kerepotan dengan barang belanjaan seseorang serasa ingin meneriaki kedua perempuan yang berbeda usia itu.
"Aku kan udah bilang sama mama dari tadi juga jangan kelamaan belanja"
"Siapa yang kelamaan, kamu tuh yang ngilang sama lingga pake ngejar copet segala lagi"
"Terus aku yang salah gitu ?"
"Siapa juga yang nyalahin kamu ra"
"Diih mama pikun..dari tadi ngoceh bukannya sama aja nyalahin yaa"
"Eh darimana bisa gitu, coba kamu tanya lingga emang sama ngoceh sama nyalahin ? iya kan ling.." mama menengok ke belakang dan melihat lingga yang kerepotan.
"Aduuh berat ya..maaf ya..ra kamu bantuin kek"
"Hehehe maaf mas..sini aku bantu !"
"Udah sini.." kiara meraih plastik belanjaan di tangan lingga tapi plastiknya justru di rebut oleh seorang laki-laki yang kiara kenal bernama pedro.
"Lho mr.pedro "
"Selamat sore nyonya mavros"
"Issh kebiasaan ! apa kabar ?" kiara mengulurkan tangannya.
Pedro yang hendak menerima uluran tangan kiara harus membiarkan tangannya mengambang begitu saja karena tangan kiara yang di tarik pemiliknya.
Arsen menarik kiara mendekat padanya dan merangkul pinggangnya. pedro mengendikkan bahunya melihat tingkah bossnya. lingga menghela nafas berharap beban yang di bawanya segera lenyap. dan sita melengos pergi merasa bosan dengan kelakuan anak menantunya.
"Dasar posesif"gumam sita yang berlalu dari sana.
Pada akhirnya sang mama memutuskan untuk pulang malam ini juga. setelah mengantar sang mama kiara kembali ke rumah tadi dia di antar oleh pedro dan lingga sedangkan arsen seperti biasa hanya memerintah saja.
Setibanya di rumah kiara melihat arsen yang sedang menonton televisi. diapun menghampiri arsen dan meminta ijin langsung ke kamar serta mengucapkan terima kasih pada pedro karena sebelumnya lingga minta di turunkan di halte yang searah dengan rumahnya.
Arsen melihat kiara yang menaiki tangga hingga menghilang dari pandangannya. lalu meminta pedro untuk duduk di seberangnya.
"Duduklah !"
"Baik tuan"
"Bagaimana menurut mu dengan video ini ?" arsen menunjukkan video yang di terimanya tadi siang.
Sebenarnya arsen menyuruh pedro tadi sore datang untuk membahas ini namun belum sempat di bahas,kiara dan ibunya sudah terlebih dulu tiba di rumah hingga akhirnya malam hari ada kesempatan itu. pedro melihat kembali video yang anak buahnya kirim langsung pada arsen.
"My ara is really amazing right..cari tahu siapa orang-orang ini yang telah mengacaukan rencana ku ?" ucap arsen menggerakkan tangannya menatap tajam pada pedro.
"Mereka orang-orang suruhan miguel lopez" pedro menjawab singkat.
"Miguel..! dan itu berarti ada arlan di belakangnya apa motif mereka membuat drama ini..cari tahu secepatnya!"
"Dari cara mereka sepertinya mereka ingin mengetes seberapa kuat musuh mereka saat ini"
"Shiitt ! dan mereka menjadikan my ara target permainan"
"Hanya baru dugaan tuan ! mungkin juga mereka memang punya niat menggunakan nyonya sebagai kelemahan tuan sendiri"
"Hemm kamu benar !! tapi justru aku beruntung rencanaku di sabotase karena sekarang aku bisa lihat ternyata ara bukanlah kelemahan ku tapi kekuatanku"
"Yah anda benar tuan saya pun sampai tak percaya jika tak melihat video itu sendiri"
Arsen tersenyum bangga untuk istri cantiknya. awalnya dia dan pedro merencanakan untuk menguji seberapa besar keberanian seorang kiara namun ternyata ada pihak lain yang mendahuluinya dan bukan hanya keberanian yang arsen lihat tapi kelihaian kiara dalam bela diri membuatnya sedikit tenang sekaligus bangga.
"Besok ada rapat komisaris di kantor SW group para investor dan pemegang saham akan hadir..pastikan kamu menjadi investor utama di sana"
"Baik tuan "
"Well mr.pedro..ini tugas pertamamu menjadi seorang ceo selamat bertugas..oh ya sebaiknya malam ini kau menginap !"
"Terima kasih tuan"
Pedro menghembuskan nafas setelah arsen meninggalkannya. tubuhnya bersandar pada sofa. hari ini sungguh menjadi hari yang paling melelahkan untuknya.