
"Akkhh rese rese rese !! kak arsen nyebelin banget sih" gerutu kiara sambil memukul-mukul bantal yang ada di pangkuannya.
Bagaimana tidak membuatnya kesal kelakuan arsen semakin menjengkelkan di mata kiara. sikap posesifnya yang berlebihan menurut kiara terlalu lebay. bahkan arsen membuatnya harus memilih antara berhenti kerja atau pindah rumah.
Dan sekarang di sinilah dirinya berada di sebuah apartemen mewah menyerupai penthouse. pertama kali menginjak tempat ini sungguh membuat kiara kagum apalagi lift pribadi yang langsung terhubung ke tempatnya. terlintas di pikirannya untuk bertanya pada arsen mengenai pekerjaan arsen. interior mewah dan elegan serta chandelier yang cantik membuat pesona ruangan ini semakin menakjubkan.
Namun kiara berusaha menutupi rasa kekagumannya dia masih merasa kesal karena dengan seenaknya arsen menyuruhnya pindah. yang membuatnya bertambah kesal ternyata rumah yang selama ini dia tempati adalah rumah atas namanya sendiri. dia baru mengetahui ketika packing barang melihat amplop coklat yang dulu di berikan kiano dari sang mama. di dalamnya terdapat buku rekening yang isinya sangat fantastis serta sebuah black card dan surat kepemilikan rumah, itu semua pemberian suaminya yang tak lain adalah arsen.
Ketika kiara menanyakannya pada arsen mengenai hal itu jawabannya cukup menjengkelkan, arsen pikir kiara sengaja memilih rumah di perumahan mewah dengan type kecil untuk berhemat. seandainya kiara tau dari awal suaminya sekaya itu dia tidak akan sungkan menghabiskan uangnya.
Setelah merapikan kamarnya kiara keluar menuruni anak tangga tampak olehnya arsen sedang berbincang dengan pedro. kiara melihat arsen yang melihat ke arah dirinya menuruni tangga dengan seulas senyum.
"Hallo sayang" arsen menghampiri kiara memeluk dan mencium keningnya. kiara enggan membalasnya dia hanya membiarkannya dan berlalu mengabaikan arsen.
"Selamat siang nyonya" sapa pedro ramah ketika kiara mendekat ke arahnya.
"Selamat siang tuan pedro" balas kiara ramah. "Oh ya tuan pedro bagaimana nasib rumah saya ?"lanjut kiara kemudian.
Pedro yang merasa tiba-tiba di tanya oleh kiara bingung untuk menjawab, dia melirik arsen yang di balas anggukan.
"Maaf nyonya rumah anda sedang proses untuk di jual dan sudah ada beberapa orang pembeli yang sepertinya sangat tertarik"
"Oh ya! bagus deh kalo gitu..boleh saya minta tolong sama anda tuan pedro ?"
Dengan ekspressi bingung pedro hanya mengangguk, berbeda dengan arsen yang langsung tertarik dengan tingkah istrinya. arsenpun memilih duduk manis menyimak percakapan pedro dan kiara yang berdiri di hadapannya.
"Baiklah, saya minta tolong jika rumah itu laku terjual uang hasil penjualannya berikan ke alamat ini" jelas kiara sambil menyerahkan selembar kartu nama. pedro menerimanya dan menyerahkan kembali pada arsen setelah di bacanya.
"Tapi nyonya mungkin jumlahnya tidak sedikit"
"Saya tahu, di alamat itu tuan pedro bisa cari tahu berapa banyak tempat yang butuh bantuan. saya cuma ingin semua tepat sasaran "
"Baik nyonya mavros"
"Terima kasih tuan pedro, ingat seluruh uang penjualannya tuan pedro !!" ucap kiara dengan sedikit penekanan sambil melirik ke arah arsen yang terlihat santai saja malah sesekali tersenyum padanya.
"Oh ya kak aku ijin ya mau keluar cari barang sama mas lingga "
Seketika raut wajah arsen mengeras di tatapnya kiara seolah mencari kebohongan.
"Kalau gak boleh yah udah gak jadi" suara kiara mencicit di tatap tajam oleh arsen.
Pedro yang mengerti akan aura yang tidak mengenakkan berinisiatif menelpon lingga.
"Kamu cepat ke atas jemput nyonya !"
Kiara merasa takjub pada pedro yang mengerti akan situasi ini.
Berkeliling mall seharian dengan banyak barang belanjaan di tangan kanan dan kirinya tidak menyurutkan langkahnya untuk sekedar memuaskan hasrat bershooping ria. justru senyum merekah terpatri di wajah cantiknya kerap kali ia berhasil mendapatkan barang incarannya.
Terra berjalan menyusuri mall dengan senyum cantik yang menghias wajahnya. sampai matanya melihat seseorang yang pernah dia temui beberapa waktu lalu namun kali ini dengan laki-laki berbeda.
"Haaaiii..!" sapa terra yang sengaja menghadang jalan kiara dan dengan sigap lingga merentangkan satu tangannya menahan terra mendekat.
"Ya ampuun sampe segitunya pacar kamu kaya aku mau nyakar kamu aja. masih inget kan sama aku ?"ucap terra dengan gaya sok akrab.
Kiara mencoba untuk mengingatnya.
"Ooh mbak yang waktu itu beli martabak banyak banget yaa !" nada suara kiara terdengar renyah dan ramah.
"Yups, by the way kita belum kenalan ya. aku terra " terra mengulurkan tangannya.
"Aku kiara mbak" balasnya menjabat tangan terra hangat.
"Dan dia..?" tunjuk terra pada lingga dengan gerakan alisnya.
"Oh ini mas lingga mbak, dia.."
"Kamu gak usah bilang aku udah tau kok" potong terra sambil mengibaskan tangan.
Kiara tersenyum canggung namun dia membiarkan terra dengan pemikirannya.
"Oke deh kalau gitu aku duluan ya, kapan-kapan kalau ketemu lagi aku traktir makan deh dan maaf udah ganggu kencan kalian..bye kiara see you next time" lanjut terra dan berlalu pergi dengan melambaikan tangan.
Setelah beberapa meter berlalu dari hadapan kiara, senyum manis nan ramah di wajah terra menghilang terganti dengan aura yang menahan dendam di hatinya.
Kiara memperhatikan langkah terra yang terlihat anggun dari belakang dan menengok pada lingga.
"Cantik banget dan ramah lagi sempurna banget ya mas"puji kiara untuk terra pada lingga.
"Iya sih tapi ga tau kenapa kok kesannya kaya palsu ya non"
"Ah cuma perasaan mas lingga aja kali, udah yuuk lanjut lagi aku mau abisin uangnya kak arsen dulu. abis nyebelin banget "ucap kiara sambil berjalan meninggalkan lingga.
"Haahaaha..iya non saya siap bantu kok" sahut lingga dengan berjalan sedikit cepat untuk menjajari langkah kiara.
Menjelang malam kiara tiba di apartemennya dia melihat arsen yang sudah berganti pakaian mengenakan piyamanya. kiara menghampiri arsen dengan senyum merekah di bibirnya.
Arsen yang melihat kedatangan kiara dengan senyum bahagia membuatnya senang. terlebih istri cantiknya seperti sudah melupakan kekesalannya. namun dengan sekejab mata arsen membelalak tak percaya begitu lingga dan tiga orang keamanan membantu membawa barang-barang belanjaan kiara.
Arsen melihat ke arah kiara dengan tatapan bertanya dan hanya di balas dengan senyuman acuhnya.
"Terima kasih ya bapak-bapak, oh ya ini ada sedikit buat beli kopi" ucap kiara pada petugas keamanan yang membantunya.
Sedangkan lingga membantu kiara memindahkannya ke lantai dua. arsen membawa kiara ke sofa membiarkan lingga sendiri.
Kiara menceritakan keseruannya dan arsen mendengarkannya sambil merangkul kiara yang berada di sebelahnya. sampai sebuah kalimat membuat matanya menatap tajam ke arah lingga yang sedang memberesi barang kiara.
"Tahu nggak kak, masa terra ngira aku sama mas lingga pacaran, lucu kan ! terus dia juga bilang mau traktir kalo kita ketemu lagi" oceh kiara tanpa menyadari tatapan arsen yang menusuk pada lingga.
"Mampus deh gue !!" batin lingga yang terlihat canggung dan hanya bisa menelan salivanya di bawah tatapan maut arsen.