Kiara

Kiara
69.



Kiara POV


Senyumnya terus terpatri di wajah cantiknya. melihat pemandangan yang sangat dia sayangi, seorang bocah laki-laki berusia 3 tahun lebih yang sedang berlarian di taman bersama teman-teman seusianya.


Perjuangannya tidaklah mudah untuk mempertahankan si buah hati di tengah kondisi rahimnya yang mengalami infeksi kala itu. seorang dokter yang bernama bayu angkasa membantunya dalam proses kehamilannya hingga melahirkan.


Saat itu dirinya seperti bermimpi ketika mendengar percakapan orang-orang dalam ruangannya. matanya masih begitu rapat dan sulit terbuka hanya mampu menggerakkan sedikit jari-jari tangannya. sampai akhirnya dia mendengar suara laki-laki yang baru pertama kali dia dengar.


"Hhh, lakukan yang terbaik untuk istri saya !!"


Suara itu,mungkinkah itu suara arsen suaminya. ingin rasanya kiara berteriak dan memanggil nama itu tapi suaranya tak dapat keluar bahkan matanya tak dapat terbuka.


Sampai akhirnya dia merasakan tempat tidurnya bergerak di dorong dan suara langkah kaki yang mengikuti. namun tiba-tiba tempat tidurnya berhenti bergerak dan suara ribut-ribut orang kini dia demgar. tapi suara sang mama yang mampu membuatnya bergetar.


"Stop it, luke !! lihat..! anakku harus segera masuk ruang tindakan. pukul nanti setelah ara selesai ditangani. helen, tolong bilang suamimu jangan gi-la"


Matanya mulai membuka ketika dia sudah di dalam sebuah ruangan, dia melihat dua orang perawat yang sedang menyiapkan peralatan medis. dan akhirnya seorang dokter menyadari dirinya yang tersadar.


"Selamat siang nyonya kiara, saya dokter bayu yang akan melakukan operasi ini. bagaimana keadaan anda ?"


"Tunggu dok..operasi apa..?" tanya kiara dengan lemah.


Sang dokterpun menjelaskan secara detail dan singkat mengenai kondisinya, dan tanpa di sadarinya airmatanya menetes di sudut matanya.


"Dokter, boleh aku melihatnya untuk yang terakhir kali ? aku mohon.." pinta kiara dengan suara bergetar.


Tak lama dokter bayu menelepon seseorang dan masuklah dokter leon rekan dokter bayu, dia juga dokter yang selama ini merawatnya.


Layar USG 3 dimensi itu menampilkan bentuk janin kiara. tapi yang mengejutkan ternyata janin itu ada dua bukan satu seperti yang selama ini terlihat. kedua dokter itu pun di buat takjub dengan keberadaan janin itu.


"Oh my god, leon kamu lihat ini..! jadi selama ini dia berlindung di balik tubuh sang kakak.."


"Sepertinya memang begitu,bay..bentuk janin si kakak lebih besar dari sang adik dia melindungi sang adik dengan baik..jadi selama ini yang terlihat janin hancur adalah milik sang kakak yang ternyata sudah tak berdetak,karena sang adik terhalang si kakak maka kami mengira itu detak jantung si kakak..ternyata itu milik si adik yang bertahan karena pengorbanan sang kakak..oh tuhan, sungguh suatu keajaiban"


Kiara memperhatikan layar itu tak berkedip, dia memejamkan matanya mengucapkan syukur anaknya yang satu masih bertahan hidup.


"Maaf ibu kiara..tapi..mengenai kondisi anda rasanya.." dokter leon mencoba membawanya pada realita.


"Saya tahu dokter..tolong selamatkan anak saya..saya tidak perduli berapa lama saya akan bertahan dengan dia di dalam tubuh saya..saya ingin merasakan dia tumbuh dan bergerak di dalam perut saya..tolong saya dokter selamatkan anak saya.."


"Jangan !! tolong jangan beritahu siapapun tentang ini.."


"Apa maksud anda ? apa keadaan anda ini ulah suami anda atau perbuatan orang terdekat anda?" tanya dokter bayu yang mencurigai sikap kiara.


"Bukan..bukan seperti itu..ada hal yang tidak bisa saya ceritakan,tapi saya mohon jangan beritahu siapapun karena setelah ini saya akan pergi bersama anak saya..demi keselamatan anak ini" ucap kiara berderai airmata.


Leon dan bayu saling tatap tak mengerti ucapan kiara yang terkesan putus asa. entah pemikiran darimana bayu memutuskan untuk membantu kiara.


"Baiklah jika itu keputusan anda..kebetulan ini hari terakhir saya bekerja dan anda pasien terakhir saya..jika anda tidak keberatan bagaimana jika anda ikut saya ke tempat kerja baru saya di luar negeri..saya akan membantu anda melarikan diri sekaligus memantau kesehatan anda selama kehamilan sampai menjelang kelahiran bayi anda" ucap bayu memberikan sebuah penawaran untuk kiara.


"Bay..lo..aakkh tau deh, gue gak bisa ngomong apa-apa lagi" ucap leon yang tak percaya rekannya bayu memberikan penawaran itu.


Operasi itu berjalan lancar, dan ketika kiara bangun pasca operasi dia melihat banyak orang di ruangannya. semua wajah yang ada di sana dia mengenali kecuali sepasang suami istri yang baru dia lihat yang tak lain adalah mertuanya.


Arsen yang datang dengan tergesa segera menghampirinya dan dia terkejut suaminya sudah dapat bicara. kiara sangat senang dan bahagia mendengar suara itu terlebih ketika arsen mengatakan mencintainya. dia merindukan sosok arsen, kiara ingin mengatakan jika dia sangat mencintai arsen. namun sayang yang terucap justru sebuah kalimat yang membuat suasana di ruangan menjadi beku.


"Ka..mari kita bercerai"


Entah mengapa dirinya bisa mengucapkan itu. dan entah mengapa dia merasa takut anaknya dalam bahaya. entah mengapa juga dia merasa ingin pergi jauh dari sisi arsen demi keselamatan sang anak.


Rupanya kegelisahan dan kegalauan kiara dapat di rasakan ibunya juga sang mertua. akhirnya kiara menceritakan semuanya yang menjadi kegundahan hatinya juga tentang niat baik dokter bayu. di luar dugaan justru sang mertua ingin membantunya, mereka memanggil dokter bayu dan menyusun rencana malam ini.


Ayah mertuanya memastikan jika arsen tidak akan datang selama dua hari karena dia butuh istirahat dan menenangkan pikiran. dan ayah mertuanya juga bilang agar dirinya untuk lebih menjaga diri dan cucunya, jangan pikirkan yang terjadi di sini karena semua menjadi urusannya sekarang. sungguh beruntung dirinya memiliki ayah mertua yang sangat baik padanya.


Yah, di sinilah dirinya sekarang berada bersama sang mama, yang ikut melihat perjuangannya dalam kehamilanya hingga melahirkan. tidak hanya itu sang mama juga membantunya merintis usaha membuka toko cake and bakery. dengan uang tabungan sang mama yang di gabungkan miliknya, kiara mampu menyewa sebuah ruko dua lantai untuk tempat membuka usaha.


Dan kini jerih payahnya terbayar, toko kuenya berkembang pesat dan buah hatinya tumbuh sehat. bahkan pengobatan yang di jalaninya beberapa tahun ini membuahkan hasil baik meski tidak terlalu memuaskan.


Kini dirinya hanya ingin menikmati kebahagiaan ini. melihat senyum malaikat kecilnya setiap hari dan mendengarkan tawanya seperti mendengarkan lagu favoritnya. bahkan tangisannya juga akan membuat hatinya ikut bersedih. baginya saat ini arashio sky mavros adalah segalanya.


"Nda, ayo pulang...sekalang kita jemput papa" sentuhan lembut pada jari tangannya menyadarkan kiara dari lamunannya. dia menatap lembut sang buah hati lalu berjongkok mensejajarkan tinggi dengan sang anak sambil membelai lembut.


"Oke..kita pulang sekarang..arash sudah kangen papa yaa ?" tanya kiara dan di balas dengan anggukan kepala sang anak.


Kiara mengangkat tubuh kecil itu dalam gendongannya menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari taman itu. hari ini dia akan membiarkan anaknya bermain bersama arkhan sang papa idolanya.