Kiara

Kiara
78



Setibanya di toko setelah dari kantor arsen, kiara langsung memasuki dapur tanpa membalas sapaan pegawainya. seperti kebiasaannya jika pikirannya sedang galau atau suasana hatinya sedang tidak bagus dia akan seharian berada di dapur. bahkan pegawainya pun tidak akan ada yang berani mengganggu. mereka hanya saling pandang dan bertanya-tanya ada apa dengan perubahan hati boss cantiknya itu.


Sementara itu setelah kepergian istrinya arsen menelepon seseorang dan kekesalannya semakin bertambah ketika ternyata langkahnya telah di blokir oleh orang yang di teleponnya itu. dia mengacak rambutnya kesal oleh perbuatan ayahnya meski dia sudah mengetahui semua, namun arsen tidak menyangka jika sang ayah yang selama ini juga mengetahui keberadaan anaknya bahkan menertawakan dirinya yang berhasil terkalahkan.


Arsen menjatuhkan tubuhnya di sofa yang tadi di duduki kiara. tanpa sengaja matanya menatap lantai dan melihat ponsel kiara yang terjatuh. arsen mengambil ponsel itu dan melihat ada retakan pada layarnya. jarinya bergerak menghidupkan layar ponsel yang retak itu. dan sungguh mengejutkan, di sana terpampang siluet seorang laki-laki bertelamjang dada berdiri di sebuah balkon menghadap belakang sambil memandang keindahan alam yang di gunakan kiara sebagai wallpaper layar ponselnya.


Rasa penasaran arsen kian besar dia kembali mengusap layar itu yang ternyata tidak menggunakan sandi. tangannya terus menggulir sampai akhirnya dia melihat kumpulan foto-foto yang di penuhi oleh foto seorang anak kecil. keningnya berkerut dia merasa aneh mengapa tidak ada satupun foto arkhan di dalamnya. lagi-lagi arsen di buat terkejut dengan sebuah foto editan ayah dan anak yang nampak keduanya begitu bahagia tertawa bersama.


Semakin lama arsen semakin penasaran kini jarinya membuka sebuah aplikasi sosial media. kali ini banyak di tampilkan foto-foto menu makanan yang di jual di tokonya. sampai akhirnya dia kembali terkejut menemukan sebuah foto laki-laki yang sedang menikmati makanan berbalut kelapa berisi gula merah dengan caption manis.


"Lihatlah, bahkan diapun menyukai klepon # my hubby # perpaduan rasa barat dan timur akan lumer di mulut menyatu dalam darah yang di buat dengan hati " gumam arsen membaca ulang kalimat yang di post kiara 2 tahun lalu kemudian dia mematikan ponsel itu.


Arsen memasukan ponsel itu ke dalam saku jasnya, entah apa yang dia rasakan kini setelah melihat itu semua. mungkinkah ucapan ayahnya benar jika yang terlihat belumlah tentu yang sebenarnya. apakah kiara masih mencintainya setelah tadi dia menyakitinya. arsen menghela napasnya lalu beranjak meninggalkan kantornya. membuat cathy kembali bingung yang sejak kepergian kiara tak berani mengetuk pintu atasannya.


"Batalkan semua agenda hari ini dan kamu telepon lingga suruh dia hubungi pedro" ucap arsen cepat sambil jalan tanpa menoleh pada cathy.


"Baik pak"


Braakk


Trangg


Suara gaduh di dapur membuat suasana di dapur sedikit tegang. adonan roti yang sengaja kiara buat dengan cara manual menjadi tempat pelampiasan emosi kiara, dia harus merasakan di banting dan di pukul tangan lentik itu. bahkan kedua cheff yang berada di sana cuma bisa diam dan saling tatap membiarkan kiara melakukannya sesuka hati.


Tiba-tiba kiara teringat akan arash yang masih berada di sekolah. dia meraba saku celananya, lalu teringat jika ponselnya terjatuh di kantor arsen.


"Jill, tolong kamu bilang rani untuk jemput arash di sekolah dan sebelum terlambat kamu hubungi pak arkhan, hari ini tidak usah jemput arash karena sudah ada yang menjemput." kiara memanggil salah satu karyawannya dari balik pintu penghubung dapur yang di buka sedikit olehnya.


"Baik bu"


"Terima kasih ya"


Tanpa terasa matahari sudah tenggelam kiara yang lelah sibuk seharian di dapur dan arash yang tertidur karena lelah bermain dengan karyawannya di sela waktu senggang mereka. kiara memutuskan untuk kembali ke flatnya. semenjak sang mama ikut dengan mertuanya dia kembali menempati flatnya yang berjarak beberapa blok dari tokonya.


Beberapa kali kiara menghela dan mengatur napasnya kini dia merasa lega ketika tiba di ujung lantai unitnya. pintu kamarnya sudah terlihat dan tinggal beberapa langkah lagi sampai di sana. kiara menepuk punggung arash lembut menenangkan arash yang bergerak tak nyaman.


Tiba-tiba sebuah tarikan pada tubuh arash membuat kiara terkejut. sungguh di luar dugaannya laki-laki yang tadi pagi memarahinya dan mengancamnya kini berada di hadapannya dan ingin merebut arash darinya.


"Ka..kakak mau apa ?" kiara semakin erat memegang arash dan berusaha menyingkir dari hadapan arsen. namun kali ini arsen tak membiarkan kiara pergi.


"Berikan !" dengan mudah arsen merebut tubuh arash berpindah ke dalam gendongannya.


"Kak..!!"


"Silakan kamu teriak kalau mau satu gedung ini terbangun dan arash ikut menangis. aku gak perduli ! cepat tunjukkan kamarmu ara" ucap arsen berbisik di telinga kiara lalu melangkah meninggalkan kiara yang masih sedikit shock.


Hanya sesaat lalu kiara berlari kecil mendahului arsen dan membuka kunci pintu flatnya. dia membiarkan arsen masuk, kali ini untuk pertama kalinya kiara membiarkan laki-laki masuk ke dalam unitnya. bahkan arkhan jika mengantarnya hanya di perbolehkan sampai depan pintu saja terkecuali jika di rumahnya ada sang mama.


"Kamarnya ada di sebelah kanan pintu bergambar thomas dan doraemon" ucap kiara ketika dia melihat kepala arsen yang menoleh padanya. kiara menuju dapur mengambil air dingin, tubuhnya benar-benar lelah menaiki tangga sambil menggendong arash. dan rasanya satu gelas tak cukup untuk menghilangkan dahaga dan rasa lelahnya.


Jantungnya terasa ingin berhenti tatkala sebuah tangan yang terjulur dari arah belakangnya mengambil sebuah minuman kaleng rasa buah. lagi-lagi perbuatan arsen membuat jantungnya serasa ingin berhenti entah sudah berapa kali dalam satu hari ini laki-laki ini membuatnya sport jantung.


"Mau berapa banyak kamu minum ? minum ini !" ucap arsen dari balik punggungnya sambil menyerahkan minuman kaleng yang telah terbuka lalu menepuk puncak kepala kiara lembut.


Kiara menerima minuman itu dan mendekapnya erat di depan dada sambil menetralkan degup jantungnya yang berdetak keras. dia menutup kembali pintu lemari pendinginnya lalu berbalik dan melihat arsen yang sudah menjatuhkan dirinya pada sofa di ruang tengah. kiara menarik kursi makan yang dekat dengannya, dia menjatuhkan bokongnya di sana sambil menyesap minuman yang tadi di berikan arsen secara perlahan.


"Bicaralah !" ucap arsen tiba-tiba yang merubah posisi duduknya dengan sedikit membungkuk dan kedua lengan yang bertumpu di atas pahanya dengan jari saling bartaut.


Kiara masih terdiam dia bingung untuk memulai darimana, apakah nanti penjelasannya akan di terima atau malah akan menjadi sebuah alasan di mata arsen.


"Bicaralah ara..aku butuh penjelasanmu bukan hanya kalimat maaf dari mu !!" ucap arsen dengan posisi yang sama namun kepalanya menoleh ke samping dengan sudut mata memandang ke arah kiara.


Kini kepala kiara kian tertunduk dalam sambil mengepal erat kaleng minuman itu dengan jari-jarinya. meski dia sudah menduga momen seperti ini akan terjadi namun dia tidak menyangka jika ternyata situasinya akan sesulit ini. bahkan arsen tidak memberikannya waktu untuk mempersiapkan dirinya agar lebih santai.


"Ya allah bantulah aku..aku mohon padamu !!" rapal kiara dalam hati memohon doa dan bantuan agar dia dapat menjelaskan semua dengan lancar dan bisa di terima arsen dengan baik.