Kiara

Kiara
79



"Sampai kapan kamu akan diam ! haruskah aku bertindak keras agar mulutmu bicara !"


"Baiklah, jika kamu masih sulit untuk bicara malam ini. haaah.. sepertinya aku harus menunggu lagi bukan ?! lebih baik aku pergi !" ucap arsen menghela napas lelah sambil menepuk pahanya dan berdiri lalu mendekati kiara dan mengecup puncak kepala kiara.


Kiara kembali mengingat ucapan arsen tadi malam. sungguh dirinya tak bisa mengucapkan sepatah katapun, dia hanya kembali terisak. kiara melihat tampilannya di cermin kamar mandi wajahnya terlihat sembab dengan mata sedikit bengkak karena menangis semalaman. kemudian dia membasuh wajahnya dan menggosok gigi lalu dia mencoba tersenyum untuk menyemangati dirinya hari ini.


Kiara melangkah keluar kamar mandi dengan handuk kecil yang masih dia usapkan pada wajahnya. tiba-tiba dia merasa seperti membentur sesuatu.


"Aakkhh..ya allah.."kiara terkesiap di hadapannya sudah berdiri orang yang sama tadi malam, tapi bagaimana dia bisa masuk ke sini.


"Kakak kebiasaan bikin jantung aku deg-degan dari kemaren !" gerutu kiara mendongak menatap arsen.


"Oh ya, bagaimana kalau begini ? apa begini bisa bikin jantung kamu melompat ?" bisik arsen tepat di hadapan wajah kiara dan mengambil handuk kecil yang masih menempel di pipi kiara yang diam membeku. lalu mengusapkannya lembut di wajah kiara hingga berhenti di bibir lembut kiara.


"Hei..napas !" goda arsen sambil mencubit pipi kiara lalu melangkah menuju dapur.


Kiara menatap jengkel ke arah arsen lalu dia menyusul arsen dan menarik kursi makan yang hanya ada dua buah itu. kiara memperhatikan tingkah arsen yang nampak seperti orang yang sedang mencari sesuatu.


"Cari apa sih ?" tanya kiara penasaran yang melihat arsen seperti berpikir.


"Tidak ada cuma berhitung" jawab arsen santai.


"Berhitung..." kiara mengernyitkan dahi dan menggeleng kecil pada tingkah arsen yang semakin absurd.


"Yup berhitung kira-kira butuh berapa hari untuk menjebol dinding itu" arsen berkata tanpa menoleh pada kiara.


"Apaaa..!! tunggu dulu..apa maksud kak arsen" kiara terkejut dengan rencana arsen diapun menghampiri arsen dan menariknya untuk menghadap padanya.


Arsen menatap geli, dia berusaha menahan tawa melihat kiara yang terlihat panik.


"Kenapa..? kamu keberatan ?!" arsen menyilangkan tangannya di depan dada dengan alis terangkat.


"Hhhaa..ya iyalah kak..buat apa coba..lagian ini tuh rumah sewa kak..buang-buang duit doang tau gak !" kiara menghela napas kesal.


"Kamu ingin tahu buat apa..ingin tahu alasan aku melakukan ini semua"


"Hemm.."


"Itu karena aku tidak ingin kehilangan istri dan anakku lagi..aku tahu, kamu mungkin gak akan ijinin aku tinggal di sini entah karena alasan apa..tapi kamu gak bisa larang aku untuk membuat jalan tembus menuju rumah ini kan"


Kiara melongo mendengar alasan konyol yang di lontarkan arsen. dia tersenyum canggung dan memberanikan diri mendekat ke arah arsen.


Arsen memperhatikan wajah kiara sedikit serius kemudian menarik senyum tipis. lalu berjalan menuju lemari es dan mengambil satu buah ketimun di bawanya ke atas meja makan dan di iris tipis-tipis.


"Duduk dan kemarilah jika ingin bicara" ucap arsen sambil menggeser kursi satunya agar lebih dekat dengannya.


Lalu kiarapun duduk di hadapan arsen hingga lutut mereka bersentuhan. dengan sekali tarik arsen menggeser kursi itu lebih dekat dan menjepit paha kiara dengan pahanya.


"Bicaralah !" ucap arsen yang melipat irisan timun itu lalu mentotol di sekitar mata kiara yang sembab. perlakuan arsen yang tiba-tiba membuat kiara kembali terpaku.


"Hei..kenapa gak ngomong dari tadi ?" arsen mencubit pipi kiara dengan tangan satunya sementara tangan yang satu masih melakukan hal yang sama.


"Apa yang terjadi dengan hidup kakak dan yang kakak lakukan 4 tahun belakangan ini ?" alih-alih bicara kiara justru bertanya hal yang di luar dugaan arsen. membuat tangan arsen berhenti sejenak menatap kiara intens.


"Bukankah kamu sudah tahu jawabannya dari daddy" jawab arsen dengan tersenyum tipis.


"Maaf.." kiara menundukkan kepalanya,"Maaf untuk 4 tahun lalu..maaf aku udah ninggalin kakak..maaf aku udah nyembunyiin tentang arash..maaf karena..karena aku terlalu takut untuk hidup bersama kakak.." ucap kiara tanpa berani menatap arsen.


"Aku tidak tahu bagaimana aku tiba di rumah sakit. ketika aku sadar, aku mendengar percakapan kalian namun mata ini masih sulit untuk terbuka. pada saat aku bangun aku berada di sebuah ruang operasi dan aku mengingat percakapan yang pernah aku dengar. aku meminta dokter untuk mengijinkan aku untuk melihat terakhir kali anakku sebelum melakukan tindakan. alangkah terkejutnya aku bahwa anakku kembar, anak yang ku pikir akan hilang ternyata masih bertahan satu dengan kondisiku yang tidak baik"


Arsen menarik kiara dalam pelukannya dia membiarkan kiara meluapkan emosinya.


"Tiba-tiba entah bagaimana aku ingin menghilang dari kakak..aku hanya ingin menyelamatkan anakku, aku takut terjadi sesuatu yang buruk terjadi lagi dari musuh-musuh kakak. aku masih ingat rasa sakit yang mereka berikan dan aku masih ingat ketika aku memohon belas kasihan orang itu. sakitnya tidak hanya di tubuh aku tapi membekas di hati aku kak..pikiranku hanya satu aku gak mau kehilangan anakku lagi karena itu aku meminta pisah..beruntungnya dokter bayu dan daddy mau membantu atas bantuan dokter bayu juga arash dan aku bisa selamat." kiara kembali terisak.


"Lalu apa hubunganmu dengan orang itu ? bukankah wajahnya mengingatkanmu pada si psikopat itu bagaimana bisa kamu tidak membencinya ?"


Kiara mendongak sambil mengusap airmatanya lalu mencoba tersenyum meski sulit.


"Mas arkhan dia yang.."


"Mas !! sedekat itukah hubungan kalian" ucap arsen mengintimidasi.


"Glugh..! oke, orang itu yang nemenin aku dari hamil sampai lahiran..tapi..bukan aku yang minta kok" kiara menelan salivanya.


"Saat itu aku enggak sengaja ketemu dia di jalan kurang lebih 3 tahun lalu. awalnya aku juga takut dan trauma tiap kali lihat wajahnya yang sangat mirip dengan psikopat itu tapi dia berhasil menyakinkan aku bahwa dia berbeda dari kembarannya.." kiara menceritakan semuanya pada arsen tanpa terkecuali.


Dan arsen semakin erat memeluk kiara meski tak di pungkirinya dia merasa iri dan cemburu pada arkhan yang berhasil merasakan momen dimana kiara sangat membutuhkan sosok suami. terlebih putranya arash yang menganggap arkhan sebagai papanya membuat arsen bertambah iri. namun kini itu semua telah berlalu, saat ini dia hanya ingin merasakan betapa bahagianya dia bisa bertemu lagi dengan kiara.


Mungkin tantangannya kali ini adalah merebut hati sang putra. karena kiara memberitahunya jika arash bukanlah anak yang mudah menerima keberadaan orang asing di sisinya. bagaimanapun dan apapun caranya dia harus merebut perhatian arash dari arkhan. arash harus tahu jika dirinyalah ayah yang sebenarnya.