
Aku merasakan tubuhku tidur di tempat yang sangat berbeda yang aku rasakan, aku menggeliat menatap sekeliling ku.
Aku mengerjapkan mata. "Kok beda" batin ku menatap langit kamar
"Kau sudah bangun?" suara bass terdengar jelas di telinga ku
Aku menoleh.
"Aaaaaa" Aku reflek teriak
"Om ngapain disini?" tanya ku ketus
"Om ga ngapa²in aku kan!"
Pria itu menatap ku tajam.
Aku reflek mengecek tubuhku, aku menarik nafas lega. "Huhhh"
"Kamu kenapa?" tanya pria itu dingin
"Kamu kira saya apa²in kamu?" pria itu menatap ku dari ujung kepala sampai ujung kaki
"Tidak usah khawatir, kamu bukan selera saya, saya tidak akan bernafsu juga liat kamu! " cetusnya
"Ada apa ini ribut ribut" wanita paruh baya terlihat berjalan ke arahku
"Alhamdulillah, kamu sudah bangun nak?" ucap Ibu itu
Aku hanya tersenyum, aku bingung siapa dia dan dimana aku, terakhir aku bermain dengan Kenzo dan aku ketiduran, aku baru ingat sekarang.
"Kamu tenang saja nak, kamu dirumah ibu, kamu aman"
"Semalam kamu ketiduran karna kelelahan bermain dengan cucuku sampai larut"
"Kamu dibawa oleh anak saya Adit kesini, karna ia tidak tega membangun kan mu" jelasnya
"Saya membawa mu hanya karna kasihan saja!" ucapnya ketus
"Dasar pria menyebalkan" batinku
"Mari kita sarapan dulu, ibu sudah masak banyak hari ini" ucap wanita paruh baya, yang di ketahui adalah ibu dari pria menyebalkan itu
"Ibunya baik sekali, kenapa anaknya seperti itu ya" batinku
"Astaghfirullah, tante maaf saya harus segera pulang, adik adik saya pasti menunggu saya dirumah karna saya tak kunjung pulang" ucap ku
Aku baru ingat dengan adik ku dirumah.
"Gamau sarapan bareng kami dulu?"
"Tidak tante, terimakasih banyak, saya buru-buru tante"
"Kalo begitu, kamu diam dulu disini sebentar tante akan membungkus nya"
"Tidak usah tante"
"Shutt" wanita itu memotong ucapan ku
"Tunggu ya"
Mau tidak mau aku menunggu nya, wanita itu kembali lagi dengan membawakan 2 paper bag yang berisi makanan, yang di masukan pada beberapa tupperware di dalam nya.
"Nih sayang, kamu makan ya, sekalian untuk adik adikmu juga"
"Terimakasih banyak tante"
"Kalo gitu saya pulang dulu ya tante"
"Tunggu!"
Aku hendak mencium punggung tangan wanita itupun terhenti.
"Aditya kamu antar dia ya"
"Tidak usah tante, saya bisa naik angkot kok" tolak ku dengan sopan
"Udah jangan nolak, kamu di antar anak tante ya"
"Adit cepet!" perintah wanita
"Iya ma" pria dingin itu menjawab nya singkat
"Ayo nak, kamu ikut anak ibu ya"
"Iya tante, terimakasih" ucapku mencium punggung tangan wanita paruh baya di depan ku
"Kalo gitu saya pamit dulu ya, tolong bilang ke Kenzo ya tante kalo saya sudah pulang"
Wanita paruh baya itu mengangguk. "Nanti main kesini lagi ya nak"
...***...
"Bisa lebih cepat tidak jalan nya!" ucap pria itu ketus
"Bisa gak om kalo ngomong jangan pake urat?" ucapku dengan berani
"Gabisa!"
"Dasar om om" batinku
"Kok dia bisa denger ya" batinku
"Jelas saya denger"
"Sudah cepat naik" perintah pria dingin itu
Tak ingin pria itu mengomel lagi, aku dengan cepat naik ke kursi belakang.
"Ngapain kamu duduk disitu?"
"Kan tadi om nyuruh saya cepat masuk" jawabku dengan polosnya
"Siapa suruh kamu duduk disitu hah?"
"Kan tadi om yang nyuruh"
"Pindah ke depan, saya bukan supir kamu!" ucap pria itu ketus
"Enak saja kamu!"
"Cepat!"
"Dasar om om nyebelin" batinku
Dengan cepat aku pindah ke kursi kemudi di samping pria songong itu.
"Pakai seal belt nya"
Aku dengan susah payah memasang seal belt nya, namun tak kunjung bisa.
"Gini aja gabisa" pria itu memasangkan seal belt nya
Jarak aku dan dia sekarang sangat dekat, hanya beberapa centi saja.
Pria itu menatapku beberapa detik, begitupun dengan ku.
"Sial kenapa gadis ini menatapku!" batin nya
"Kenapa om ini liatin aku terus sih" batinku
Ada rasa yang tak bisa di ungkapkan ketika Kiara dekat denganya, seperti ada kupu-kupu bertebaran di perutnya.
"Ternyata dia manis juga di lihat dari deket" batinnya
Pria itu lebih mendekatkan wajahnya ke depan ku, aku spontan menjauh.
Pria itu langsung tersadar, ia langsung menjauh, ini di luar kendalinya.
Suasana jadi sangat canggung, pria itu melajukan mobilnya membelah ibu kota.
Hanya hening yang mereka rasakan, karna kejadian tadi membuat Aditya maupun Kiara menjadi bungkam.
"Dimana rumahmu?" tanya Aditya memecahkan keheningan
Aku menjawab nya dengan singkat dan jelas, karna ini masih sangat canggung baginya, kejadian beberapa menit yang lalu masih ia ingat.
"Om antarkan saya ke kantor om saja"
"Kenapa?"
"Motor saya masih disitu"
"Tidak perlu, nanti asisten saya yang akan mengantarkan nya kerumahmu" ucap pria itu berusaha biasa saja
Kiara tak banyak bicara, ia menurut saja, kejadian tadi benar-benar membuatnya merasa canggung.
Sesampainya dirumah Kiara, ia langsung turun.
"Saya pamit, terimakasih" ucapku singkat
...***...
"Gadis itu jadi banyak diam semenjak, kejadian tadi apakah saya salah"
"Sepertinya saya harus kembali lagi kesini, untuk meminta maaf padanya"
......***......
"Kaka tadi malam kemana, kami menunggu kaka"
"Maaf ya, kaka nginep dirumah temen kaka, sekarang kaka bawa makanan buat kalian, ayo kita makan"
"Kak, kok makanan nya enak enak banget ya" celetuk adiknya yang paling besar
"Kaka beli dimana?" ucap gadis kecil itu, dengan terus melahap makanan nya
"Kaka ga beli, ini pemberian dari orang"
Memang benar yang di katakan adik ku, masakan nya sangat enak.
"Kalo sudah makan nya nanti simpan lagi ya sisanya, untuk makan siang kita"
"Oke kak"
...***...