Kiara

Kiara
58.



Arlan tersenyum puas dan bertepuk tangan senang bertingkah seperti orang sakit jiwa. dia sangat senang, semua rencana yang telah di susunnya berjalan sesuai keinginannya.


Dendam sakit hatinya akan terbayar segera. arsen akan merasakan kehancuran seperti dirinya. dan kali ini rencananya harus berhasil dia tidak ingin seorangpun merusaknya termasuk arkhan sekalipun. arlan menatap padatnya ibukota dari ketinggian jendela ruang kantornya. dan dia harus bersiap untuk rencana berikutnya.


Di sebuah apartemen mewah tampak tiga orang pria yang tengah serius membicarakan sebuah bisnis yang bernilai triliunan. namun di tengah percakapan itu ponsel salah satu pemiliknya berbunyi.


Pedro melihat nama orang yang telah mengganggu urusannya. pedro mengerutkan dahinya dia merasa heran mengapa lingga meneleponnya. akhirnya pedro memutuskan untuk menerimanya dengan meloudspeaker di depan desta dan arsen.


"Hallo tuan pedro tolong kami di..aakh sial!!" suara lingga terdengar terburu-buru.


Ketiga orang itu saling berpandangan penuh tanda tanya.


"Laarii non !!" suara lingga terdengar panik meminta kiara untuk lari.


Tubuh ketiga orang itu menegang di tempatnya. bahkan desta sampai memajukan tubuhnya tangannya bertopang pada kedua pahanya agar lebih jelas mendengar suara lingga.


Arsen menggenggam erat dan meremas pena yang di pegangnya dan pedro bersikap siaga seperti biasa.


"Lingga..lingga..hallo..woii..kenapa kalian..lingga.." desta berusaha berinteraksi dengan lingga.


Pedro menepuk lengan atas desta memberi isyarat pada desta untuk melihat ke arah arsen. tampak wajah arsen menegang dan tatapannya yang menghunus ke depan. jakun desta bergerak menelan saliva seketika dirinya terdiam dan pedro sudah siap dengan tugasnya.


Mereka masih menunggu lingga bicara karena hubungan telepon keduanya belum terputus.


"Sepertinya mereka masih lari..kedengaran napasnya ngos-ngosan gitu" ucap desta yang lagi-lagi bersuara namun di acuhkan keduanya.


Pedro mulai bergerak mengeluarkan laptopnya dan melacak keberadaan lingga melalui lokasi pada ponsel lingga. namun tak lama terdengar lagi suara lingga dan kiara bicara dan sepertinya pembicaraan itu tak mereka sadari terhubung pada pedro.


"Kenapa gak kita lawan aja mas !" suara kiara yang berteriak pada lingga dengan napas tersengal.


"Jumlah mereka terlalu banyak non bisa mati konyol nanti. kalau bisa kita pecah mereka dulu non !"


Arsen sangat marah setelah mendengar ucapan lingga. ada seseorang yang menargetkan istrinya dan dia tahu siapa pelakunya.


"Temukan mereka segera !!!"perintah arsen pada pedro dia mematahkan pena yang ada di tangannya.


"Siall !! koneksi terputus sepertinya di sana tidak ada sinyal..keberadaan terakhir mereka yang terlacak ada di luar kota di sebuah hutan jati" ucap pedro yang menemukan lokasi mereka sebelum terputus.


Arsen mengetik sesuatu pada ponselnya namun belum selesai, pedro sudah mencegahnya.


"Maaf tuan, kita tidak bisa menggunakan helikopter terlalu beresiko. hutan di sana masuk dalam kategori hutan di lindungi dan keberadaan helikopter akan terlalu mencolok. akan banyak birokrasi yang terlibat terutama dari penjaga hutan" jelas pedro yang mengetahui maksud dari pergerakan arsen.


Braaakk


Arsen melempar ponselnya keras ke lantai dan menggebrak meja. wajahnya nampak begitu marah dan murka.


"Kalau gitu pakai otak kalian ! temukan mereka segera" arsen menggerakkan tangannya cepat dengan gerakan mulut penuh amarah.


Seketika pedro dan desta terdiam kaku. tiba-tiba desta menjentikkan jarinya di depan pedro.


"Star chip !! cepet buka laptop lo..gue tau lo gak sembarangan ngijinin kiara pergi sendiri, tapi gue gak tau lo taro di siapa star chipnya" ujar desta lantang yang membuat pedro bertindak cepat membuka laptopnya.


Mereka melihat titik merah yang bergerak cepat pada layar itu. desta mengambil alih peran pedro membiarkan pria latin itu menelepon seseorang. pedro memerintahkan anak buahnya untuk bergerak secepat mungkin. dia membagi bawahannya menuju hutan jati dan mengikuti arah titik lokasi pada layar imacnya. lalu mereka bertiga mulai bergerak cepat ke lokasi untuk memastikannya.


Di tempat lain kiara yang tersadar dari pingsannya mengamati sekelilingnya. sekarang dirinya berada di ruangan kosong yang terasa pengap dan gelap. dengan tangan dan kaki terikat dia di letakkan di atas ranjang kayu yang kotor.


Kiara mengulang kembali ingatannya, di saat terakhir dirinya melihat tubuh lingga yang tersungkur bersimbah darah. setelah itu dia pun tak ingat lagi ketika salah satu penculik itu berhasil membekapnya.


Entah apa yang terjadi sebenarnya diapun tak mengerti. mengapa orang-orang itu ingin menculiknya. siapa dalang di balik semua ini dan apa tujuannya. berbagai pertanyaan berkecamuk di kepalanya. membuatnya frustasi dan menguras emosinya.


"Aaarrrgghh.. !! hiks..hiks.." kiara berteriak dan menangis sejadinya mengeluarkan semua beban itu terutama rasa bersalahnya pada lingga.


Tiba-tiba dia merasakan kram di perutnya yang terasa amat menyakitkan. kiara berusaha menahan rasa sakit yang mederanya. dia mengingat buah hatinya dan seketika dia sangat mengharapkan suaminya arsen datang menolongnya. tapi mungkinkah itu terjadi.


"Aakkhh..sa..sakitt..ya allah tolong selamatkan anakku..aku mohon lindungilah anakku..aakkhh" kiara merintih merasakan sakit di perutnya.


"Kaakk...mama..papa..abang maafin ara..tolong ara...ara sakit..ara gak kuat.." racau kiara dengan mata terpejam.


Pintu ruangan itu terbuka kiara mendengar suara derap langkah yang mendekat. matanya sulit untuk membuka siapa yang memasuki ruangan ini. kiara hanya mampu meracau.


"Toloong...tolong..selamatkan anakku..! tolong selamatkan anakku..tolong..!" kiara semakin meracau dan tubuhnya kian meringkuk untuk menahan sakit.


"Sayangnya mungkin anakmu tidak akan pernah bisa melihat dunia ini..!"


Suara itu yah kiara mengenali suara itu, kiara memaksakan untuk membuka matanya. dan dia terkejut ketika mengetahui orang tersebut. pria berkursi roda itu adalah arlan, dia kakak kembar arkhan. tapi mengapa dan kenapa, apa tujuannya dia melakukan semua ini.


"Kamu terkejut..ini bukan yang utama mungkin kamu akan lebih terkejut jika kamu tahu alasan aku melakukan ini." sarkas arlan.


"Kamu tahu..! arsenlah yang membuat kaki ini lumpuh" ucap arlan dengan nada keras. dan membuat kiara tersentak dan juga tak percaya dengan pendengarannnya.


"Tidak..tidak..kamu bohong..kamu bohoong !!" kiara menggeleng kuat.


"Hahahaaa..menyangkallah sesukamu, karena setelah ini aku hanya ingin arsen hancur di tanganku..anak dan istrinya akan mati hari ini hahahaa" arlan tertawa puas.


"Berdoalah pada tuhanmu..seperti dulu aku berdoa agar arsen tidak membunuhku dan kamu tahu.. tuhan mengabulkan doaku tapi dia mengambil kakiku..jadi mungkin saja tuhan memberikan salah satu dari kalian kesempatan hidup hahahaa" arlan berbalik meninggalkan kiara yang kembali menangis.


"Tuhan kali ini aku pasrahkan semuanya padamu...hidup dan matiku hanya milikkmu.." kiara bergumam dan kembali tak sadarkan diri dengan rasa nyeri yang tidak tertahan lagi.