Kiara

Kiara
76



Tampak seorang laki-laki paruh baya berdiri dengan mata yang terus mencari mengawasi setiap orang yang berlalu lalang di bandara tivat montenegro. Max adalah utusan dari perusahaan yang di tugaskan lucas untuk menjemput arsen. Berbekal sebuah foto yang di pegangnya max terus mencari sosok arsen di antara banyaknya wisatawan yang datang.


Yah, montenegro negara kecil kepulauan di belahan eropa dengan banyak pantai dan panorama alam pegunungannya menjadi sebuah negara yang paling banyak di kunjungi wisatawan seluruh dunia.


Perjalanan belasan jam yang melelahkan berakhir. Arsen memang sengaja menggunakan penerbangan komersil kelas executive bisnis di banding menggunakan jet pribadinya hanya semata ingin menikmati sensasi sebuah penerbangan dengan layanan eksklusif. Sebuah alasan yang menurut lingga yang terlalu di buat-buat dan tidak masuk akal.


Arsen melihat seseorang memegang kertas bertuliskan namanya. Dengan ramah max menyambut anak boss besarnya, max pun mengambil alih koper yang di bawa arsen. namun dengan cepat dan halus di tolaknya malah dia berikan pada lingga. membuat max tersenyum malu pada lingga dan cathy yang berada di belakang arsen.


Decakan kagum berkali-kali keluar dari mulut lingga selama perjalanan menuju hotel. Sementara cathy hanya menggerutu dalam hati sebab semenjak ada lingga kesempatannya untuk mendekati arsen semakin susah dan lagi-lagi cathy harus duduk bersama sopir. Cathy pun merasa heran dengan sikap arsen yang selalu membiarkan lingga berbuat sesuka hati terhadapnya.


Deretan bangunan-bangunan bergaya retro menjadi daya tarik siapapun yang melihatnya, di tambah jalanan yang bebas macet menambah kenikmatan dalam perjalanannya.


"Di sini banyak banget cafe-cafe yang modelan kayak orang post di instagram. jadi laper nih perut !" gumam lingga tanpa sadar dapat di dengar oleh arsen dan cathy.


Arsen melirik jam tangannya dan mematikan ipadnya lalu memasukkan kembali ke dalam tas kerjanya.


"Max !! sudah waktunya makan siang, kamu cari tempat terbaik di sekitar sini." perintah arsen pada max dan itu membuat lingga dan cathy menoleh bingung.


"Baik tuan, maaf kalau saya boleh sarankan, di sini ada sebuah toko cake and bakery dia menjual aneka kue yang semuanya terbaik bahkan itu toko favorit tuan lucas, tempatnya tidak terlalu besar namun nyaman dan yang terpenting makanan di sana halal tuan" jelas max panjang lebar.


"Tunggu apalagi cepat ke sana !"


"Baik tuan"


Arsen menatap bangunan yang ada di hadapannya tampak seperti yang lainnya namun begitu dia memasuki toko itu dia terkejut ketika sebuah sapaan 'selamat datang' dalam 3 bahasa dia terima. bahkan yang lainpun ikut merasa heran.


"Maaf mbak apa di sini rata-rata karyawannya bisa bahasa indonesia?" lingga bertanya mewakili rasa penasaran yang lain termasuk arsen.


"Ehm iya mas, kami semua memang bisa bahasa indo soalnya pemiliknya juga orang indo jadi beliau menyarankan jangan sampai meninggalkan budaya dan bahasa kita. meskipun ada beberapa karyawan asli orang sini tetap syarat utama harus bisa bahasa indo atau nanti kita yang akan ajarkan ke dia, begitu mas "


"Ooooohhh berarti makanan indonesia juga ada donk"


"Banyak mas semua makanan favorit orang indo ada mas, karena kita menjual roti dan kue khas indo dan western karena suaminya yang punya toko ini orang bule mas tapi dia masih tugas di luar kota belum per..."


"Raniiii cepat layani tamunya dengan baik jangan kelamaan diri di situ"


"Astaghfirullah maaf mas saya jadi malah cerita, mari silakan ! saya akan berikan tempat dengan spot terbaik untuk pelanggan baru yang akan menikmati hidangan kami di tempat"


Arsen memandang takjub dengan desain interior toko ini. nuansa budaya indonesia sangat kental dan menambah kesan yang sangat artistik. mereka menikmati sebuah pelayanan yang sangat baik dan hidangan yang boleh di bilang setara dengan hotel bintang lima namun dengan harga yang sangat bersahabat. pantas saja toko ini menjadi favorit sang ayah.


Cathy dan lingga melihat takjub dengan selera makan boss mereka yang boleh di bilang ini yg pertama kali melihat boss mereka makan dengan lahap. berbeda dengan max yang tersenyum senang karena merasa pilihan tempatnya sesuai dengan selera anak bossnya.


Kini saatnya mereka kembali ke hotel, arsen berjalan keluar terlebih dahulu di ikuti dengan max dan cathy menuju mobil. lingga di perintahkan arsen untuk membeli beberapa sandwich untuk di bawa pulang.


Lingga membuka pintu toko sambil tersenyum senang dan sedikit menari karena perutnya sudah penuh terisi. kepalanya bergoyang kiri kanan dan bersiul menuju mobil. gerakannya terhenti tatkala pandangannya melihat pada pasangan suami istri yang berjalan beriringan sambil tertawa, sang suami menggendong seorang anak laki-laki.


Lingga memperhatikan pasangan itu dia sangat mengenali sosok perempuan itu. jarak mereka memang tinggal beberapa meter lagi ingin rasanya dia menghampiri pasangan itu. namun suara klakson mobil mengagetkannya membuat dia harus kembali melanjutkan langkahnya menuju mobil dengan pikiran penuh tanda tanya.


Kali ini lingga memilih diam ketika dia melihat tempatnya sudah di dahului oleh cathy. tanpa lingga ketahui ternyata arsen juga melihat kedua pasangan itu dari dalam mobil. rahangnya mengeras dengan tatapan tajam lurus ke depan dengan tangan terkepal di atas pahanya saat melihat pasangan yang dia ketahui sebagai istri dan musuhnya sedang bersama dan tertawa lepas.


"Maaf agak lama tad.." lingga menoleh ke belakang dan melihat isyarat cathy yang menaruh telunjuk di depan bibirnya. perlahan dia menoleh ke arah arsen yang berada di samping cathy, dan betapa terkejutnya lingga ketika dia mengikuti arah pandangan arsen.


"Glek..oh **** !!" lingga menelan sakivanya dan mengumpat dalam hati.


"Cepat max jalan !" ucap lingga dengan senyum kaku seperti robot untuk mencairkan suasana.


Setibanya mereka di hotel dengan kamar president suitenya, arsen dengan marah yang tertahan sedari tadi akhirnya meluapkan semuanya. dia melepas jas dan dasinya lalu melempar ke sembarang tempat. beberapa barang menjadi sasaran amukannya. bahkan cathy beringsut bersembunyi di belakang lingga takut menjadi salah sasaran kemarahan arsen.


Arsen memasuki kamarnya dan membanting keras pintu itu. membuat ketiganya terlonjak kaget. perlahan cathy keluar dari belakang lingga menarik ujung lengan kaus lingga meminta lingga menoleh ke arahnya.


"Pa..pak arsen kenapa ?" tanya cathy gugup dengan wajah yang pucat.


Lingga menghela napas lelah, bagaimana dia harus menjelaskannya pada max dan cathy.


"Intinya untuk kalian berdua sebaiknya jangan banyak tanya dulu karena aku juga gak tahu kenapa dan ada apa, terutama kamu kucing betina aku akan pesankan satu kamar lagi. lebih baik kamu jangan terlalu dekat dengan si boss dulu. jika ada urusan pekerjaan kamu bisa serahkan laporannya sama aku dulu..mengerti kan kucing betina"


"Siapa yang kucing !" hardik cathy kesal.


"Lagian lo siapa pake bikin aturan sendiri"


"Yaah itu sih terserah kalian aja, lagian aku cuma kasih saran doang kok"


Tak lama setelah lingga mengucapkan itu tiba-tiba tubuhnya menegang.


"LINGGAAA!!" suara teriakan arsen dari dalam kamar memanggil namanya membuatnya berdiri kaku. sedangkan max dan cathy hanya saling berpandangan sambil menelan saliva mereka sendiri.