
"Eh kalian tau gak gosip perusahaan SW group ?" seperti biasa ayesha selalu menjadi informan layaknya google.
"Kenapa mang ?" tanya nisa sambil mengunyah makan siangnya.
"Kalian beneran gak tau ya ?!"ayesha melirik kanan kiri ke arah teman-temannya.
Dan secara berbarengan mereka semua menggeleng.
"Udah sih cerita aje..kelamaan lu yes" ucap tora sambil melempar kulit kacang ke ayesha.
"Iih malah nyampah lagi lu bang ! jadi gini temen kost gue bilang pimpinan SW group ngundurin diri terus di ganti sama anaknya nah yang bikin trending topik itu katanya anaknya cacat dia pake kursi roda gitu" ucap ayesha menjelaskan.
"Serius lu yes ! temen lu tau dari mana ?" genta menyela di tengah pembicaraan.
"Bener gak nya gue juga gak tau tapi ya secara dia kan kerja di sono bagian hrd otomatis pasti infonya lebih akurat di banding karyawan bagian front office"
"Lom tentu juga kali yes. justru urusan gosip itu lebih cepat bagian front office" nisa menimpali.
"Iya sih tapi banyakan hoax nya di banding faktanya" tambah genta.
"Terus sekarang inti ceritanya apa ?" kiara yang sedari tadi cuek akhirnya angkat bicara.
"Intinya dalam rapat komisaris kemarin yang awalnya para pemegang saham itu ragu sama kepemimpinan anaknya karena cacat langsung berbalik 180 derajat setelah anaknya yang cacat itu bisa mendapatkan investor besar dari eropa. kalian tau bonus karyawannya itu liburan ke raja ampat lho atau bisa di ganti mentahnya bagi yang gak mau pergi. gila enak banget kan !"oceh ayesha semangat.
"Whaatt !! gila enak banget raja ampat cuuy !!" timpal tora kagum.
"Eh by the way ki kok dari tadi tuh makanan cuma di aduk-aduk sih" alvin mengalihkan topik pembicaraan karena melihat kelakuan kiara yang aneh.
"Oh eh ini..anu sebenernya aku lagi gak pengin makan gak tau kenapa perut berasa lapar tapi pas liat makanan gak nafsu gitu"ujar kiara.
"Masuk angin kali lu !" alvin menyahuti kiara.
"Atau jangan-jangan lu hamil !" ucap genta santai sambil menikmati soto makan siangnya.
Percakapan mereka di kantin ketika makan siang masih terngiang di telinga kiara, bukan tentang siapa pemimpin SW group melainkan ucapan genta yang mengatakan dirinya hamil.
Kiara bangun dari rebahnya entah kenapa badannya terasa capek dan tidak seperti biasanya hari ini sepulang kerja dia merasa malas untuk mandi justru memilih untuk rebahan.
Sejak kemarin nafsu makannya turun padahal perutnya terasa lapar. kiara pikir mungkin efek perkelahian kemarin tubuhnya masih perlu adaptasi. kiara menuruni tangga menuju dapur dan menuang segelas susu lalu membawanya ke ruang tengah.
Rumahnya terasa sepi karena tadi siang arsen mengiriminya pesan jika dia harus pergi menemui pedro dan pulang malam. Acara televisi tidak mampu mengalihkan pikirannya tentang kehamilannya. sampai suara pintu terbuka diapun tak menyadarinya.
Arsen memasuki rumah dan melihat kiara yang duduk bersila di atas sofa dengan tv menyala. namun yang menjadi perhatiannya pandangan kiara tampak kosong seperti sedang memikirkan atau membayangkan sesuatu.
Arsen sengaja membiarkannya dengan perlahan dia mengambil duduk di samping kiara. lagi-lagi kiara masih tidak menyadari kehadirannya dengan lembut arsen merangkul kiara dan itu membuat kiara terkejut yang tanpa sadar mengucapkan sesuatu.
"Bagaimana jika aku hamil !! uups.." refleks kiara ranpa sadar.
Tubuh arsen menegang dengan cepat dia membalik tubuh kiara untuk menghadapnya.
"Apa maksudmu ?!!"
"Kakak bikin kaget aja"
"Jawab dulu ara..apa maksud kamu ?"
Kiara pun menceritakan obrolannya bersama teman-temannya tadi siang pada arsen. ternyata reaksi arsen sungguh di luar dugaan.
"Kita akan cari tahu jawabannya malam ini juga"
"Klinik 24 jam di depan sana"
"Ka tunggu dulu mungkin di sana tertulis 24 jam tapi pada kenyataannya jam 10 juga mereka udah tutup. jadi mending tunggu besok pagi yaa"
"Kalau begitu kita ke apotik beli alat tes kehamilan aku tau apotik yang buka 24 jam. cepat pakai kerudung dan jaket kamu, aku ambil helm untuk kamu" ucap arsen menepuk kepala kiara lembut dan berlalu keluar untuk mengeluarkan motornya dari garasi kali ini dia mengambil motor bebek matic bukan motor sport yang biasa dia pakai.
Kini mereka sedang menuju kembali ke rumah setelah sebelumnya mereka membeli apa yang mereka cari. namun di tengah jalan kiara melihat penjual martabak pinggir jalan dan diapun meminta arsen untuk menepi.
"Mampir beli martabak dulu ya ka " ucap kiara turun dari motor dan melepas helmnya. Arsen pun mengangguk sebagai balasan.
Kiara memasuki kedai itu yang di ikuti arsen, ternyata kedai ini cukup ramai pada jam tengah malam seperti ini. lokasi tempat ini memang tidak jauh dari gerbang perumahannya. "apa orang kaya selalu lapar di jam segini" batin kiara.
Kiara menunggu pesanannya dia melihat kursi kosong di sebelah wanita yang sibuk memainkan ponselnya. kiara menarik arsen untuk ikut duduk dengannya.
"Permisi, apa kursi di sebelah anda kosong ?"
Wanita itu mendongak menatap kiara dan hampir saja dia menjatuhkan ponselnya ketika melihat pria yang berada di sebelah kiara. arsen dapat melihat kegugupan wanita yang ada di depannya ketika matanya bersitatap dengannya namun arsen tidak mengenali wanita itu.
Wanita itu adalah terra, terra berusaha mengendalikan dirinya dan menenangkan emosinya yang tiba-tiba muncul.
"Oh silakan..kursi ini kosong kok" ucap terra ramah.
"Terima kasih, ayo ka"
Tak lama kemudian pesanan mereka datang secara bersamaan. kiara melihat pesanan terra yang cukup banyak dan juga sepertinya kiara merasa terra sesekali melirik ke arah arsen.
"Mari mbak saya duluan"pamit kiara pada terra, dan di balas senyum olehnya.
Terra melihat arsen cara arsen memperlakukan kiara seingatnya dulu arsen orang yang tidak pernah perduli dengan wanita. bahkan ketika banyak perempuan yang berusaha cari perhatian, arsen hanya menanggapi mereka dengan dingin. beruntung arsen tidak mengenalinya sekarang ini. sesampainya di rumah dia akan menanyakan pada arlan mengenai perempuan yang bersama arsen tadi.
Setibanya di rumah arsen meletakkan motornya begitu saja tanpa harus memasukkannya ke dalam garasi. dengan segera dia menarik kiara memasuki rumah bahkan helm di kepala kiara belum di lepas. arsen membawa kiara ke dalam kamar dan memberikan tespack kepadanya lalu mendorongnya untuk masuk kamar mandi.
"Sabar sih ka ! helm aku aja belum di lepas"
"Maaf aku lupa..aku udah gak sabar mau tau hasilnya" ucap arsen sambil melepas helm kiara
"Tapi gimana kalau hasilnya negatif ? kakak gak marah kan?" ucap kiara menatap mata arsen.
"Apapun hasilnya tak masalah tapi aku lebih bahagia jika kamu hamil" arsen menjawil hidung kiara.
Kiara masuk ke dalam kamar mandi dengan rasa dag dig dug begitupun dengan arsen yang menunggu kiara di luar. arsen merasa cemas dan sedari tadi dirinya mondar mandir di depan pintu kamar mandi.
Akhirnya kiara keluar membawa stik kecil di tangannya. arsen melihat wajah kiara sedikit pucat maka dengan cepat dia meraih stik di tangan kiara. arsen tak mengerti maksud dari garis yang ada di stik itu. dia pun bertanya pada kiara.
"Apa artinya ara ?"
Kiara menatap arsen tak terasa airmatanya jatuh dan dia menghambur ke dalam pelukan arsen. arsen bingung kenapa kiara menangis namun dia membiarkan kiara menangis di dadanya. arsen mengelus dan mengusap punggung kiara menenangkan kiara yang sedikit mulai tenang.
"Hiks..hiks kak aku..kamu..kita.."
"Iya" arsen menjauhkan tubuh kiara sedikit dia menunggu ucapan kiara.
"Kita..akan punya anak ka huuaa..huaa" tangis kiara makin pecah.
Dan tubuh arsen menegang kaku masih berusaha mencerna ucapan kiara. namun sesaat kemudian senyum bahagia terbit di bibirnya diapun semakin erat memeluk kiara dan mengecupi puncak kepala kiara.
Kebahagiaan ini akan dia sampaikan pada orang tuanya dan mertuanya. besok dia akan membawa kiara ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut.