Kiara

Kiara
40.



Hawa dingin dan canggung kiara rasakan di sekitarnya.berada di antara kedua pria dengan aura yang menakutkan membuat kiara mati gaya.sudah lima belas menit berlalu namun tidak ada di antara mereka yang memulai pembicaraan.


Kiara bahkan merasa aneh dengan sikap keduanya.mereka seakan saling kenal tapi mengapa seperti terlihat saling bermusuhan.bahkan tatapan keduanya seolah ada rasa ingin saling membunuh.sebenarnya ada hubungan apa di antara keduanya.mengapa justru dirinya yang terjebak dalam situasi yang menegangkan ini.


"Ekhem..mau sampai kapan diam nie..hehehe" kiara berdehem mencoba mencairkan suasana yang sedari tadi tegang.


Arsen terlihat acuh dan hanya menatap tajam pada arkhan yang duduk di seberangnya.lain halnya dengan arkhan, dia justru menatap kiara dengan lembut dan tersenyum manis seperti biasa kiara lihat selama ini.


"Ki..apa kamu gak bisa usir dia dari sini..ganggu momen aja tau gak sih" sindir arkhan dengan tersenyum manis yang di buat senormal mungkin sambil melirik arsen.


"Haah..maksudnya gimana ?" tanya kiara kikuk dan bingung dengan maksud arkhan.


"Ck,maksudnya kita bicara empat mata alias berdua aja..laler ijo kek dia jangan ikut nimbrung di sini" gerutu arkhan kesal melihat sikap arsen yang cuek dan santai.


"Tap..tapi mas..aku gak bisa usir dia karena kak arsen itu su.." kalimat kiara terpotong oleh arkhan yang langsung membuatnya tersedak salivanya sendiri.


"Oke..lalu bagaimana dengan perasaan aku ? kamu tahu kan kia kalau..aku-suka-kamu..setidaknya berikan aku kesempatan bicara berdua" ucap arkhan tegas dengan tekanan di suku katanya dan menatap kiara lekat tanpa memperdulikan arsen yang sudah tampak sangat marah.


Suasana semakin canggung dengan kikuk kiara merapikan hijabnya yang rapi di lihatnya arsen yang sudah teramat sangat marah.kiara menurunkan satu tangannya ke bawah meja dan meletakkannya pada paha arsen lalu menepuknya pelan.


Gerakan tangan kiara yang menepuk pahanya membuat mata arsen menunduk ke bawah meja lalu menoleh pada kiara yang menatapnya dengan lembut di sertai senyum tipis untuk meredakan emosi arsen.


Arsen menghela napas dan balas menggenggam tangan kiara yang berada di atas pahanya.tanpa kiara duga justru arsen mengajaknya berdiri dan meninggalkan meja itu.


"Kak.." tindakan arsen yang mengajaknya untuk pergi membuat kiara semakin tak enak hati pada arkhan.


Arkhan memperhatikan semua,dia tahu jika ada sesuatu antara arsen dan kiara namun hatinya tetap menolak untuk menerima kenyataan itu.


"Mas maaf aku harus pergi..maaf ya mas" ucap kiara yang melihat pada arkhan sambil mengikuti langkah lebar arsen yang menarik genggaman tangannya.


Hati arkhan terasa remuk melihat kepergian kiara bersama arsen.selama ini ternyata dia salah langkah membiarkan perasaannya bermain cukup lama hingga tanpa sadar ada yang lain mendahuluinya.sekali lagi, entah mengapa dia merasa sekali lagi dia di kalahkan oleh arsen.


Rasa kehilangan dan perasaan yang merasa telah kalah bersaing membuat emosi arkhan menggila.dengan amarah yang ada dalam dirinya dia luapkan pada gelas dalam genggamannya yang dia tekan dan gebrak di atas meja sampai tangannya terluka.


Suara getar ponsel arkhan mengalihkannya,dia melihat sebuah pesan masuk dari arlan dengan malas dia membukanya.namun itu hanya membuat semakin dirinya bertambah kacau.


"Bodoh..udah gue bilang perempuan itu tidak layak..lo masih penasaran rupanya..asal lo tahu mereka sudah menikah..terserah lo mau percaya atau tidak tapi gue kasih tau sama lo..ini kesempatan lo buat bales si bangsat itu"


Arkhan membaca berulang kali tiap kalimat yang ada di pesan itu. " menikah..? kiara dan arsen ?" gumam arkhan semakin kacau.


Dengan langkah lunglai dan pikiran kacau serta emosi yang tidak stabil arkhan meninggalkan tempat itu.dia melajukan mobilnya tanpa tujuan berharap apa yang di alaminya malam ini hanya mimpi belaka.


Di sebuah salah satu resort keadaan yang tak jauh beda yang di alaminya tadi kini dia rasakan kembali.kiara duduk tertunduk di sisi tempat tidur di bawah tatapan mata arsen yang menatapnya tajam.entah mengapa dia merasa bersalah pada arsen namun di satu sisi justru dia merasa arsen tak adil menghakiminya tanpa menanyakan kebenarannya terlebih dahulu.


Dengan sedikit keberanian yang ada dalam dirinya kiara balas menatap mata arsen.kiara menghela napasnya berat.


"Kak..sumpah aku sama mas arkhan gak ada hubungan apa-apa..tolong dengerin penjelasan aku dulu yaa"


"Katakan !" ucap arsen menunggu penjelasan dari mulut kiara dengan wajah datar.


"Baiklah.."


Mengalirlah cerita dari mulut kiara tentang bagaimana awalnya dia bertemu dengan arkhan sampai akhirnya beberapa minggu lalu arkhan menyatakan perasaannya yang sampai hari ini belum dia jawab.


"Begitulah ceritanya...kakak percaya sama aku kan..karena aku juga gak tahu kenapa aku juga bisa cerita ini sama kakak...jujur sebelumnya mungkin aku juga sempat menyukai mas arkhan..tapi..itu duluu kak" terang kiara usai cerita dan segera meralat ucapannya ketika melihat reaksi arsen yang kembali tegang.


"Kalau sekarang..aku akan berusaha untuk mempertahankan pernikahan ini..maaf tapi aku cuma ingin menjadi jujur untuk pernikahan ini " tatap kiara dengan tulus pada arsen.


"Kamu tidak mencintaiku.." arsen menatap mata kiara mencari sedikit jawaban yang dia harap akan kiara berikan.


"Haah.. " kiara merasa bingung dengan kalimat arsen apakah itu sebuah pertanyaan atau pernyataan yang arsen tujukan untuk dirinya.


Tapi sayangnya sebelum dirinya sempat menjawab arsen sudah beranjak lebih dulu menuju kamar mandi.kiara memandang kosong ke arah menghilangnya arsen,entah apa yang di rasakannya kini.bukankah seharusnya dia yang menanyakan itu pada arsen tapi mengapa seolah dirinya yang di jebak untuk menyatakan terlebih dahulu.