Khalisa Humaira

Khalisa Humaira
9



" Mas, Tia Dian sama Risma mau kesini besok, Boleh ya?" Kata Khalisa, untuk meminta izin pada suaminya, sudah satu bulan ini khalisa tidak bertemu dengan ke-tiga sahabatnya.


" Boleh sayang, aku juga ada kerjaan yang harus aku urus besok. Jadi mereka bisa datang kemari untuk menemanimu" Jawab Gus Yusuf, mengijinkan ke tiga sahabatnya istrinya untuk datang menemaninya.


" Terimakasih mas" Kata khalisa memberikan kecukupan pada pipi Suaminya.


" Cuma di pipi nih?" lirik Gus Yusuf menaruh kedua tangannya di dadanya.


" iya, nanti kalau yang lain mas mintanya lebih" Khalisa paham betul seperti apa Suaminya ini, ia sangat mudah terpancing.


" Ya udah Tia Dian sama Risma gak boleh ke sini"


" iiih kok gitu sih, aku udah bilang sama mereka, mas. " Kata Khalisa, baru saja Ia mengabari teman-temannya kalau mereka diizinkan ke sini, dan sekarang suaminya bilang tidka boleh.


" Ini dulu dong" Gus Yusuf memajukan bibirnya, dan menaruh telunjuknya di bibirnya.


" Tapi janji gak minta lebih" Kata khalisa, karena jujur di sudah lelah untuk hari ini.


" Iya, janji. " Khalisa menuruti keinginan suaminya.


" Sayang, kira kira disini udah ada malaikat kecil kita gak ya?" kata Gus Yusuf memeluk istrinya dari belakang sambil mengelus perutnya penuh cinta.


" Kira kira ada gak ya mas?" Tanya balik khalisa. ia menunduk melihat tangan suaminya yang masih setia mengelus perutnya.


" Kita cek aja sayang ke dokter, siapa tahu udah ada. "


" tapi kalau belum ada gimana mas?"


" Ya gak pa-pa sayang, belum rejeki kita. Tapi apa sebaiknya kita menunda dulu sayang, biar kamu bisa fokus pada kuliah mu. " Kata Gus Yusuf, Hampir saja in lupa kalau istrinya ini akan melanjutkan pendidikannya.


" Gak, aku gak mau mas. aku juga belum mendaftar kuliahku. Kalau dia sudah ada disini, aku akan menunda untuk kuliah mas, aku mau di rumah saja mengurusnya, gak pa-pa kan mas?"


" Tapi sayang pendidikan kamu juga penting lho.." Karena Gus Yusuf tidak mau gara-gara pernikahan mereka ini membuat cita-cita istrinya menjadi tertunda.


" iya aku tahu mas, Tapi kalau mas menyuruh untuk menundanya aku menolak kerena itu ada efek sampingnya mas. " Kata Khalisa, Karena menunda kehamilan sebelum memiliki anak itu sangat berbahaya, efek sampingnya bisa membuat dirinya tidak bisa menjadi wanita seutuhnya.


" kalau itu keputusanmu, Mas tidak akan memaksa. " Kata Gus Yusuf tidak mau memaksa istrinya.


****


Setelah sarapan Gus Yusuf langsung berpamitan dengan khalisa, untuk pergi mengurus perkejaan.


" Kalau mas telat pulangnya, tunggu mas di rumah ummi" Gus Yusuf takut akan pulang kemalaman, dan membuat istrinya takut di rumah sendiri.


" Iya, mas tenang saja aku berani kok" Khalisa paham keresahan suaminya.


" iya mas tahu kok istri mas ini sangat pemberani. mas pergi dulu, assalamualaikum"


" Waalaikumsalam warahmatullahi" Setelah selsai berpamitan dengan istri Gus Yusuf meninggalkan halaman rumah. Sekitar pukul sembilan , tia Dian dan Risma datang.


" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh" Ucap mereka serempak. Mereka membawa keresek belanjaan masing-masing.


" Waalaikumsalam warahmatullahi, akhirnya kalian datang juga. Ayok masuk" Kata Khalisa mempersilahkan Tia Dian dan Rima masuk.


" Gus Yusuf gak ada di rumah kan?" Tanya Rima, takutnya nanti mereka mengganggu kenyamanan rumah ini.


" Iya, beliau ada kerja di luar sampai malam"


" Alhamdulillah " sorak ketiganya lagi, mereka sangat bersyukur Gus Yusuf tidak ada dirumah, dengan tidak adanya Gus Yusuf di rumah ini maka mereka bebas bertindak sesuka hatinya tanpa mengganggu kenyamanan Gus Yusuf.


" Kenapa?" Tanya khalisa bingung melihat ke tiga sahabatnya.


" Gak ada apa-apa sih, cuma nanya" kata Rima, padahal kalau Gus Yusuf ada di rumah mungkin mereka tidak mengeluarkan suara sekencang ini.


" Ya udah kalian duduk dulu, aku ambilin minum dulu dan cemilan." kata Khalisa ingin pergi mengambil cemilan yang sudah ia siap kan.


" Aku ikut" Mereka serempak.


" Bagaimana kalau kita bagi tugas aja" Kata Tia.


" Ya udah aku buat minuman untuk kalain, Tia yang rapiin barang bawan di sini, terus nanti Risma Sama Dian bantu aku keluarin Cemilan yang sudah aku siapin "


Mereka sibuk menyiapkan makan untuk mereka di ruang tengah, sudah ada makan ringan yang di beli khalisa kemarin dan juga ada makanan yang di bawa ketiga temannya ini.


" Lengkap banget makanannya, kita Kayak mau buka toko" Kata Khalisa membawa beberapa minum dingin. Meja itu penuh dengan makanan ringan yang di bawa ketiga sahabatnya dan juga cemilan.


" Ya, apa kita buka toko sehari aja disini ya"


" kau gila ya, bisa di usir kita sama keamanan pesantren."


" sok banget mau buka toko, entar juga nih habis apalagi di tambah dengan ghibah kita nanti"


" Sudah sudah, Sekarang mana titipan ku" kata khalisa kepada ketiga temannya.


" iya hampir lupa, Karena pesananmu ini aku di ceramahi sama ibu-ibu sana, Dia kira aku bermain gila sama aki-laki " kata Risma mengingat ketika dia diceramahin sama ibu-ibu yang di apotik kemarin pas ia membeli pesanan khalisa.


" sama aku juga, dapat teguran dari pelayanan. Untung aja otak ku tidak buntu, ku buat alasan mama aku yang suruh aku bili ini, baru dia kasih ke aku" Sama dengan Rima, Dian juga merasakan hal sama..


" emang bisa?" Kata Riska dan juga Dian. Sejak kapan beli testpack online? Apa di sini ada yang Kayak Tia?.


" sekarang ada namanya gojek, grab. aku pesan dari sana, jadi gak malu deh."


" otak ku gak nyampe sana, soalnya aku kira beli testpack itu hal yang wajar bagi Wanita. "


" sama aku juga"


" Untuk wanita yang sudah menikah!!" Jawab Tia memutar bola matanya.


" Maaf ya, karena aku kalian jadi repot kek gini." Kata Khalisa merasa bersalah, Dia juga sama dengan Rima dan Dian, dia mengira membeli testpack itu seperti membeli barang pada umumnya.


" Gak papa, kamu itu sahabat kami. tenang ini namanya menciptakan sebuah kenangan yang indah" kata Risma.


" Ya, kamu tenang saja. kami juga tidak tahu kalau membeli ini sangat sulit di dapatkan di usia kita ini"


" Tapi sa, kamu sama Gus Yusuf sudah melakukan itu?" Tanya Tia Penasaran.


" Goblok, kalau dia nyuruh kita beli benda itu, ya jelas sudah lah" Rima menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan konyol yang di lontarkan Tia.


" Aku kan cuma nanya "


" Sa, coba kamu cek. kita juga mau tahu hasilnya negatif atau positif." suruh Risma, penasaran apa khalisa sudah isi atau belum.


" Nanti dulu lah, kita ngobrol aja dulu" Jawab khalisa, karena masih banyak waktu untuk memeriksa itu, dia juga tidak terlalu yakin dengan hasilnya dan itu membuat ia ragu untuk mengeceknya.


" Masih banyak waktu Sa, kamu cek dulu lah. kami penasaran. "kata dian, mendesak khalisa untuk pergi mengecek dia hamil atau tidak.


" Ya, udah aku cek dulu ya" Kata Khalisa pergi ke kamar mandi untuk mengecek apa ia hamil atau tidak, karena ia sudah telat Dateng bulan satu Minggu.


" Assalamualaikum, Lho ada teman-teman khalisa " kata ummi Salma, baru saja datang ke rumah menantunya.


" Waalaikumsalam warahmatullahi, hehe iya ummi" Jawab mereka dan berubah menjadi wanita anggun.


" Khalisa ya kemana? kok gak bareng kalian?"Tanya ummi Salma mencari keberadaan menantunya.


" Lagi ke kamar mandi ummi" Jawab Dian sopan, Beberapa lama kemudian khalisa menghampiri ke tiga sahabatnya dan juga mertuanya.


" ummi kapan datangnya?" Tanya khalisa melihat ummi Salma duduk bersama dengan ketiga sahabatnya.


" barusan, ummi mau nganter ini, titip dari Abi mu" ummi memberikan paper bag itu pada khalisa.


" Terimakasih ummi"


" Iya nak, tadi pagi suami mu bilang kalau dia akan pulang malam, kalau kamu mau ke rumah bilang aja, biar ummi jemput kesini"


" Iya ummi"


" Iya udah ummi pamit dulu"


" Iya ummi"


" Assalamualaikum"


" Waalaikumsalam warahmatullahi"


" Gimana sa?" Tanya Dian, Tia Rima juga penasaran, apa hasilnya positif atau negatif.


" nunggu dulu, baru hasilnya keluar "Kata Khalisa, sebenarnya ia sengaja meninggalkan testpack itu begitu saja di laci kamar mandi kamarnya karena jujur ia masih belum siap..


" Oo, nunggu dong kita nih." Dian pura lemas.


" Gak usah di tungguin kali, yang harus tahu khalisa Hamil atau gak itu harusnya Gus Yusuf, suaminya bukan kita" Kata Rima.


" Encer juga otak mu ya, pas pelajaran ustadz Fikri aja gak ada encernya " Sindir Dian, setiap pelajaran ustadz Fikri pasti Rima selalu mengeluh setelah pelajaran usai.


" Iya juga, mungkin karena gak suka sama gurunya kali ya" Jawab rima kesal mengingat wajah ustadz Fikri.


" Jangan bilang gitu nanti suka lho" ledek Tia, entah ada dendam apa Rima sana ustadz Fikri, dia selalu kesal melihat Fikri, dan Tia selalu bingung dengan Rima.


" Dih amit amit " Kata rima sambil mengetok meja.


" Awas nanti kau korban perjodohan " kata Khalisa ikut menggoda Rima.


" Aiss kalian ini, sampai kapan pun itu tidak akan terjadi"


" Siapa tahu kedua orang tua ustadz Fikri sahabat sama kedua orang tua mu, terus beliau sudah merencanakan perjodohan kalian tanpa kamu tahu rim. " Kata dian..


" Gak mungkin, aku lebih memilih di jodohkan sama bang Kahfi aja, punya adik iparnya cantik pinter akrab lagi. "


" Masalah Khalisa tidak mau punya Kakak iparnya seperti kamu Rima"


" Bener kamu gak mau aku jadi Kakak iparnya mu sa" Khalisa menganggukkan kepalanya membuat Tia dan juga dia tertawa puas.