
Dunia kampus memang semenyenangkan itu, dari banyak yang teman, hanya beberapa orang yang akan menjadi paling dekat. Contoh khalisa, banyak sekali dulu yang bertema dengan dirinya, tapi ia hanya punya teman akrab hanya satu seorang, Aretha sekaligus calon kakak ipar nya.
Berbeda dengan Aretha, ia memiliki banyak teman cowok maupun wanita. Tapi sebagai muslim Aretha sadar harus membatasi pergaulannya dengan lawan jenis, lebih lebih ia harus mempersiapkan diri untuk seseorang yang mengisi hatinya. Aretha tidak membatah jika ada yang mengatakan ia suka dengan bang Kahfi, kerena memang benar adanya. maka dari itu, ia ingin menjemput cintanya melalui jalan halal yang sudah di sediakan Allah.
" apa sebaiknya kamu gak cuti aja sa, perut mu sangat besar" ternyata baik suami, mertua, Abangnya dan calon Kakak iparnya memberi saran yang sama.
" enggak, bentar lagi ujian. Dan setelah ujian libur. Jadi untuk apa aku cuti, toh di rumah aku gak ngerjain apa-apa." khalisa tetap saja menjawab seperti ini, mungkin ia sudah di takdirkan untuk menikmati kehamilannya di dunia kampus.
" ngeyel banget sih di kasih tahu ya" gemas Aretha menyentuh pipi Khalisa " gemas banget deh, pengen gw tabok"
" masa umma di tabok nak sama Tantemu, eh maksudnya calon Tante mu"
" SA" mata Aretha melotot kearah Khalisa sedangkan orang yang tatapan tajam, tertawa puas, sangat puas. " nyebelin bangettt"
" Haha maaf maaf. Habisnya kamu, masa aku mau di tabok. aku aduin bang Kahfi lho nantinya. "
" aduin aja " Jawab Aretha cuek. tidak ada kaitannya dengan bang Kahfi, apa kalau Khalisa mengadukannya pada Kahfi, Kahfi akan mengomelinya atau memberikannya hukuman.
" bener, nanti gak jadi Kakak ipar aku lho" canda khalisa, menggoda calon kakak iparnya memang candu.
" bodo amat, aku haus mau beli minum" Aretha meninggalkan Khalisa yang terduduk di taman.
" lah kok di tinggal, beneran marah ya" ucap khalisa melihat Aretha berlalu pergi. " astaga nak, apa kamu ingin mengikuti calon Tante mu" Khalisa mengelus perutnya ketika merasakan tendangan dari sang buah hati yang masih di dalam perut.
" kenapa tidak menyusul?" tanya Aretha membawa botol air mineral dan memberikan pada khalisa. Ia kita tadi khalisa akan menyusul ternyata tidak.
" Tadinya mau, tapi aku males jalan. Dan dia terus menendang" kata Khalisa, membuat Aretha ingin menyentuh perut khalisa.
" apa boleh aku merasakannya juga?" Aretha penasaran, apa bayi yang di dalam kandungan bisa menendang seperti yang di katakan khalisa.
" sentuhan lah, siapa tahu ia ingin berkenalan dengan tantenya" khalisa tersenyum jahil pada Aretha, tapi Aretha bodo amat. Ia lebih dulu menyentuh perut Khalisa karena penasaran.
" tidak ada " kata Aretha, melihat ke arah khalisa. Khalisa membimbing tangan Aretha untuk kembali menyentuh perutnya..
" Nak, kenalin ini colon istri bang Kahfi, kakaknya umma. Dan kan menjadi Tante mu. Namanya, Tante Aretha." setelah mengucapkan itu, benar saja, bayi itu menendang seperti menyambut hangat ke hadiran Aretha.
" sa dia nendang, Masya Allah. Jadi pengen punya anak juga deh" ucap Aretha keceplosan dan membuat Khalisa terkekeh.
" nikah dulu, baru punya anak. Atau mau ku bilangin bang Kahfi, cepet-cepet nikahin kamu, soalnya udah gak tahanan mau punya anak"
" SA "
Khalisa tertawa puas melihat muka merah Aretha, sungguh Aretha sang malu. Tapi, salahnya juga kenapa harus mengatakan itu di depan khalisa yang sudah di takdirkan untuk menjahilinya. rasanya ingin sekali Aretha menghilang dari hadapan khalisa sekarang juga.
" aku malu banget sumpah" Aretha menutup mukanya dengan kedua telapak tangan, tapi itu tidak membuat Khalisa berhenti untuk mentertawakan nya, tawa khalisa semakin menjadi.