Khalisa Humaira

Khalisa Humaira
16



Semakin hari semakin menjadi, Setiap kali khalisa menemukan mainan anak-anak, ia akan membelinya dan menaruhnya di kamar calon anaknya. Sedangkan suaminya yang melihat itu terpukul.


" Sayang mas mohon, cukup. jangan bersikap seperti ini lagi" Kata Gus Yusuf pada istrinya yang sedang merapikan mainan, Khalisa menghentikan aktivitasnya ia melihat kearah suaminya.


" Mas kenapa sih, ini itu harus di bersihkan setiap hari, agar tidak debuan.."


" Sayang cukup, cukup" Teriak Gus Yusuf membuat Khalisa terkejut " mas mohon cukup, jangan seperti ini" kata Gus Yusuf menagis, ia tidak bisa menahan tangisannya lagi.


" Mas gak bisa lihat kamu seperti ini, mas tersiksa. mas sakit" ucap Gus Yusuf disela-sela tangisannya.


" Mas...."


" Aku mohon sayang, jangan seperti ini lagi." Gus Yusuf memeluk istrinya, Sangat erat..


" Jangan seperti ini."


" Maaf, Aku masih belum bisa merelakan anak kita. harusnya waktu itu, aku memperhatikannya tapi aku malah mengabaikannya. "


" Tidak sayang, itu sudah takdir. kamu tidak salah. ini sudah takdir, anak kita disana bersama kakek nenek nya. Mereka sudah bahagia disana, Sekarang tugas kita membuat mereka bahagia juga, kita juga harus bahagia. Kamu tidak ingin anak kita sedih kan disana? tidak kan? maka berhenti seperti ini. Kita mulai dari awal sayang. Kita rangkai kisah bahagia kita ya sayang. "


Khalisa menangis sejadi jadinya di pelukan Suaminya. Ternyata apa yang di lakukan ini membuat Suaminya tersiksa.


" Maaf, mas. maafkan aku. "


Gus Yusuf menggelengkan kepalanya " ikhlas ya sayang, Suatu saat nanti kita akan berkumpul bersama anak kita sini. Untuk saat ini, kita harus bahagia, kamu gak mau kan Abi sedih melihat kamu seperti ini? " Khalisa menganggukkan kepalanya " sekarang kita harus bahagia sayang, biar ummi Abi dan anak kita bahagia disana "


***


Hari berganti hari bulan berganti bulan, sudah satu tahun lamanya berlalu. Sekarang Khalisa berada di sebuah universitas tempat ia berkuliah.


" Sayang, mas sudah di depan. " kata Gus Yusuf, sedang menunggu istrinya keluar dari kampus.


" iya mas, tunggu. sebentar lagi. "


" Iya mas. tunggu " Jawab Gus Yusuf, Sembari menunggu istrinya Gus Yusuf memainkan ponsel. Sementara Khalisa, ia baru keluar dari ruang kelasnya.


" Maaf, Membuat mas menunggu" Kata Khalisa Setelah masuk ke dalam mobil. menyalami suaminya dan lupa cup pipi dan bibir.


" Gak pa-pa sayang. mau langsung pulang atau makan siang dulu?"


" Makan siang dulu mas, Aku ajak bang Kahfi boleh?"


" boleh sayang. " Khalisa langsung menghubungi Kahfi untuk mengajaknya makan siang bersama. Sesampainya di restoran mereka langsung memesan makanan.


" Apa aku terlambat?" Tanya Kahfi, yang baru saja datang, lengkap dengan pakaian formalnya.


" Tidak sama sekali" Jawab khalisa " Abang terlihat sangat kurus?" Kata Khalisa sedih, melihat tubuh Abangnya yang semula berisi menjadi tidak berisi.


" Abang gak kurusan, bajunya kebesaran. " Jawab Kahfi. khalisa memperhatikan baju Abangnya emang bener adanya baju yang di kenakan terlihat kebesaran di tubuhnya. Tapi tetap aja di mata khalisa itu sangat memperihatinkan.


" Abang harus perhatikan pola makan Dan pola hidup bang, khalisa tidak mau Abang kenapa-kenapa. " Kata Khalisa tidak mau kehilangan, mata khalisa berkaca-kaca melihat Kahfi.


" Iya, Sekarang kita makan keburu makanannya dingin. " Kata Kahfi melihat Gus Yusuf dan juga khalisa. Mereka bertiga fokus pada makanan mereka.


" Kalian langsung pulang?" Tanya Kahfi..


" Tergantung.... " Jawab Gus Yusuf melihat istrinya.


" Aku mau beli buku dulu, Soalnya di suruh sama dosen. " Jawab khalisa..


" Abang sendiri gimana?"


" Aku harus kembali ke kantor, Banyak yang mesti di urus" Kata Kahfi, Semenjak Abi meninggal kerjanya semakin bertambah, ia juga harus mengambil alih tanggung jawab sang Abi.


" Abang, Apa lebih baik Abang nikah saja, biar ada yang ngurus " kata Khalisa, Semenjak Abi meninggal, Kahfi seperti orang yang tak tahu arah, dan tak terurus. Khalisa sebagai adiknya tidak bisa memperhatikan Abangnya setiap saat karena dia sudah berkeluarga.


" Kamu ini, Abang masih bisa ngurus Abang sendiri. " Kata kahfi menyentil kening adiknya, dia sendiri belum memikirkan tentang pasangan hidupnya.


" aiiis sakit bang, Mas lihat, istri mu yang cantik ini di sakiti sama Abangnya sendiri. " bukannya marah Gus Yusuf malah gemas melihat istrinya bersikap seperti ini..


" apa kalian gak lihat ini tempat umum " Kata Kahfi, kesal melihat adegan yang baru saja ia saksikan. Apa semua orang disini di anggap batu sama kedua insan yang sedang di mabuk asmara.


" Memangnya Kenapa? Udah halal kok" kata Khalisa mencium pipi suaminya.


" Yang ini gak sayang?" Gus Yusuf menunjuk bibirnya.


" Ya Allah, kuat kan hamba mu ini" Kata Kahfi. " Abang balik kantor dulu" Pamit Kahfi malu dan kesal melihat adik dan adik iparnya ini.


" Jangan lupa bang, Carikan aku kakak ipar." Kata Khalisa membuat Kahfi jengkel dengan adiknya.


****


Hari ini, Gus Yusuf mengajak Khalisa untuk mengunjungi rumah sepupunya yang akan menikah. Semua keluarga besar Gus Yusuf berkumpul di sini. Baru saja ia ingin memasuki ruangan tempat untuk menyiapkan makan untuk jamuan tapi langkahnya langsung terhenti ketika pembicaraan orang didalam.


" Pernikahan Yusuf, kenapa sangat tertutup. apa istrinya hamil duluan?" kata salah satu saudara ummi Salma..


" Jangan sembarang kalau gomong, kalau di denger salma nanti jadi masalah" Kata saudara yang satunya. Apa lagi, di antara keluarga ummi Salma, hanya Salma yang menikah dengan keturunan anak kyai, membuat ummi Salma sedikit berbeda dengan saudara lainnya.


" Tapi aku penasaran, kenapa pernikahan mereka sangat tertutup Sampai kita gak di undang" katanya lagi, penasaran.


" Salma sudah jelaskan bukan, acara ijab kabulnya cuma di hadiri dia suaminya dan keluarga mempelai wanita, dan juga pihak kantor agama"


" Tapi ya, aku dengar-dengar istrinya Yusuf pernah keguguran, tapi entah kapan itu."


" apa bener dia hamil duluan ya?"


Tanpa mereka sadari Khalisa mendengar omongan mereka, karena tadi khalisa disuruh untuk membatu kerjaan yang belum selesai , tapi karena mendengar omongan mereka semua khalisa mengurungkan niatnya..


" Lho nak, Kenapa gak masuk?" Tanya ummi Salma yang melihat khalisa yang hanya mematung membelakangi ruangan itu.


" Ini ummi, Tadi Mas Yusuf telpon." jawab khalisa bohong, ia menahan air matanya agar tidak keluar, untung saja hpnya ada di tangannya membuat ummi salma tidak curiga.


" Udah selesai telponnya?"


" Udah ummi"


" Ya udah kita masuk yuk, masih banyak yang harus di kerjakan."


" Iya Ummi" Khalisa mengikuti mertuanya dari belakang..


" assalamualaikum"


" waalaikumsalam warahmatullahi"


" Wah, menantuku yang cantik ini kapan datangnya"tanya pada khalisa, dia yang mengatakan khalisa hamil duluan tadi. bermuka dua banget orang ini, di belakang ummi Salma dan khalisa ia mengatakan hal buruk tapi sekarang ia mengatakan hal yang terlihat sangat manis.


" Barusan ummi" Jawab Khalisa, Khalisa memanggil semua saudara ummi Salma dengan sebutan ummi..


Mereka semua yang ada di ruangan ini berhenti membicarakan khalisa dan Gus Yusuf, ketika khalisa dan ummi Salma duduk bersama mereka. sekarang mereka asik membicarakan sepupu Gus Yusuf yang akan menikah. Ummi Salma meninggal Khalisa disini karena ia harus mengerjakan yang lain.


" Masya Allah cantiknya, Kalau boleh tahu siapa namanya yang cantik ini?" Kata Khalisa pada anak kecil yang di gendong ummi nya.


" Nama aku Maryam aunty cantik. " Jawab ummi Maryam, dengan suara bayi.


" Masya Allah nama yang sangat cantik, sama seperti orangnya. " khalisa menyukai anak perempuan ini, ia gemas melihat pipi yang sedikit cabi.


" kamu sudah cocok nak, Apa belum ada tanda-tanda gitu?" tanya saudara ummi Salma..


" Belum, doain aja ummi, semoga segera di kasih sama Allah " Jawab khalisa tersenyum, walaupun hatinya berkata lain.


" udah lama lho kalian menikah, masa belum ada tanda-tanda? Kasian Salma. Punya anak cuma satu, dan sekarang dia punya menantu yang mandul" ucap orang yang sama, ia berani mengatakan itu karena sekarang ummi Salma tidak ada di sini.


deg deg


Khalisa yang mendengar itu, merasa sakit hati. Ia menahan air matanya agar tidak keluar. ia mencoba untuk tersenyum mendengar ucapan saudara mertuanya, sesak di dadanya.


" Aiiis, Jaga ucapan mu. " kata sauda ummi Salma Yang lainnya. " Maaf ya nak, dia memang seperti itu, dia orangnya ceplas-ceplos." khalisa hanya menganggukkan kepalanya, dan tersenyum dengan terpaksa. Mereka sangat bermuka dua, jelas ia berani' berkata seperti itu pada khalisa, karena tidak ada ummi salam di ruangan ini.