
" Bagaimana kondisi Abi saya dokter?" tanya Kahfi ketika dokter keluar dari ruangan IGD.
" Alhamdulillah, kondisinya sudah membaik. pasien akan di pindahkan ke ruangan inap"
" Alhamdulillah" ucap syukur mereka.
"Terimakasih dokter"
Akmal sekarang sudah berada di ruangan inap, semua berkumpul di sini untuk melihat kondisi Akmal.
" Abi, yang mana yang sakit?" Katanya khalisa Melihat sang Abi terbaring lemah di tempat tidur. Rasa khawatirnya tingkat tinggi.
" Abi tidak apa-apa nak, kamu kau tidak perlu khawatir. " Jawab Akmal dengan suara lemah, wajah anak perempuannya terlihat sangat khawatir.
" Bagaimana khalisa tidak khawatir, Abi di larikan ke IGD, apa itu yang di sebut dengan baik-baik saja. "
Akmal tersenyum mendengar perkataan anak gadisnya " kamu tidak pernah berubah, kamu tetap sama" Kata Akmal. karena setiap ia masuk rumah sakit khalisa akan selalu bersikap seperti ini, sangat menghawatirkan kondisinya.
***
Sudah malam, tapi Khalisa menolak untuk pulang. ia ingin bersama abinya di sini, ingin selalu menjaganya dan selalu ada untuk abinya.
" Dek pulang ya, biar Abang di sini. ingat kamu sedang hamil, kamu juga harus memikirkan janin mu"
" gak aku mau di sini bang, Aku mau sama Abi, aku mau menjaga Abi" Kata Khalisa kekeh. karena selama abinya di rawat di rumah sakit ia tidak pernah menunggunya, maka dari itu ia bersikeras berada di sini saat ini. mendengar kata adiknya, Kahfi hanya bisa pasrah melihat ke arah Gus Yusuf. Gus Yusuf yang melihat kakak iparnya tidak berhasil membujuk istrinya pun hanya bisa menghela napas, ia mendekat pada istrinya.
" Baiklah kalau begitu mau mu sayang, sekarang tidur lah. ini sudah larut. mas sama bang Kahfi akan menjaga Abi" kata Gus Yusuf, Agar istrinya mau untuk tidur.
" Tapi mas-"
" Kalau masih membantah, kita pulang." Kata Gus Yusuf tidak ingin di bantah.
" kalau begitu aku tidur, Kalau Abi butuh apa-apa tolong bangunkan aku"
" Iya, sekarang tidurlah" Kata Gus Yusuf, untuk saja kamar ini memiliki kursi panjang, bisa di gunakan untuk beristirahat.
" Aku baru tahu kalau kamu keras kepala " Kata Gus Yusuf, setelah melihat istrinya terpejam, ia mengelus kepala istrinya dan mencium keningnya.
" Dia akan keras kepala jika menyangkut tentang Abi, dia akan bersikap seperti ini kalau Abi masuk ke rumah sakit" Jelas Kahfi tersenyum mengingat bagaimana khalisa akan bersikap seperti ini, " Kamu juga tidur lah, Aku akan menunggu Abi" kata Kahfi karena melihat mata sayup adik iparnya.
" tapi-"
" Jangan membantah, istirahat lah. kamu juga butuh istirahat. " Mau tak mau Gus Yusuf akhirnya menidurkan matanya. sementara Kahfi masih terjaga, ia menatap wajah laki-laki paruh baya yang sedang terbarik lemah di sampingnya. rasa tak ingin kehilangan menyelimuti tubuhnya, walaupun begitu ia harus berusaha tagar di depan semuanya terutama di depan khalisa.
Keesokan harinya khalisa membatu sang Abi mulai dari membersihkan tubuhnya dengan tisu basah dan juga membuat sang Abi untuk sarapan, khalisa tidak mengizinkan Kahfi atau Gus Yusuf membantunya.
" Sudah nak, istirahat lah. Kamu pasti capek" Kata Akmal pada putrinya, karena dari ia bangun sampai sekarang putrinya terus membuatnya tanpa henti.
" Khalisa tidak akan pernah capek kalau untuk Abi, Tolong biarkan khalisa melakukan ini Abi. ini pertama kalinya khalisa merawat Abi seperti ini" emang benar adanya, ini pertama kalinya ia merawat sang Abi, karena sebelumnya ia hanya bisa menginap semalam di rumah sakit dan esok harinya kembali ke pesantren.
" Abi tahu, tapi kondisi mu sekarang berbeda nak, kamu juga harus memikirkan cucu Abi" khalisa terdiam. " Sekarang sarapan bersama suami mu, kasian suamimu sudah mempersiapkan semuanya dan pulang lah untuk istirahat. "
" Tapi bi"
" Nak, kenapa kamu selalu membatah di situasi seperti ini?" Khalisa tidak menjawab, ia memilih mendekati suaminya dan sarapan bersama. Akmal tersenyum melihat tingkah anaknya. dulu ketika dia di rawat seperti ini, khalisa akan membantah perkataan abinya , agar ia tidak kembali ke pesantren. Tapi bantahannya itu akan sia-sia.
****
Sesampainya di rumah khalisa memberikan dirinya, begitu juga dengan Gus Yusuf, dan bersiap untuk pergi mengejar.
" Sayang, istirahat lah. mas mau ngajar dulu" pamit Gus Yusuf menghampiri istrinya.
" iya mas, Tapi nanti pulang ngajar kita ke rumah sakit kan?" kata Khalisa, Karena ia tidak bisa berdiam seperti ini di rumah sedangkan sang Abi masih di rawat di rumah sakit.
" Iya sayang, sekarang tidur ya, tidak perlu melakukan aktivitas lainnya. Mas hanya mengizinkan mu tidur selain itu mas tidak ijinkan. "Kata Gus Yusuf, ia hanya ingin istrinya memperbaiki tidurnya. khalisa nurut, Karena ia tidak boleh egois, ada nyawa manusia lain yang ia harus pikirkan, janinnya.
" Maaf ya nak, Karena ummi kamu juga kurang istirahat, Sekarang kita istirahat ya" Khalisa mengelus perutnya, penuh kasih sayang.
Sementara di rumah sakit, Kahfi masih tetap terjaga. Raut wajah yang sangat lelah tidak membuatnya merasa lelah menjaga sang Abi. Ia selalu ada di saat abinya membutuhkan dirinya.
" Assalamualaikum warahmatullahi"
" Bagaimana keadaan mu?" Tanya Ismail pada Akmal.
" Alhamdulillah sudah membaik. "
" Alhamdulillah "
" Nak Kahfi, Pulang lah. biar kami yang menjaga abi mu disini " Kata Ummi Salma, melihat raut wajah yang sangat lelah pada Kahfi.
" Tidak ummi, Kahfi di sini saja." tolak kahfi, Ia tidak ingin meninggalkan abinya sedetikpun, tidak ada kata lelah untuk abinya.
" kalau begitu tidurlah di sofa, kamu terlihat sangat kurang tidur nak " Mendengar perkataan ummi Salma membuat kahfi teringat pada sosok ummi nya, ummi Salma memang bukan ummi nya tapi ummi Salma bisa membuat dirinya merasakan ke hadiran sang ummi, membuat hatinya hangat.
" Baiklah ummi, tolong bangun Kahfi kalau ada apa-apa" Kata Kahfi, Kalau ia di suruh untuk tidur ia tidak akan menolak, tapi kalau ia di suruh meninggalkan rumah sakit ini Kahfi tidak bisa.
***
Sore harinya, khalisa bersiap untuk pergi ke rumah sakit, Ia juga sudah menyiapkan makanan untuk sang Abi dan juga Abangnya.
" Sayang apa kamu sudah siap?" Tanya Gus Yusuf ke dapur, Sebenernya ia melarang istrinya untuk ke dapur tadi istrinya tetep kekeh dan ingin memasak untuk mertua dan Kakak iparnya, mau tidak mau Gus Yusuf mengijinkannya dengan syarat ia juga ikut membantu.
" Iya mas, aku sudah siap."
" Kalau begitu kita berangkat sekarang" Ke duanya berangkat ke rumah sakit. sesampainya di sana ia melihat sang Abi sedang makan buah-buahan di temani Kahfi.
" Assalamualaikum"
" waalaikumsalam warahmatullahi"
" Bagaimana keadaan Abi?" Kata Khalisa tersenyum hangat, Walaupun di balik senyum itu tersimpan kekhawatiran.
" Abi sudah membaik nak"
" Alhamdulillah. "
" Ini, Khalisa bawa makanan untuk Abang, makan lah. " Khalisa memberikan makanan yang ia bawa. " biar khalisa yang menyuapi Abi"
" Terimakasih, Abang makan dulu." Kahfi sebenarnya sudah makan tapi ia tidak kuasa kalau menolak pemberian sang adik.
" Nak Yusuf sini" kata Akmal menyuruh Gus Yusuf mendekat. " Apa anak ku ini merepotkan mu nak?" tanya Akmal pada menantunya.
" Tidak Abi, Anak Abi tidak merepotkan Yusuf sama sekali tidak. justru Yusuf yang harus minta maaf pada Abi, karena Yusuf merepotkan anak Abi yang cantik ini" Akmal tersenyum melihat kearah menantunya.
" Apa sih mas, itu kan sudah ke wajib khalisa sebagai istri mu" Jawab khalisa dengan wajah memerah.
" Abi bahagia melihat kalian bahagia, Sekarang Abi bisa tenang kalau Allah memanggil Abi. "
" Abi bicara apa? Khalisa tidak Suka mendengarnya" kata Khalisa mendengar tuturan sang Abi, Kenapa harus berkata seperti itu, itu jelas tidak lucu!.
" nak, di dunia ini tidak ada yang kekal, Sesuatu yang bernyawa pasti akan meninggalkan. "
" iya, khalisa tahu bi, tapi tolong jangan berbicara seperti itu lagi. khalisa tidak Suka" kata Khalisa memang tidak suka mendengar apa kata Abinya barusan.
" Anak bi, Jangan cemberut doang. malu tuh di lihat sama Suamimu" goda Akmal.
" Biarin, pokoknya khalisa tidak mau mendengar kata itu lagi. " Kata Khalisa memeluk sang Abi.
" iya, Abi tidak akan berbicara seperti itu lagi. "
" Janji" Kata Khalisa bangun melihat abinya. Akmal mengangguk kepalanya. Khalisa kembali memeluk Akmal.
" Nak Yusuf, Terimakasih sudah menjaga anak perempuan Abi satu-satunya ini. Terimakasih nak."
" Seharusnya, Yusuf yang harus berterima kasih pada Abi, Yusuf sangat beruntung bisa mendapatkan kepercayaan yang sangat besar dari Abi. "
" Apa pun yang terjadi, berjanji lah nak. Jaga anak bi, jangan sakiti dia, karena kalau dia merasa sakit Abi juga akan merasa sakit. "
" Yusuf janji Abi akan menjaganya, Yusuf janji tidak akan menyakitinya. "
" Terimakasih nak, Abi senang mendengarnya. " Akmal tersenyum bahagia.