Khalisa Humaira

Khalisa Humaira
56



" kamu tidak pergi kuliah?" tanya Jordan ketika pelukan mereka terlepas, Jordan mengelus kepala sang putri penuh dengan kasih sayang.


" tidak, hari ini aku libur. "


" baiklah kalau begitu, ayah berangkat dulu. Jangan lupa manfaat waktu mu untuk membuat CV hari ini, agar ayah bisa memberikannya pada Kahfi"


" iya ayah, insya Allah hari ini akan jadi. "


" wah, anak ayah seperti sangat bersemangat. "


" bukan begitu ayah"


" ah, sudah lah. Ayah tahu kok Kalau kamu menyukai dia, ayah bisa melihat itu dari mata mu." membuat Aretha tersipu malu " ayah berangkat " Jordan memberikan kecupan singkat di puncak kepala sang anak.


" hati hati" kata Aretha melihat ke pergi sang ayah, dan entah, setelah itu ia seperti di rasuki maklum halus, lompat lompat kegirangan.


.


.


.


" sayang makan sudah jadi, ayok makan" ucap Gus Yusuf memasuki kamar.


" kita makan di sini saja mas, rasanya kaki ku malas sekali berjalan ke arah dapur " kata Khalisa melemas. Ya, hari ini yang memasak itu Gus Yusuf, seperti yang di katakan khalisa ia sangat malas hari ini.


" mas apa yang kamu lakukan" kata Khalisa sedikit berteriak karena terkejut suaminya tiba tiba menggendong tubuhnya yang sedikit berisi semenjak hamil.


" katanya kaki malas untuk berjalan, bukan itu seperti kode untuk mas?" bukan kah wanita seperti itu, selalu memberikan kode, seperti yang di lakukan istrinya saat ini, kaki nya malas untuk berjalan ke dapur bukan kah itu seperti kode untuk nya agar mengendong istrinya.


" kode apa sih mas, aku tidak memberikan kode apa pun, aku berkata jujur" kata Khalisa melihat suaminya, masih tidak percaya dengan apa yang di lakukan suaminya.


" apa kamu menyuruh ku untuk menggemukkan badan ku?" tanya khalisa dengan mata melotot.


" iya, biar semakin menggemaskan " kata Gus Yusuf mendudukkan istrinya di kursi, ia menyentuh pipi istrinya yang terlihat sedikit berisi " semakin berisi semakin membuat mas ingin menerkam mu!"


" mas!!"


" apa sayang, mas berkata jujur. Kamu seperti ini, terlihat sangat menggemaskan di mata mas. "


" bohong, kamu menyuruh ku gendut biar kamu bisa nikah lagi kan?"


" astaga sayang, gak gitu ya. pikiran mu sangat jauh, sampai kapan pun dan apa pun alasannya mas tidak akan mendua kan mu"


Tidak habis pikir, memikirkan perempuan lain saja tidak ada waktu untuknya, apa lagi menikah lagi? Pikiran istrinya ini sangat jauh dari prediksi BMKG.


" Benar kan kamu tidak akan meninggalkan ku, dengan alasan apapun" tanya khalisa serius, ia tidak ingin kehilangan laki laki yang ia sayangi lagi, dan mungkin sebentar lagi Kahfi akan meninggalkannya.


" hai, kenapa kamu menangis?" Gus Yusuf panik melihat istrinya menangis " aku tidak akan meninggalkan mu, apa pun alasannya. Mas akan selalu ada di sisimu, mas sudah janji sama almarhum Abi, akan selalu ada untuk mu dan akan selalu melindungi mu. Mas tidak akan mungkin mengingkari janji itu. Kamu percaya kan sama mas?" khalisa menganggukkan kepalanya.


" Kalau begitu, jangan menangis" Gus Yusuf mengusap air mata sang istri dan memberikan kecupan manis di bibir istrinya. " jangan nangis lagi, kalau gak mau mas terkam" ancam Gus Yusuf.


" Disini gak mas?" kata Khalisa menaruh telunjuknya pada pipinya dan detik itu pun Gus Yusuf memberikan ribuan kecupan pada istrinya, cup cup cup cup.


" yang mana lagi?" kata Gus Yusuf menatap istrinya dengan masra.


" udah mas, ampun. " kata Khalisa.


" mau lagi?"


" gak mas, udah. Kasian makanannya." kata Khalisa melihat makanan itu hanya diam saja, apa mungkin mereka cemburu melihat kemesraan mereka.