
Khalisa mengantar Aretha sampai mobil, tapi sebelum Ar memasuki mobil, sebuah mobil masuk kedalam pekarangan pesantren.
" itu bukan ya mobil bang Kahfi ya?" Tanya khalisa setelah memperhatikan mobil tersebut.
" itu emang mobil bang Kahfi Sayang." Jawab Gus Yusuf, karena ia hapal betul siapa yang punya mobil hitam itu, dan tak lama kemudian Kahfi keluar dari mobil.
" assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh "
" waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh "
Keduanya menyalami tangan Kahfi secara bergantian, tapi tidak dengan Aretha, ia sama sekali tidak menyatukan kedua tangannya ataupun mengulurkan tangannya pada Kahfi. Begitu juga dengan Kahfi, ia tidak memiliki niat untuk mengulurkan tangan nya, ia hanya menyapa dari senyuman.
" mau pulang ya?" tanya Kahfi melihat Aretha.
" iya, mau pulang." Jawab Ar canggung.
" Abang kok tumben kesini?" tanya khalisa, bukan kah abangnya ini sangat sibuk dengan pekerjaannya.
" kan tadi pagi kamu bilang sendiri sama bang, kalau ummi nitip salam untuk Abang. Emang salah Abang kesini?"
" ya gak gitu juga sih, kok Abang sensi banget sih kayak cewek."
" Abang gak sensi dek"
" hmm maaf sebelumnya sa, aku pamit duluan ya. " Ucap Ar memotong pembicaraannya kedua kakak beradik ini. Jika menunggu kedua kakak beradik ia selesai berdebat mungkin ia akan pulang besok.
" Eh iya, semoga selamat sampai rumah"
" Aamiin, Saya pamit Gus, bang." Ar masuk ke dalam mobil. " sampai jumpa besok" Ucap Ar menurunkan kaca mobilnya.
" iya, hati-hati ya pak nyetirnya" setelah melihat mobil Areta menjauh mereka bertiga masuk kedalam. Sebenernya Kahfi sedikit penasaran tentang Ar, ia ingin bertanya tapi ia urungnya.
Kahfi menyalami ummi Salma dan juga Ismail.
" apa kabar nak? kenapa gak pernah kesini?" tanya ummi Salma seperti tidak pernah bertemu sama Kahfi.
" maaf ummi, akhir-akhir ini kahfi sedikit sibuk di kantor." Jawab Kahfi benar adanya.
" Sibuk boleh, tapi jangan lupa carikan adikmu kakak ipa" Kata Ismail, mengingat umur Kahfi sudah cukup matang untuk membina rumah tangga.
" Astaghfirullah, Jangan souzon dek apalagi sama Abang sendiri. Abang juga ingin tapi belum Nemu ya pas" jawab Kahfi, tapi entah mengapa yang terbayang di pikiran saat ini Ar, yang baru saja ia lihat.
" mau aku cari kan gak bang, kebetulan aku punya kenalan dan kebetulan dia juga sedang mencari suami" Tutur Gus Yusuf.
" Mas punya teman perempuan?" tanya khalisa baru mengetahui kalau suaminya memiliki teman perempuan.
" teman ngajar sayang, mas juga tahu dia cari Suami karena teman ngajar mas sering membicarakan itu jadi mas tahu, gak lebih dari itu sayang."
" awas aja kalau aku denger mas punya teman perempuan. " Khalisa menatap tajam suaminya, tanpa memperdulikan tiga orang yang sedang menahan tawanya, karena Gus Yusuf takut istri.
" Atau nak Kahfi mau ummi cari kan ?" Tawar ummi Salma, mengingat ia memiliki sahabat yang mempunyai anak perempuan yang siap untuk menikah.
" tidak perlu ummi, kalau sudah waktunya pasti Kahfi akan menikah. Mungkin saat ini Allah sedang memperbaiki jodoh untukku nantinya.'"
" kemarin Abang mau nikah lho ummi, tapi sayangnya tembok ya terlalu tinggi jadi gak jadi "
" Lho kenapa tidak memberitahu ummi sama abi, emang calon nak Kahfi gimana, kenapa temboknya tinggi. Yang tinggi tembok rumahnya atau gimana?"
" bukan tembok rumahnya ummi" Tawa Gus Yusuf dan Khalisa mendengar ucapan ummi Salma. Sedangkan Kahfi hanya bisa terdiam.
" Kalau bukan tembok rumahnya lalu apa?" tanya Ismail, ia juga tidak mengerti dengan *tembok yang terlalu tinggi*
" Beda agama maksudnya ummi Abi" Jawab khalisa, menghentikan tawanya.
" Tuhan memang satu, hanya kami yang tak sama dan tidak mungkin bersatu" Lirik Kahfi sedu.
" Jadi sedih, sabar ya bang" khalisa memberikan semangat pada Kahfi, tapi bukan semangat yang di dengar Kahfi melainkan ejekan dari sang adik.
" Ingat nak, Jangan karena cinta pada hambanya membuat dirimu tidak di akui sebagai hamba-nya. Cobalah rayu pemilik hati, dan jika dia memang jodoh mu. Insyaallah kalian akan di pertemuan di waktu yang tepat." Kata Ismail, Kahfi menganggukkan paham.
" Sebentar lagi magrib, mari kita bersiap untuk pergi ke masjid"
Tampa ada batahan mereka langsung masuk ke kamar masing-masing untuk pergi ke masjid, khalisa masuk ke kamar Suaminya sedangkan Kahfi masuk ke dalam kamar yang biasa ia tempati ketika sedang singgah di sini.
" kenapa dia terlihat berbeda hari ini?" lirik Kahfi sambil melonggarkan dasi yang ia kenakan.