Khalisa Humaira

Khalisa Humaira
57



" Maaf pak, tuan Jordan ada di dalam sedang menunggu Anda" Kahfi mengkerut kan keningnya, untuk apa tuan Jordan datang ke kantor di siang bolong seperti ini, bukan kah tuan Jordan tergolong orang paling sibuk.


" Sejak kapan beliau datang?"


" tiga puluh menit yang lalu pak." Mendengar itu, Kahfi langsung segera masuk ke ruangannya untuk menemui tuan Jordan.


" Maaf tuan, telah membuat anda menunggu" Kata Kahfi tersenyum, bersalah dan salah tingkah.


" tidak apa apa, Saya yang salah. Seharusnya saya membuat janji terlebih dahulu. " Kata Jordan, seharusnya ia juga harus paham kalau calon menantunya sama sibuknya dengan dirinya.


" Saya akan meminta sekretaris saya membuat kan anda kopi tuan" ucap Kahfi, melihat tidak ada secangkir teh atau kopi di atas meja.


" terimakasih, tapi sepertinya itu tidak perlu. " Jordan tersenyum ramah, ia mengeluarkan mam coklat dari tasnya " ini adalah CV Aretha, ia menerima ta'aruf mu"


Dengan perasaan bahagia Kahfi menerima mam coklat itu, dan menatap wajah laki laki yang akan menjadi ayah mertuanya setelah pernikahannya dengan Aretha.


" terimakasih tuan, karena sudah memberikan restu" kata Kahfi sangat berterima kasih pada Jordan.


"Mulai sekarang jangan panggil aku tuan, panggil aku ayah seperti Aretha. Cepat atau lambat engkau akan menjadi anak ku juga" Kahfi menganggukkan kepalanya.


" iya, mulai sekarang aku akan memanggil anda dengan sebutan ayah" Kahfi tersenyum hangat.


" Jika nanti kamu sudah menikah dengan anak ku, aku minta tolong jangan sakiti dia, dia tidak butuh harta mu. yang ia butuhkan hanya satu kasih sayang mu, dan bimbingan mu."


Ucap Jordan serius, sebenarnya ia sangat berat untuk Jordan memutuskan ini, tapi lagi lagi ia tidak boleh egois, kebahagiaan sang putri itu yang lebih utama saat ini.


" aku kan membahagiakannya sebisanya mungkin, aku tidak akan menyakiti nya. Jika aku menyakitinya anda bisa menghukum ku sepuasnya."


" Sayang, apa lebih baik kamu ambil cuti aja. mas tidak taga melihat seperti ini" bukan tanpa alasan Gus Yusuf menyuruh istrinya untuk mengambil cuti, perut khalisa semakin membesar setiap harinya dan itu pasti sangat membuat Khalisa capek.


" tidak mas, aku masih sanggup. Dia juga tidak rewal, jadi mas tenaga saja. " khalisa menyakinkan Gus Yusuf kalau ia baik baik saja. Malah ia sangat bersemangat bisa menikmati kehamilannya di saat masa kuliah seperti ini.


" kamu memang sangat keras kepala, mas tidak tahu bagaimana caranya untuk membujuk mu lagi" khalisa tersenyum manis melihat suaminya melemas seperti itu.


" mas jangan khawatir, kalau aku capek aku akan istirahat, kalau lapar aku akan makan. Jadi jangan khawatir dengan ku, kalau terjadi apa apa aku akan menghubungimu."


" iya, itu harus kamu lakukan. "


" aku harus masuk, tuh lihat calon kakak ipar ku sudah menunggu. " kata Khalisa melihat Aretha duduk di tempat biasa mereka lakukan jika sedang menunggu satu sama lain.


" ia, belajar yang rajin, ingin kata mu tadi. capek istirahat, laper segera makan. Terjadi sesuatu, cepat hubungi aku."


" siap, komandan " jawab khalisa memberikan hormat pada suaminya.


" jaga uma ya nak, jangan merepotkan Uma mu, Semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT" kata Gus Yusuf mengelus perut istrinya dan memberikan kecupan kasih sayang disana.


" aamiin, mas juga hati hati nyetirnya. aku masuk dulu. Assalamu'alaikum"


" waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh "