
Jam menunjukkan pukul tiga sore, Kahfi sedang menyiapkan makan siang untuk dirinya sendiri. Ya begini lah kehidupannya setiap harinya setelah di tinggal sang Abi, makan tidak beraturan dan tidur berantakan karena gila kerjaan.
" lebih baik, besok bik nur aku suruh tinggal di sini saja" kata Kahfi melihat sekeliling rumah seperti tidak terurus.
"makan sendiri, minum sendiri, madi sendiri. Ya Allah kapan ya gak sendirinya?" Tanya Kahfi, menyadari hidup yang sepi. " mau nikah tapi sama siapa coba?"
Entahlah berapa lama Kahfi membicarakan tentang dirinya sendiri, setelah makan ia membersikan rumah sebisanya, dan merapikan taman depan yang mulai terlihat berantakan.
" Ternyata mengurus taman lebih menyenangkan" kata Kahfi seperti menemukan kebahagiaan ketika melihat taman itu terlihat rapi.
Sementara khalisa, sepertinya hari ini hari yang membuat mood ya berantakan. Entah mengapa ia sangat cepat marah dan merasa kesal sendiri.
" Kenapa gak bisa rapi sih" geram Khalisa pada baju yang sedang ia setrika, yang tak kunjung rapi seperti biasanya. Gus Yusuf yang mendengar istrinya seperti itu mendekat.
" kenapa sayang?" Tanya Gus Yusuf lembut.
" kusutnya gak bisa hilang mas dari tadi" Jawab khalisa kesal dan terus menggosok setrikahan itu pada baju.
Gus Yusuf melihat kearah cok rol yang tempat setrika itu di alirkan listrik, dan ternyata tanda on off pada Cok rol itu belum di tekan ke arah on.
" kamu sih belum di ketek yang ini" Kata Gus Yusuf tertawan, dan menekan tombol tersebut.
" Mas nyalahin aku gitu?" tanya khalisa kesal, dan langsung meninggalkan setrika tersebut.
" lho sayang gak di lanjutin " Heran Gus Yusuf melihat istrinya meninggal setrikaan yang sudah menyala.
" Gak jadi" Jawab khalisa singkat. Gus Yusuf yang heran melihat istrinya seperti itu tidak mau berdebat, ia berpikir mungkin istrinya sehabis kuliah terus mengerjakan pekerjaan rumah, niat hati ingin meringankan beban istrinya dengan mambantu menyetrika baju yang numpuk tersebut tapi ia malah kena marah istrinya.
" Mas ngapain disana" Tanya Khalisa disana.
" Mas mau bantuin kamu Sayang" jawab Gus Yusuf memperlihatkan giginya. Khalisa mencabut colokan kabel tersebut " Tidak perlu, mas temani aku nonton. "
" tapi ini sayang?"
" Jadi mas gak mau nemenin aku nonton?"
" bukan gitu sayang" Gus Yusuf menghela napasnya " sekarang kita nonton " Gus Yusuf mengalah, istrinya sangat cepat marah, entah apa yang terjadi. Mungkin istrinya akan pms kali ya, makanya dia marah gak jelas seperti ini.
Sampai menjelang malam, Gus Yusuf di buat Sangat frustasi dengan istrinya. Entah apa salahnya, ia selalu saja salah hari ini, Sampai istrinya tertidur baru ia bernapas lega.
" entah apa yang membuatmu kesal hingga mas menjadi serba salah" Kata Gus Yusuf mengelus pipi istrinya yang sudah terlelap dan mencium kening istrinya.
Pagi harinya, Gus Yusuf berpikir Kalau hari ini akan normal seperti biasanya tidak seperti kemarin. Tapi nyatanya mood istrinya masih seperti kemarin, dan membuat Gus Yusuf terus menghela napasnya.
" Sayang, sini. Mas mau bicara." Kata Gus Yusuf menyuruh istrinya mendekat. " mas ada salah sama kamu?" Tanya Gus Yusuf.
" Emang kenapa?" Tanya khalisa seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
" Kamu dari kemarin terus marah gak jelas, mas bingung kamu kenapa, Mas ada salah? "
" Emang iya, aku marah-marah? Kapan? Perasaan gak pernah" Kata Khalisa berpikir, seingatnya dia tidak pernah marah-marah gak jelas seperti yang di katakan Suaminya.
" Lupakan, sekarang berikan mas pelukan hangat" kata Gus Yusuf merentangkan kedua tangannya. Khalisa pun menuruti keinginan suaminya.
**
Sesampainya di rumah masa kecilnya, khalisa melihat rumah seperti dulu ketika Akmal masih hidup. taman depan terurus dan rumah terlihat lebih hidup dan sangat rapi.
" Tumben rumah ini rapi , biasanya berantakan." Sindir khalisa. apa lagi melihat penampilan Abangnya yang terlihat lebih segar dan rapi.
" ini minumannya den" Kata bik nur meletakkan nampan berisi cemilan dan juga minuman.
" pantes rumah jadi terawat seperti ini, ternyata bik nur ada di sini." kata Khalisa melihat Kahfi " Bık nur apa kabar?" Tanya khalisa pada bık nur.
" Alhamdulillah baik non, Non sendiri bagaimana kabarnya?" Tanya bık nur balik.
" Alhamdulillah baik bik, terimakasih ya bık mau balik lagi ke rumah ini" Kata Khalisa, tersenyum hangat.
" Sama-sama non, saya juga sangat bersyukur bisa kembali ke rumah ini."
Setelah kepergian bik nur, khalisa mengajak sang Abang dan suaminya berbicara serius terkait tentang urusan pribadi Kahfi.
" Jadi Abang tetep ingin menikahi Ar?" Tanya khalisa serius, Ternyata ucapan abangnya kemarin tidak main-main. Khalisa memijat kepalanya, walaupun ia sudah menjalankan tentang siapa Ar, tapi Kahfi tetap ingin menikahi Ar.
" coba pikirkan ulang Abang " Kata Gus Yusuf, karena ini masalah agama, dan sangat sulit.
" Aku sudah memikirkan itu semua semalam. Jika kamu merestui Abang, Abang akan datang untuk melamarnya. " Kata Kahfi meminta restu pada khalisa.
" bang, Ar tidak beragama sama dengan kita. Apa Abang ingin merebutnya dari Tuhannya?" Kata Khalisa membuat Kahfi terdiam. " ini bukan masalah sepele bang, mungkin waktu ayah Aretha menyuruh Abang bertanggung jawab karena ia belum mengetahui agama Abang, dan juga pikiran beliau belum jernih waktu itu"
Kata Khalisa mengingat Jordan menyuruh Kahfi menikahi Aretha masih dalam keadaan emosi.
" jika bang kekeh ingin menikahi Ar, apa Abang siap menjadi pembimbing untuk Ar yang terbilang tidak tidak menganut agama sama seperti kita. Apa Ar juga mau menikah dengan Abang dengan cara meninggalkan tuhannya, atau bang ingin meninggalkan agama kita untuk menikahinya?"
" aku rasa, aku tidak perlu menjelaskan itu semua karena Abang paham dengan semua itu." kata Khalisa melihat Kahfi yang sedang berpikir keras.
" lagi pula, ayah Ar juga sudah melepas Abang dan tidak meminta Abang untuk bertanggung jawab. " melihat Kahfi yang hanya diam saja membuat Khalisa menghela nafas " Jika Abang merasa bersalah karena telah menyentuh tangannya, maka besok aku akan mengajak Ar untuk datang ke kantor, dan Abang bisa meminta maaf langsung sama Ar. "
" Jangan, biar Abang yang menemuinya. Temani Abang. " Kata Kahfi akhirnya berbicara, benar apa yang di bilang Khalisa, tidak mungkin ingin merebut Ar dari Tuhannya. Dan tidak mungkin ia meninggalkan tuhannya hanya karena seseorang wanita.
" Baiklah, kalau begitu. Mas aku lapar " Kata Khalisa bersandar manja di lengan suaminya.
" mau makan apa sayang, mas beliin tapi jangan minta yang pedas " kata Gus Yusuf mengingat istrinya setelah makan pedas maka ia akan sering bolak-balik kamar mandi.
" tapi aku maunya yang pedas mas" rengek khalisa.
" Jangan kasih dia makanan yang pedas, belikan saja dia martabak manis" Kata Kahfi, mendengar rengekan adiknya.
" Kalau begitu, Abang yang bikin ya buat Khalisa. '" kata Khalisa melihat ke arah Kahfi.
" Gak, Abang gak bisa bikin martabak. " Kata Kahfi langsung menolak mentah-mentah.
" Abang gak sayang sama khalisa, Abang jahat " Kata Khalisa, menarik tangan suaminya, terus mengajak masuk ke dalam kamarnya.
" sayang gak boleh ngomong seperti itu sama Abang sendiri" kata Gus Yusuf mengingatkan istrinya agar tidak berbicara seperti itu pada Kahfi.
" Kamu bela bang Kahfi? sana keluar. Aku gak mau lihat kamu" khalisa mengusir paksa Suaminya sampai keluar kamar.
" Sayang bukan begitu, Ya Allah. " ucap gus Yusuf frustasi dengan istrinya dari kemarin. Dengan berat hati Gus Yusuf kembali ke ruang tengah duduk bersama kakak iparnya.
" kenapa wajahmu seperti itu? Berantem?" Tanya kahfi melihat wajah adik iparnya suram, tidak seperti tadi ketika istrinya menempel di lengannya.
" Gak bang, gak tahu kenapa moodnya dari kemarin berubah-ubah. Dan dari kemarin aku selalu serba Salah di matanya. Dan sekarang dia bilang aku membela Abang, hanya karena aku mengatakan kalau dia tidak boleh berkata seperti ke Abang. " Jawab Gus Yusuf frustasi, sekarang ia harus bagaimana, ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
" Mungkin dia mau datang bulan, makanya moodnya berantakan seperti itu"