Khalisa Humaira

Khalisa Humaira
11



"Gak ada bang, kalau pun ada itu wajar dalam kehidupan rumah tangga" Kata Khalisa, tidak ingin membuat Kahfi khawatir dengan dirinya.


" kalau ada yang membuat mu tidak nyaman katakan saja pada suamimu, Kalau ada yang perlu di diskusikan segera diskusikan, jangan memendam sesuatu sendiri, kalau kamu tidak bisa menceritakan pada Abang Kahfi, ceritakan pada suami mu" Kata Kahfi, Karena dia sang mengenal adiknya, pasti adiknya ini sedang memendam sesuatu, dia tidak bisa memaksa khalisa untuk bercerita karna situasinya yang berbeda, tapi kalau Khalisa sendiri ingin bercerita Kahfi siap untuk menjadi pendengar.


" Terimakasih Abang selalu ngertiin aku" Kata Khalisa memeluk Abangnya. khalisa menangis di dalam pelukan sang Abang, Kahfi mengusap punggung khalisa untuk menenangkannya.


" Assalamualaikum" Kata Gus Yusuf memasuki rumah, pandangan pertama yang ia lihat Istrinya sedang menangis di pelukan laki-laki lain.


" Waalaikumsalam warahmatullahi" Jawab Kahfi, sedang khalisa menyembunyikan wajahnya dari suaminya, ia tidak ingin Suaminya melihat dirinya menangis.


" Mas sudah pulang" Kata Khalisa menyalami tangan suaminya, dan berusaha untuk tersenyum.


" iya, Abang Kahfi kapan datang" tanya Gus Yusuf ramah pada kahfi dan ikut bergabung.


" Sudah satu jam lebih aku di sini Gus, ini menemani istri mu makan makanan ini" Jawab Kahfi apa adanya. Gus Yusuf melihat beberapa makanan di atas meja, yang sudah dicicipi.


" Karena suamimu udah pulang Abang pulang dulu ya" Pamit Kahfi, dia juga tidak enak pada Gus Yusuf.


" Kenapa cepat sekali pulangnya bang?" tanya Gus Yusuf.


" aku tidak ada berfungsi lagi di sini Gus, kalau kamu sudah pulang" Kata Kahfi, karena ia kesini hanya ingin menemani sang adik untuk memakan makanan yang ada di atas meja.


" Abang mau pulang" Kata Khalisa yang baru saja datang membawa secangkir teh untuk suaminya.


" suamimu sudah ada disini, Abang juga harus menemani Abi kontrol hari ini" jelas Kahfi " Abang pamit pulang dulu, assalamualaikum " ucap Kahfi tersenyum pada adik iparnya dan juga khalisa.


" Waalaikumsalam warahmatullahi " Setelah kepergian Kahfi, keduanya kembali ke ruangan Tengah, raut wajah Gus Yusuf seperti menahan amarah.


" Kenapa minta pada Abang Kahfi, kanapa tidak minta sama aku, aku Suami mu" Kata Gus Yusuf penuh penekanan, dia seperti tidak ada artinya disini.


" Aku tidak ingin mengganggu mu mengajar mas, Kebetulan bang Kahfi juga ada di dekat sini, jadi tidak masalah menyuruh untuk membeli ini semua" Kata Khalisa membersihkan bekas makanan itu.


" Aku tidak suka ada pria lain masuk ke dalam rumah ku ketika aku tidak ada sini!" Kata Gus Yusuf terdengar marah, Khalisa yang mendengar itu tiba-tiba merasa sesak di dadanya.


" Maaf karena tidak meminta izin terlebih dahulu, aku akan izin lain kali" kata Khalisa menahan air matanya, khalisa berusaha untuk cepat menyelesaikan membersihkan meja ini, tiba-tiba suasana di ruang tengah ini menjadi canggung, hanya ada ke hening.


Keduanya sama-sama terdiam, sedang khalisa sibuk membersihkan meja itu. Setelah membersihkan meja, khalisa mencoba mencairkan suasana, apa lagi melihat suaminya yang hanya diam saja.


" Mas mau makan apa?" Tanya khalisa karena biasa sehabis dari pesantren pasti suaminya ingin memakan sesuatu. " Oo iya ada kue dari abang Kahfi untuk mas, aku ambil dulu"


" ini mas, tadi aku mau makan ini tadi, tapi Abang Kahfi melarang ku karena ini untuk mas katanya. kita makan bersama ya mas, aku juga ingin mencicipi ya dari tadi "


" Aku tidak ingin makan apa pun" Kata Gus Yusuf terdengar dingin, dan pergi meninggalkan Khalisa yang sangat antusias ingin mencicipi kue itu.


" Kenapa mas?" Tanya Khalisa melihat perubahan Suaminya.


" Kamu tanya mas kenapa? mas cemburu melihat istri mas menangis di pelukan laki-laki lain" kata Gus Yusuf sedikit menyentak khalisa.


" Apa aku salah cemburu dengan kakak ipar sendiri?" Sentak Gus Yusuf, membuat Khalisa menghentikan aktivitasnya mendengar sentakan suaminya. Hatinya merasa sesak mendengarnya.


" kamu bahkan menangis di pelukannya, suami mana yang tidak akan cemburu. "Kata Gus Yusuf kembali melukai hati khalisa.


" Tapi dia kan Abang aku mas, sebelum kamu hadir di dalam hidupku dia laki-laki yang selalu ada untuk ku, apa salah dia membagikan pundaknya untuk adiknya?" jawab khalisa berusaha tenang menanggapi suaminya.


" Iya salah, kamu juga salah, kenapa kamu meminta pundak laki-laki lain tempat bersandar, sedangkan kau-"


" Cukup mas, berhenti bilang kalau Abang ku laki-laki lain!"


" Berani sekali kau meninggikan suara mu dihadapan ku" Bentak Gus Yusuf, mendengar bentakan suaminya membuat air mata yang ia tahan dari tadi barhasil terjatuh.


" Maaf aku tidak bermaksud meninggikan suara ku"


" Aaaaaahkk" Teriak Yusuf, meninggal Khalisa yang menangis. Gus Yusuf masuk ke kamar dengan ke adaan emosi ia membanting pintu kamar dengan sangat keras, membuat Khalisa terkejut mendengarnya. di ruang tengah Khalisa terus menangis, Ia merasa bersalah pada suaminya karena telah meninggikan suaranya, goresan demi goresan terasa di hatinya.


Menjelang malam, Gus Yusuf sama sekali tidak keluar kamar, Kamarnya di kunci dari dalam membuat Khalisa tidak bisa masuk kedalam sana. khalisa tidak memiliki pilihan ia masuk ke kamar tamu untuk mengistirahatkan tubuh.


" Maaf ya nak, Abi sama ummi gak berantem kok" Ia mengelus perutnya yang masih rata. " Doain ya, Semoga besok ummi sama Abi sudah baikan " Kata Khalisa berharap setuasi seperti ini tidak berlangsung lama.


Sesak memang khalisa rasakan, Tapi ia juga paham dia salah disini, mulai dari meminta izin, dan juga tidak mengerti situasi, Mungkin ini efek dari ke posesif suaminya akhir-akhir ini, membuat Suaminya marah seperti itu ketika melihat dirinya berpelukan dengan Abangnya.


Sedangkan di dalam kamar, Gus Yusuf langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya, Ia merendamkan tubuhnya di dalam Bathtub untuk menenangkannya pikirannya.


Semenjak khalisa hamil ia sedikit sensitif dan sangat mudah emosi, Dia juga bingung akan hal itu, tapi ia berusaha mengontrol itu semua, apa lagi tadi ketika ia berdebat dengan istrinya. Setelah merasa tenang, ia membersikan tubuhnya dan menyudahi ritual mandinya.


" Kenapa dia tidak masuk?" Kata Gus Yusuf melihat istrinya tidak menyusulnya masuk kedalam kamar. Gus Yusuf berpikir mungkin Khalisa ingin menyendiri, ia pun sama ingin sendiri. Sampai selesai bakda isya khalisa tidak langsung ke dalam kamar. Karena penasaran, Gus Yusuf pun keluar dan ia baru menyadari kalau ternyata pintu kamarnya terkunci dari dalam.


" Pantas saja dia tidak masuk" Katanya setelah menyadari hal itu, ia mencari keberadaan istrinya, sepi tidak ada tanda-tanda keberadaan istrinya. Gus Yusuf panik melihat tidak ada kebenaran istrinya, ia mencari di sudut rumah tidak ada.


Sementara di dalam kamar tamu, Khalisa tertidur setelah melaksanakan sholat isya, Karena kelelahan menagis ia langsung tertidur, dengan mengunakan mukenah.


" Apa dia ada di kamar tamu?" Gus Yusuf mengecek semua kamar tamu, dan Gus Yusuf melihat istrinya sedang tertidur di sajadah, melihat itu Gus Yusuf langsung menghampiri istrinya, tidak ada raut kemarahan seperti tadi.


" Sayang, bangun. " kata Gus Yusuf lembut, ia mencoba membangunkan istrinya.


" Mas, kenapa ada disini." Kata Khalisa melihat suaminya karena seingatnya Suaminya berada di kamar mereka.


" Sayang, maaf tadi mas membentak mu" Kata Gus Yusuf menyesal perbuatannya, apa lagi melihat mata bengkak istrinya semakin membuat dirinya merasa bersalah.


" Aku sudah memaafkan mas sebelum mas minta maaf. Aku juga minta maaf, aku-"


" Sudah sayang, Mas tidak ingin membahasnya." Khalisa tersenyum mendengar ucapan suaminya, ia bersyukur karena masalah mereka selsai di malam ini .


" Mas mau makan, tolong temani mas. " kata Gus Yusuf " pasti kamu juga belum makan kan?" Khalisa menganggukkan kepalanya. Keduanya berjalan menuju dapur untuk makan, Tidak ada raut kemarahan dari Gus Yusuf sekarang hanya ada senyum bahagia.