Khalisa Humaira

Khalisa Humaira
19



Hari ini, khalisa di sibukkan dengan perkejaan rumah, dari mengepal, membersihkan jendela, mencuci dan terakhir memasak.


" sayang, ada yang mas bisa bantu gak?" Tanya Gus Yusuf masuk melihat istrinya yang sibuk memotong sayuran..


" Beneran mau bantuin, Emang pekerjaan mas sudah selesai?" tanya khalisa, tadi ia melihat suaminya bergelutik dengan laptopnya untuk menyaksikan pekerjaannya.


" udah selesai sayang, sekarang apa yang mas bisa bantu?" Gus Yusuf melihat apa yang ada di depan istrinya, melihat apa yang bisa ia bantu.


" mas bersihin ini aja, aku mau goreng ayam dulu" suruh Khalisa memberikan beras yang sudah ia isi tadi yang belum sempat ia cuci keburu minyak gorengnya panas.


" Siap sayang. " Gus Yusuf memberikan hormat pada istrinya layaknya sedang hormat bendera.


Keduanya sama-sama berbagai tugas, khalisa sibuk menggoreng ayam, sedangkan Gus Yusuf membersikan beras yang baru saja di kasih istrinya, setelah itu ia menaruhnya di magic com dan gak lupa menyalakannya.


"sudah selesai sayang" Kata Gus Yusuf tersenyum bangga pada Istrinya.


" sebentar lagi aku juga selesai mas." Terdengar dari luar rumah, suara ummi Salma yang datang berkunjung ke rumah mereka.


" Assalamualaikum "


" Waalaikumsalam warahmatullahi, mari masuk ummi Abi" Kata Gus Yusuf, mempersilahkan kedua orang tuanya masuk.


" Menantu ummi dimana?" Tanya ummi Salma mencari ke beranda Khalisa.


" Lagi di dapur ummi, sebentar Yusuf panggilkan."


" tidak nak, biar ummi yang ke sana " Kata ummi Salma, ia pergi menemui Khalisa yang sedang memasak.


" Lagi masak apa nak?" Ucap ummi Salma ketika sudah sampai dapur..


"Ummi, khalisa lagi pengen makan ayam goreng. " kata Khalisa.


" pengen? apa jangan-jangan ummi akan segera punya cucu" Khalisa terdiam mendengar ummi Salma.


" Ummi, apa ummi ingin segera punya cucu?" Tanya khalisa, melihat ke arah Ummi Salma. Khalisa menatap mertuanya penuh arti.


" Kalau boleh jujur, ummi sangat berharap pada kalain biar cepat mempunyai anak" Jawab ummi Salma tersenyum bahagia membicarakan tentang anak kecil. " Apa masih ada yang lain, biar ummi bantu"


" Gak ummi, cuma ini saja. ummi kembali saja ke depan, khalisa segera menyusul." Kata Khalisa ingin membereskan semua dulu.


Setelah kepergian ummi Salma, khalisa terdiam dan hanya bisa tersenyum pahit, ingin rasanya khalisa menagis tapi ia tahan, ia tidak bisa menangis sekarang.


****


"Sayang, mas perhatikan akhir-akhir ini kamu sering melamun. Ada apa? apa ada yang menggangu pikiran mu?" Tanya Gus Yusuf, melihat istrinya melamun setelah ke pulangan ke dua orang tuanya. .


" Mas..... aku ingin punya anak" Kata Khalisa, mendengar itu Gus Yusuf menghela nafas, Sudah berapa kali istrinya mengatakan hal yang sama.


" kenapa akhir-akhir ini kamu selalu membicarakan tentang anak?" tanya Gus Yusuf serius, ia menatap istrinya dengan tatapan penuh arti.


" Aku hanya ingin punya anak mas, apa salah?" kata Khalisa menghela nafas dan melihat ke arah lain, jujur saja ketika ummi salam mengira dirinya sedang mengidam membuat dirinya sesak dan merasa bersalah.


" tidak ada yang salah, tapi..... baiklah kita akan periksa ke dokter terlebih dahulu" Kata Gus Yusuf mengalah, terlihat jelas dari raut wajah istrinya ingin memiliki anak, membuat Gus Yusuf mengiyakan permintaan istrinya, walaupun dihatinya tersimpan rasa curiga pada istrinya.


" Terimakasih mas" Ucap Khalisa memeluk suaminya.


" Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan kan, aku merasa ada yang kamu sembunyikan dari ku. "


" apa kalau kita punya anak kuliah mu tidak akan terganggu?" tanya Gus Yusuf, ia khawatir kehadiran anak mereka nanti akan membuat kuliah istrinya terganggu.


" Mas tenang saja, kuliahku akan baik-baik saja. aku juga bisa mengambil cuti nantinya. " kata Khalisa menyakinkan suaminya.


" Mas, aku lupa membersihkan kamar calon anak kita. aku harus membersihkannya sekarang. "


" Bisakah kita seperti ini dulu" Tanya Gus Yusuf mengeratkan pelukannya.


" Baiklah, apa sih yang gak untuk suami ku ini" Lama sekali mereka berpelukan seakan-akan mereka akan berpisah setelah pelukan ini terlepas..


" Oiya, bagaimana kuliah mu, mas baru inget kalau kamu tidak pernah membicarakan tentang kuliah mu"


" Masa sih aku gak pernah cerita, tapi ya mas, aku punya teman nama Ar, di cewek tapi dia sangat tomboy sekali. "


" Oh iya terus?"


" Dia sangat menentang keras yang namanya pernikahan di usia muda. dia bilang kalau nikah muda itu gak enak, karena banyak yang harus di kerjakan. "


" Tapi emang bener kan sayang, kalau kita tidak nikah muda kamu tidak akan mengerjakan ini semua "


"Siapa bilang begitu, aku kalau pulang dari pondok, kerjanya cuma ngurus rumah. Tapi bedanya dulu ada bibi yang bantuin. Kalau sekarang di bantuin sama suami tercinta "


" Hmm gemas deh, mau cium "


" nih"


cup


" Masih palang merahnya?" tanya Gus Yusuf, sambil mengusap bibir istrinya. Khalisa menganggukkan kepalanya..


" ya udah, Sekarang kita bersihin kamar anak kita" melihat khalisa menganggukkan kepalanya, gus Yusuf menghentikan aktivitasnya ia tidak mau terlalu jauh.


" Kenapa gak di lanjutin?" tanya khalisa tersenyum geli melihat suaminya yang menghentikan aktivitasnya.


" Sayang, jangan mancing deh. " kata Gus Yusuf, tidak mau melangkah lebih lanjut dan akan membuat dirinya kesusahan nantinya.


" Aku gak halangan lagi. mau lanjut apa gak nih?" bisik khalisa di dekat telinga Gus Yusuf, mendengar itu Gus Yusuf tidak mau membuang kesempatan.


" Lanjut di kamar aja"


****


Hari Senin, Khalisa kembali ke bangku kuliah. begitu juga dengan Gus Yusuf, ia kembali di sibukkan dengan perkejaan nya dan mengajar.


" Khalisa, Lo gak kegerahan gitu pakai baju yang tertutup seperti itu setiap hari?" Kata Ar, yang kegerahan melihat pakaian Khalisa, apa lagi cuaca panas bangetttt.


" aku sudah terbiasa pakai baju yang seperti ini, jadi rasanya biasa-biasa saja. " kata Khalisa apa adanya, mungkin karena dari kecil sudah berpakaian seperti ini membuat Khalisa terbiasa.


" gue boleh coba gak?" Tanya Ar pada khalisa, walaupun kegerahan melihat pakaian Khalisa, tapi ia penasaran bagaimana rasanya menggunakan pakaian seperti khalisa.


" Boleh, nanti ku ajakin ke rumah aku" kata Khalisa mengiyakan permintaan Ar, siapa tahu ar mau menutup aurat kedepannya.


" okeh nih ya."


Selesai jam kuliah khalisa mengajak Ar untuk pulang ke rumahnya, dan tentunya sudah atas izin suaminya.


" ayok masuk, ini rumah aku. " kata Khalisa, Seperti biasa ia selalu mengucap salam terlebih dahulu sebelum memasuki rumah.


" Ini rumah Lo?" khalisa menganggukkan kepalanya " Busetttt bagus banget. "


" Biasa saja, ayok masuk."


" Tunggu, Lo udah nikah?" Tanya Ar tidak percaya, ia melihat Poto pernikahan terpampang jelas di ruangan yang baru saja ia masuki, Poto pernikahan itu tercetak sangat besar di sana.