
" Aretha " kata Khalisa serius.
Bukankah abangnya seperti ini, karena ingin melupakan Aretha. Khalisa sangat mengenal seperti apa Abangnya ini. Pasti ia seperti ini karena ingin menghilangkan perasaan yang tumbuh di hatinya.
Ya, khalisa berpikir selama beberapa minggu ini tentang Kenapa abangnya tiba-tiba sejadi orang yang paling sibuk, bukankah sebelumnya ia berjanji tidak akan sibuk lagi dan akan meluangkan waktu untuk dirinya.
Tapi setelah acara resepsi pernikahan ustadz Fikri, Kahfi seperti orang gila kerja, tidak ada waktu untuknya sama sekali.
Khalisa teringat ketika abangnya berkata, ia tidak akan bisa mengambil Aretha dari Tuhannya. Ketika itu khalisa bisa melihat perubahan raut wajah abangnya.
" Bukankah abang mencintainya?" Kata Khalisa lagi, membuat Kahfi langsung melihat kearah Khalisa bungkam. Jelas saja ummi Salma dan Ismail terkejut, karena memang mereka tidak tahu apa-apa.
" Tapi dek?"
" Tapi apa bang? Abang ingin katakan lagi, Kalau Abang tidak ingin mengambilnya dari Tuhan-nya?"
Kahfi mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, bingung jelas. Kenapa adiknya seperti bersih keras menyuruhnya untuk menikah.
" Perlu Abang ketahui, beberapa minggu yang lalu Aretha sudah memeluk agama yang sama dengan kita. "
Kahfi mengangkat kepalanya melihat adiknya. Apa bener itu, jika benar, Kahfi tidak mau membuang waktu lagi. Tapi Kahfi tidak langsung merespon ucapan Khalisa, ia malah di buat bingung dengan semua ini.
" Khalisa tidak berbohong bang, Tanyakan saja pada ummi dan abi" sekarang ganti Kahfi melihat ke arah ummi Salma dan Ismail, keduanya menganggukkan kepalanya.
Rasa bahagia di hati Kahfi, ini pertama kalinya Kahfi jatuh cinta dan ingin memilikinya, karena ketika Akmal masih hidup, Kahfi tidak memiliki waktu untuk berpikir mencintai perempuan lain selain adiknya, ibarat dunianya hanya di isi dengan sang Abi dan Khalisa.
" Bagaimana bang? Jika Abang ingin melanjutkan niat baik ini lagi, aku bisa membantu" tawar Gus Yusuf, ia bisa membantu dalam mengantarkan CV nya ke ayah Aretha, misalnya.
" Jadi nak Kahfi menyukai nak Aretha?" Kata ummi Salma, kerena dia baru tahu fakta ini. " Kalau gitu tidak usah di tundan, nak Aretha juga anaknya baik" ucap ummi salma memberikan restu, terlihat senyum manis ummi Salma disana.
" Lanjutkan nak, jangan di tunda lagi" kata Ismail memberikan restu juga.
" Kalau mau senyum, ya senyum saja. Gak usah di tahan" kata Khalisa membuat semua orang disini tertawa melihat tingkah Kahfi yang malu-malu tapi mau.
" Kentara banget mau senyum tapi di ditahan" kata Ismail yang geli sendiri melihat Kahfi seperti itu. Bahagianya melihat anak sahabatnya bahagia seperti ini, di dalam hati Ismail, ia berharap sahabatnya Akmal bisa melihat senyum dari kedua anaknya yang sudah ia anggap anak sendiri.
" Gitu dong kan enak di lihatnya" khalisa Sampai merasa kram di perutnya karena mentertawakan kakaknya. Tapi ini sangat lucu, tidak bisa menghentikan tawanya.
" Aduh perut ku" rintik Khalisa dan membuat semuanya menjadi panik.
" Kenapa sayang?" Tanya Gus Yusuf khawatir, apa lagi istrinya memegang perutnya. " yang mana yang sakit" panik.
" Perut ku kram mas " kata Khalisa, Manarik napas lalu membuangnya. " Aku gak pa-pa kok" kata khalisa melihat kekhawatiran keluarganya. Ia mengelus perutnya perlahan, untuk menghilangkan kram nya.
" Syukur lah. Apa kram nya sudah hilang" tanya ummi Salma. Ia tahu kram perut sering terjadi pada ibu hamil.
" Iya ummi. "
" Makanya jangan mentertawakan kakak sendiri "
"Abis Abang lucu, malu malu kucing. "
.
.
.
Semoga suka 🤍 Terimakasih sudah mampir 🤍