
Pagi hari khalisa menerima telpon dari Abang nya, tumben sekali sang Abang menghubunginya pagi buta seperti ini, pasti ada hal yang penting yang ingin di sampaikan.
" assalamu'alaikum bang, tumben telpon pagi-pagi gini" ucap Khalisa, masih jam enam pagi ia sudah menerima telpon dari Abangnya.
" Sa, bawa suami mu ke alamat yang Abang kirim, sekarang juga" Kata Kahfi di sebrang telpon dengan suara yang sangat frustasi, khalisa yang mendengar suara Abang ya seperti itu panik, ia khawatir terjadi sesuatu pada Abangnya.
" Abang kenapa? Abang baik-baik saja kan?" Tanya khalisa cemas, matanya berkaca-kaca pikiran udah kemana-mana.
" Abang baik dek, tapi Abang minta tolong dateng ke alamat yang abang kirim, minta suami menemani mu" Kata Kahfi dan memutuskan saluran telpon.
" Mas, mas kami masih lama di kamar mandi?" Tanya khalisa dari luar, jujur ia ingin segera ke alamat yang di kirim Abangnya.
" Kenapa sayang " Tanya Gus Yusuf yang baru saja selesai mandi, ia melihat wajah khawatir istrinya. " ada apa?"
" aku gak tahu mas, bang Kahfi nyuruh kita datang ke alamat ini sekarang juga, mas kita harus segera kesan, aku khawatir sama bang Kahfi." kata Khalisa dengan mata berkaca-kaca.
" mas pakaian baju dulu"
Tidak butuh waktu lama untuk Gus Yusuf bersiap, setelah siap Gus Yusuf langsung tancap gas menuju alamat yang di berikan Kahfi, setelah mereka memastikan apa benar alamat yang di kirim Kahfi benar, membuat mereka kebingungan.
" Kenapa bang Kahfi menyuruh kita datang kesini?" heran khalisa, Alamat yang di kirim Kahfi itu adalah apartemen mewah, apa tujuan Kahfi menyuruh mereka datang kesini.
" Coba telpon bang Kahfi sayang, Tanya apa benar ini alamat" kata Gus Yusuf untuk memastikannya lagi.
" Bener kok mas, lebih baik aku telpon bang Kahfi" khalisa langsung menelepon Kahfi, tapi panggilnya tidak di jawab, Kahfi malah mengirimkan khalisa chat, menyuruhnya langsung ke kamar nomor sekian. " Kita di Suruh ke kamar 108 mas"
Keduanya masuk dan menanyakan dimana letak kamar nomor 108 sama resepsionis yang ada disana, setelah tahu lantai berapa mereka langsung naiki lift dan sampai di lantai tempat kamar nomor 108 berada.
Khalisa langsung menekan disana, dan tak butuh waktu lama, pintu langsung di buka oleh Kahfi.
" ada apa bang, kenapa Abang seperti ini" Tanya khalisa melihat wajah Abangnya merah, dan di dekat bibirnya berdarah.
" Abang baik-baik saja"
" Baik dari mana, Abang habis di copet? berantem? Tauran" katanya khalisa tanpa henti.
" Abang tidak melakukan itu semua sa, sekarang kita masuk ya, tapi sebelum kita masuk" Kahfi menatap mata khalisa penuh arti " Kamu percayakan sama Abang?" Tanya Kahfi.
" Abang bicara apa? Jelas khalisa percaya sama Abang. Kasih tahu khalisa apa yang terjadi sama Abang, kenapa sampai begini. " Kata Khalisa melihat beberapa luka di wajah Kahfi. " atau Abang habis di gebukin sama perampok, kalau begini makin sulit cari Istrinya bang" tambah khalisa lagi.
" Sayang, astaga. " bisa-bisanya istrinya menyinggung soal istri dalam situasi seperti ini " sebenernya apa yang sudah terjadi?" tanya Gus Yusuf bersuara yang sejak tadi hanya diam saja.
belum sempat Kahfi menjawab, sudah terdengar suara paruh baya di dalam ruangan, membuat Khalisa menatap abangnya, mencari jawaban.
" Lebih baik kita masuk, nanti Abang Jelaskan"
Khalisa dan Gus Yusuf duduk di kursi, syok dan tidak percaya dengan semua yang terjadi. Apa lagi mendengar tuturan pria paruh baya ini, Khalisa menatap ke arah Abang yang juga sedang melihat ke arahnya, khalisa menghela nafas tersenyum kecut.
***
" Tolong" Katanya terus mengetuk pintu mobil Kahfi, Kahfi membuka pintu mobil dan keluar sambil membawa payung.
" Astaghfirullah, apa yang terjadi" tanya Kahfi pada perempuan itu, penampilannya sangat berantakan.
" tolong antar saya pulang " pintanya dengan bibir yang menggigil, dan pucat. Kahfi yang melihat tidak tega ia menyuruh wanita seusia adiknya masuk ke dalam mobil, dan mengantarnya ketempat yang di katakan wanita ini.
" Pakai jas Saya, kamu terlihat sangat kedinginan " Tidak ada penolakan, dia menerima jas itu dan di kenakan di tubuhnya.
" Terimakasih " wanita itu terus menggigil kedinginan, sesampainya di tempat sesuai dengan yang di katakan wanita ini pun Kahfi menghentikan mobilnya.
" Kamu tinggal disini?" Wanita itu menganggukkan kepalanya, ia melepas jas Kahfi dan memberikannya. " Pakai saja, kamu masih membutuhkannya" Tidak banyak bicara wanita itu keluar dari mobil, tapi belum jauh dari mobil, wanita itu terjatuh tidak kuat untuk berjalan.
" saya bantu" Kata Kahfi membatu wanita itu menuju kamarnya " lantai berapa?" Tanya Kahfi ingin menekan tombol lift.
" Lantai 23, nomer 108" Jawaban lemas, ia merasa sejujur tubuhnya yang dingin. Sesampainya di depan kamar Kahfi, pamit untuk pulang. tapi beberapa langka Kahfi mendengar suara terjatuh dan benar saja yang terjatuh itu wanita itu. Kahfi mencari pertolongan dan meminta pihak saya untuk membuka pintu kamar wanita ini.
" tolong gantikan dia pakaiannya " Pinta Kahfi lagi pada petugas perempuan itu. tidak membuat kan waktu lama untuk wanita itu menggantikan wanita itu pakaian.
" Maaf tuan, seperti dia demam" Kata petugas perempuan.
" ah iya Terimakasih" Kata Kahfi, baru aja ingin meninggalkan apartemen wanita yang baru saja ia bantu, ternyata wanita itu sekarang demam. Ia tidak bisa berada satu ruangan bersama wanita yang bukan mahramnya, ini tidak bisa. Tapi ia bingung harus meminta bantuan sama siapa? Apa lagi jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, di tambah lagi cuaca hujan.
Mau tak mau, Kahfi merawat wanita itu setidaknya sampai demamnya turun.
Sampai pagi hari, Kahfi masih tertidur di sofa ruangan tengah apartemen wanita ini. Wajah Kahfi sangat lelah, karena kemarin ia berkerja seharian dan baru menyelesaikan pekerjaannya jam sepuluh malam, pulang berkerja ia berniat langsung istirahat, tapi tuhan berkata lain.
" Dia sangat tampan " Kata wanita yang sedang memandang wajah laki-laki yang lebih tua dari usianya, walaupun pun begitu wajahnya berhasil mengingat hatinya.
"Aretha Zayba Almira " Teriak pria paruh baya yang baru saja memasuki apartemen sangat putri, betapa terkejutnya ia mendapati anaknya perempuannya sedang memandangi wajah laki-laki yang sedang tertidur di sofa itu. Tidak hanya Ar yang terkejut mendengar teriakannya sang ayah, tapi juga Kahfi, ia sampai terbangun dari tidurnya saking terkejutnya.
Ya, Aretha Zayba Almira, atau biasa dia panggil Ar, itu nama wanita yang di bantu Kahfi malam tadi. Wanita seusia khalisa, dan mereka satu kampus sekarang, tapi kahfi belum mengetahui siapa wanita yang ia bantu ini.
" Ayah" Wajah Ar pucat pias, ia sangat ketakutan. Ia bangun dari duduknya menjauh dari Kahfi ,Ar tidak berani menatap sang ayah, ia menunduk kepalanya."
.
.
.
.
.
Selamat lebaran....