Khalisa Humaira

Khalisa Humaira
18



Menjelang malam, khalisa baru bangun dari tidurnya. Ia melihat sekelilingnya, ia menyadari kalau dirinya berada di dalam kamarnya.


" Sudah jam berapa ini?" khalisa melihat jam tangannya. " Astaghfirullah, ini sudah mau Maghrib. Mas Yusuf pasti mencari ku"


Khalisa mengambil hpnya ternyata mati. " aku gak bawa charger lagi" Khalisa keluar kamar, mencari kakaknya untuk meminjam charger.


" Bang, bang Kahfi. " Teriak khalisa..


" Hai, ada apa?." tanya Kahfi.


" Antar Khalisa pulang bang, ini udah magrib. mas Yusuf pasti khawatir. Hp khalisa, baterainya habis "


" Bukannya suamimu, ada di kamar mu?" kata Kahfi mengkerut kan keningnya.


" Mas Yusuf ada di sini? tapi di kamar gak ada orang " seingatnya hanya ada dirinya di kamarnya tadi, tidak ada tanda-tanda kehadiran Suaminya.


" Mungkin dia di kamar mandi. coba lihat sana"


" kalau begitu, aku ke kamar dulu bang" Sesampainya di kamar khalisa langsung membuka pintu, dan bertepatan dengan itu pintu kamar mandi terbuka.


" Mau kemana sayang?" Tanya Gus Yusuf menghampiri istrinya, dengan mengunakan handuk yang di lilitkan di pinggangnya.


" Aku pikir mas gak kesini" Kata Khalisa, ternyata benar apa yang di katakan kakaknya, suaminya sedang mandi.


" mana mungkin mas gak kesini, istri mas aja disini.." jawab Gus Yusuf mendekat pada istrinya.


" Ya udah sana, pakai baju dulu" Kata Khalisa tidak ingin tergoda dengan tubuh suaminya..


" Emangnya kenapa sayang, apa kamu tergoda dengan tubuh suami mu ini" Gus Yusuf malah semakin mendekat, membuat Khalisa mundur.


" Mas, jangan seperti ini. Mas sendiri yang akan susah nanti." kata Khalisa menghentikan suaminya agar tidak bertindak lebih jauh.


Cup


Gus Yusuf mencium bibir istrinya dengan lembut, Khalisa terbuai dengan permainan suaminya, ia membalas ciuman suaminya. Mereka tenggelam dalam kenikmatan yang mereka rasakan.


" Apa kamu tidak ingin melakukan lebih dari ini sayang. " Tanya Gus Yusuf pada istrinya.


" Buka tak ingin mas, tapi aku lagi halangan." Kata Khalisa, karena jujur ia juga menginginkannya, ada perasaan bersalah pada diri Khalisa setelah mengucapkan itu.


" Sepertinya mas harus mandi lagi sayang" Kata Gus Yusuf, ia kembali masuk ke dalam kamar mandi.


****


Mereka bertiga sudah ada di meja makan untuk makan malam. semua makanan terlihat sederhana, tapi sangat mewah karena mereka menikmati makanannya..


"kamu emang pandai masak, poin pertama yang harus di miliki istri ku harus bisa masak." Kata Kahfi.


" Ya, kalau sudah nemu yang seperti itu, Abang harus langsung nikahi dia!!"


" Iya, Tapi gak dulu. dia harus pinter ngaji, berjilbab, lemah lembut dan cantik." kata Kahfi.


" Semoga Abang cepat menemukan wanita yang cocok untuk Abang, dan sesuai dengan yang Abang mau"


" Aamiin" Kata Khalisa dan Gus Yusuf serempak.


" Aamiin. Ya, penting dia seperti mu."


" Kalau nyari kayak khalisa cuma ada satu bang di dunia ini, karena khalisa gak ada duanya. ia kan mas?"


" Iya sayang. karena manusia itu tidak pernah sama dan tidak akan pernah sama. walaupun sama pasti akan ada perbedaan. "


" Tuh denger bang. "


" Iya. Apa kalian akan menginap disini?"


" iya, kami akan menginap bang, gak apa-apa kan?"


" Iya gak pa-pa Gus, malah Abang senang kalau kalian menginap. "


" Ya udah Setelah makan, bagaimana kalau kita nonton aja?"


" Boleh"


Selesai makan malam, mereka bertiga menonton di ruangan tamu. ruang tengah di sulap menjadi bioskop mini sama mereka, semua cemilan ada disana dan sekarang waktunya mereka memulai untuk menonton..


***


Pagi-pagi sekali Khalisa harus berangkat kuliah, karena jam tujuh kelas akan segera di mulai, tapi sebelum itu ia sudah menyiapkan sarapan untuk Kahfi.


" lho kalian gak sarapan dulu?" Tanya Kahfi melihat adik iparnya dan juga adiknya sudah berpakaian rapi.


" Kami sarapan di mobil nanti bang, aku harus berangkat kuliah dulu. aku masuk pagi."


" Iya hati-hati." Setelah berpamitan Khalisa dan juga Gus Yusuf langsung pergi.


" Mas aaa" Kata Khalisa menyuapi suaminya.


" Mas, menurut mas. apa sebaiknya kita tidak perlu menunda punya anak ya?" Tanya khalisa hati-hati, ia tahu Suaminya ingin menunda kehamilan karena menghawatirkan kesehatannya.


Gus Yusuf menoleh ke arah istrinya ketika mereka berhenti di lampu merah " Sayang kita sudah sepakat tidak membahas ini kan?"


" Iya, tapi mas"


" ummi sama Abi tidak menuntut kita untuk punya anak sayang." Menunda kehamilan itu hanya mereka yang tahu, ummi Salma dan Ismail tidak tahu tentang ini..


" Tapi mas, ummi sama Abi pasti menginginkan cepat punya cucu mas. "


" Iya, beliau akan punya cucu. tapi tidak sekarang."


" Aku lihat ummi kemarin sangat bahagia menggendong Alif" khalisa mengingat bagaimana ummi Salma sangat bahagia menggendong cucu pertama dari adiknya..


" Ummi memang sangat menyukai anak-anak sayang.. Wajar kalau beliau sangat bahagia. " Khalisa terdiam mendengar perkataan Suaminya, ia terus menyuapi dirinya..


" Kita kan punya anak pada waktunya. Yang terpenting sekarang kesehatan mu. Walaupun kita tidak punya anak pun mas tidak apa, asal kamu tetap berada di samping mas. mas sudah cukup. "


" Mas..."


" Sudah, ini terakhir kalinya kita membahas tentang anak. mas tidak ingin membahasnya lagi, karena membahas tentang anak kamu pasti akan menagis seperti ini. mas gak suka melihat mu menagis seperti ini, Jadi mas mohon jangan bahas tentang anak lagi. "


" Iya, aku tidak akan membahasnya lagi. "


" Sekarang masuklah, jangan sampai istriku yang cantik ini, terlambat. "


" Aku masuk dulu, assalamualaikum"


" waalaikumsalam warahmatullahi, belajar yang rajin ya". kata Gus Yusuf, mengelus kepala istrinya dan terakhir mencium keningnya.


" Huuuu, entah mengapa engkau kembali membahas tentang anak lagi. Padahal engkau sendiri tahu itu akan menyiksa mu" lirik Gus Yusuf melihat punggung istrinya yang mulai menjauh..


***


Lo kenapa?" Tanya Ar, cukup lama Ar melihat khalisa melihat kedepan dengan tatapan kosong.


" Gak, gak kenapa-napa.." Jawab khalisa gelagapan.


" Btw, kemarin bener Abang Lo?" Ar tidak mau memaksa khalisa untuk menjawab pertanyaan, ia lebih tertarik membahas tentang Kahfi.


" Iya, kenapa?"


" Gak ada sih, Abang Lo ganteng banget. udah punya pacar belum?" tanya Ar to the poin.


" Gak tahu, tapi bang Kahfi lagi cari istri katanya" jawab khalisa, emang bener adanya Abang ya sedang mencari istri.


" busetttt dah, kalau bang Lo mau nyari pacar gue maju, tapi Kalau istri gue mundur deh, soalnya gue gak mau nikah muda"


" Emangnya kenapa kalau nikah muda?"


" Gue mau nikmatin masa, bayangin kalau Lo nikah bakalan ribet, Lo harus nyuci baju suami Lo, Lo harus ngurus masalah rumah, terus mertua? Baperan? terus nuntut Lo buat punya anak. pokoknya banyak dehh. ngebayangin nya aja gue gak sanggup apa lagi ngejalaninnya. " Kata Ar yang ngeri membayangkan kehidupan rumah tangga di masa muda.


" Eh kenapa Lo malah bengong " Kata Ar yang melihat khalisa yang bengong. " Lo gak denger kata gue tadi?"


" Denger kok, Aku lagi banyak pikiran. hehehe maaf. " Jawab khalisa memperlihatkan giginya.


" Lo lagi punya masalah?" Tanya Ar..


" Gak kok, cuma sedikit menggangu pikiran aja. "


" Okeh, gue lapar. temani gue makan di kantin. " kata Ar pada khalisa. Ar cewek tomboy, dia sangat berbeda dengan khalisa, Ar memiliki penampilan yang terbuka tidak berhijab seperti khalisa. mereka seperti permen yang terbungkus dan tidak terbungkus, walaupun begitu Ar tidak pernah melakukan kontak fisik bersama dengan laki-laki.


" Lo mau pesan apa?"


" aku udah sarapan tadi pagi, Aku beli air putih saja" kata Khalisa, walaupun sarapan hanya sedikit tapi itu tidak membuat Khalisa merasa lapar, nafsu makannya akhir-akhir ini sang berkurang.


" Beneran Lo gak mau makan?" Khalisa menganggukkan kepalanya.


" Terserah Lo deh, gue laper. " Kata Ar. " Bakso dua posisi pak"