Khalisa Humaira

Khalisa Humaira
41



"sampai kapanpun tidak ada yang akan memahami perempuan seutuhnya. Walaupun sudah menikah puluhan tahun dengan mu. Tapi masih aja mas ada salah di mata mu. Walaupun menurut mas, mas sudah mengerti semua tentang mu. Tapi dari sudut pandang mu, masih banyak yang salah. "


" Abi yang menikah dengan ummi yang puluhan tahun aja masih buat kesalahan, apa lagi Yusuf " Kata Gus Yusuf melihat istrinya.


" kaum laki-laki itu kalau mau bener di mata istrinya harus dengerin istrinya. Kebanyakan kaum laki-laki hanya mendengar dirinya saja tanpa mendengar kaum wanita.." Kata ummi salma..


" Kenapa pada adu nasib sih. Kalau gini mending Kahfi sendiri aja, jangan nikah " ucap Kahfi mendengar curhatan para suami-suami ini..


" Abang harus Carikan khalisa Kakak ipar, kalau Abang gak kasih kita putus aja jadi adik kakak " kata Khalisa tidak terima Kalau kakaknya tidak mau menikah hanya dengan mendengar curhatan para laki-laki ini.


" Kejam banget dek, emang bisa sekarang tanpa bang?" Tanya Kahfi meremehkan ancaman dari adiknya.


" Bisa, kan sekarang ada mas Yusuf." jawab khalisa memeluk lengan suaminya. Membuat Kahfi kesal.


" Nak Kahfi Ndak boleh gak menikah. Harus menikah!!! Menikah itu nikmati 5%, 95% nya nikmat banget. Apa lagi kalau sudah di dalam kamar"


Plak


Ummi salma memukul betis suaminya " Mas kamu iih"


" Emang kenyataannya begitu Salma. Ya, kan Gus?" Gus Yusuf membenarkannya kata Ismail dengan menganggukkan kepalanya. membuat Ismail tertawa lepas.


" anak sama bapak sama saja. " Gumam Kahfi. " Kahfi pamit ke kamar" ucap Kahfi karena tidak mau mendengar cerita tentang pernikahan mereka semua.


" Masih jam sembilan lho nak?" Kata ummi Salma.


" gak pa-pa ummi, disini pembahasannya kurang seru buat Kahfi " jawab kahfi apa adanya, membuat Ismail tertawa kecil.


" Mas kamu ih, udah tahu nak Kahfi belum menikah kenapa bahas itu sih"


" edukasi dari mana, udah ah. Ummi pamit ke kamar dulu"


" Kami juga pamit Abi" Kata Gus Yusuf membawa istrinya pergi ke kamar..


Di kamar Kahfi, tidur dengan tangannya menjadi bantal kepalanya..ia menatap langit-langit kamarnya.


" apa aku suruh ummi yang nyariin aja ya. " Kata Kahfi, mencari kakak ipar untuk Adiknya hal yang tersulit baginya. Walaupun banyak perempuan yang mendekatinya tapi satu pun tidak ada yang berhasil menarik perhatiannya.


" Kenapa wajahnya selalu ada di bayang ku" kata Kahfi bangun dari tidurnya, ia duduk dan mengusap wajahnya dengan kasar. " lebih baik aku ambil wudhu dan tidur."


Keesokan harinya, baik Kahfi, khalisa dan Gus Yusuf sudah rapi. Setelah sarapan bersama dengan ummi Salma dan Ismail mereka berpamitan untuk pergi mengerjakan urusan masing-masing.


" Sayang, nanti pulang kampus kita pergi cek ya. Semoga aja ada dedek bayinya di sini?" Kata Gus Yusuf mengelus perut istrinya.


" aamiin, iya mas. Semoga sesuai harapan kita ya mas" khalisa sangat mengharapkan kehadiran seorang anak di kehidupannya dengan suaminya..


" ya udah sekarang masuk nggih. Teman mu sudah nunggu tuh" dan benar adanya, terlihat di sana Ar sedang duduk menunggu dirinya..


" Sampai nanti ya mas" khalisa menyalami tangan suaminya.


" Iya, belajar yang rajin. " kata Gus Yusuf mengelus kepala istrinya, setelah itu Khalisa keluar dari mobil, setelah melihat istrinya bersama dengan Temannya baru Gus Yusuf pergi dari sana.


" Pagi banget dateng ya?" tanya Khalisa ada Ar, biasanya khalisa yang menunggu kedatangan Ar, tapi kali ini berbeda.


"Gak juga, aku baru saja Sampai." Khalisa menganggukkan kepalanya