
" iya, aku akan memberikannya" Jawab Aretha, dan ia memberikan ponsel itu pada khalisa. Khalisa tidak langsung menerima, ia bertanya mengunakan mimik wajahnya.
" itu bang Kahfi, ia ingin bicara denganmu" ucap Aretha.
" dek?" panggil laki laki di sebrang sana dengan suara yang sangat lembut.
" assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh" ucap Khalisa sedikit dingin.
" waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, dek. Maafin Abang. bang minta maaf, Abang menyesal telah membentak mu kemarin. Kalau kamu mau hukum Abang, pukul Abang nanti di ndalem. Japi Tolong jangan abaikan Abang."
Suaranya seperti menahan tangisan, tapi ia berusaha untuk tidak menangis.
" kenapa tidak menelepon ku ponsel ku?" tanya khalisa, bukannya ia tidak mau menanggapi ucapan sang Kakak, tapi ia tidak mau Aretha tahu permasalahan mereka.
" Abang sudah menghubungi mu beberapa kali, tapi kamu tidak menjawab. Jadi Abang terpaksa menelpon ke Aretha, karena Abang tahu kamu pasti bersamanya saat ini " jelas Kahfi panjang lebar.
" nanti ku hubungi lagi, assalamualaikum "
" dek, tunggu dulu. " hening. Khalisa tidak menjawab apa pun. " Baiklah, Abang akan memberi mu waktu, hubungan Abang segera. Assalamualaikum" Kahfi memutuskan telpon.
" waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh " jawab khalisa memberikan ponsel itu pada Aretha, Aretha sama sekali tidak curiga dengan kakak beradik ini.
" ada apa?" tanya Aretha penasaran, kenapa Kahfi menelpon ke nomor nya, dan dari mana ia mendapatkan nomor handphon nya.
" Hp ku lagi mode hening jadi gak denger" kata Khalisa memperlihatkan sepuluh panggil tidak terjawab dari Kahfi. Aretha paham kenapa Kahfi menghubungi dirinya.
" ooh, kirain ada apa apa "
" Bey the way, kamu sudah kasih CV kamu ke bang Kahfi?" tanya Khalisa penasaran, dengan adanya Kahfi menghubungi Aretha berarti CV Aretha pasti sudah ada di tangannya Kahfi saat ini.
.
.
Kelas mereka sudah berakhir, seperti biasa Khalisa di jemput suaminya, jam tiga sore kelas mereka baru berakhir, walaupun begitu khalisa sama sekali tidak mengeluh capek.
" bersih bersih sana, dan istirahat. Mas yang akan bereskan rumah. " kata Gus Yusuf perhatian.
" tapi mas, aku masih bisa kok ngerjain ini semua " elak Khalisa, karena dia beneran tidak capek atau sejenisnya. Yang ia hanya lakukan di kampus hanya berdiam diri memperhatikan dosen, hanya itu saja.
" Jangan membantah, atau mas buatkan kamu surat cuti" ancam Gus Yusuf, istrinya ini memang keras kepala sangat sulit untuk di taklukkan, jadi mau tidak mau Gus Yusuf harus menerima ancaman seperti itu.
" iya, tapi jangan suruh aku buat cuti. Aku tidak akan mau" Jawab khalisa menyegir melihat wajah suaminya yang serius.
" Ya udah sana, mau di gendong ke kamar mandi?" Gus Yusuf menatap istrinya dengan tatapan tapi mesra.
" ya aku mandi, cup. ganteng banget sih suami ku ini" kata Khalisa sebelum berlalu ke kamar mandi.
" Suami mu memang tampan"
" Mas, lepas aku mau mandi. "
" ya udah sana mandi" Gus Yusuf melepas pelukannya dan duduk di pinggir tempat tidur.
" kok di lepas sih, tahan aku kek gitu" kesal Khalisa berlalu dan Gus Yusuf hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat istrinya.
Gus Yusuf melihat pintu kamar mandi yang sudah tertutup dan ia melirik ke arah ponsel istrinya yang menyala tanpa berbunyi di atas meja samping tempat tidurnya.