
Ta'aruf yang diajukan Kahfi di terima dengan baik oleh Aretha. Hari ini, mereka akan bertemu untuk melanjutkan tahapan berikutnya. Jelas pertemuan mereka tidak boleh dihari mereka saja, harus ada orang lain di antara mereka.
Dari pihak perempuan sudah jelas Kalau ia akan datang sendiri, karena Jordan tidak bisa menemani Aretha. Walaupun begitu, tidak terjadi masalah, karena Gus Yusuf dan Khalisa akan menemani mereka hari ini.
" kenapa sayang?" tanya Gus Yusuf melihat istrinya sedang mengelus perutnya.
" aku gak pa-pa mas, biasa keram dikit" Jawab khalisa.
" Nak, jangan membuat umma mu sakiti " ucap Gus Yusuf mengelus perut istrinya. Kahfi yang melihat bahagia karena sang adik mendapatkan laki laki yang baik, tapi ia juga merasa jengkel karena harus menyaksikan kemesraan adik iparnya dan adik tersayang.
" Gak pa-pa mas, ini salah satu nikmat yang harus di nikmati dalam masa kehamilan. " khalisa sangat menikmati ini semua. Bisa di bilang ia wanita yang sangat beruntung mendapatkan kesempatan untuk menikmati masa masa kehamilan ini.
" bener gak pa-pa. " tanya Kahfi ikut khawatir.
" iya Abang, aku beneran gak pa-pa kok" ucap khalisa menyakinkan kedua laki laki yang sangat berharga dalam hidup nya.
" Assalamualaikum, maaf aku terlambat. " ucap Aretha, ia malu pertemuan pertama mereka ia malah terlambat, tapi mau gimana lagi jalanan macetnya minta ampun.
" waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh" Jawab ketiganya. " gak masalah Ar, sini duduk" suruh khalisa menyuruh Aretha duduk di sampingnya dan Gus Yusuf pindah ke samping kakak iparnya.
" sekali lagi maaf ya" ucap Aretha.
" Santai saja, iya kan bang?" tanya khalisa tersenyum, sedang Kahfi terus menundukkan kepalanya dari tadi.
" i-iya tidak apa apa."
Setelah itu khalisa dan Gus Yusuf memberikan luang untuk mereka berdua untuk berbicara, khalisa dan Gus Yusuf tidak meninggalkan mereka, keduanya hanya pindah ke meja yang berjarak satu meja dari meja Kahfi dan Aretha.
Kahfi sangat menjaga pandangannya, ia sama sekali tidak melirik ke arah Aretha yang ada di depannya. lain halnya dengan Aretha, ia sekali kali mencuri pandang pada Kahfi.
" gimana tadi?" tanya khalisa penasaran, sekarang mereka sudah di dalam mobil menuju rumah.
" Gimana apa ya?" tanya balik Kahfi, entah pura pura tida tahu atau gimana, kemana arah bicara khalisa.
" Ya elah bang, gak usah pura pura gak tau deh arah bicara khalisa"
" aku hanya ingin tahu mas"
" kamu mau tahu apa?" tanya Kahfi melihat khalisa dari kaca, dan itu membuat mata khalisa berbinar.
" gimana tadi penampilan Aretha? "
" cantik" jawab Kahfi cepat, dan menyadari itu ia langsung mengklarifikasinya dengan cepat. " eh, m-maksud bang itu" jawab nya gagap, seperti kehabisan kata.
" tahu kok, Aretha memang cantik. gak usah sampai gagap gitu bang. cepat halalin" goda khalisa, ternyata Aretha berhasil mengisi hati sang Abang.
" iya, tapi" Kahfi terdiam ia teringat perkataan Aretha tadi.
" apa kamu sudah membaca CV ku?" tanya Kahfi menundukkan kepalanya.
" iya, aku sudah membacanya "
" Alhamdulillah, jadi apa pendapatmu?"
" tidak ada" mendengar jawaban Aretha, Kahfi melihat ke arah Aretha beberapa detik dan kembali menundukkan kepalanya.
"Tidak ada? " ulang Kahfi.
" ya tidak ada. Menurut ku, Abang sangat sempurna untuk aku miliki. " Aretha terdiam. " apa pantas aku untuk mu?"
" kenapa harus berbicara seperti itu? Di dunia ini, tidak ada yang sempurna, aku masih banyak kekurangan, dan insyaallah kekurangan ku akan tertutup ketika kamu ada di samping ku" tatapan mereka bertemu, dengan cepat Kahfi memutuskan kota mata mereka.
" Aku ingin kita menjalani ini dengan semestinya, Apa Abang mau memberikan aku waktu untuk memikirkan ini semua?" Kahfi menganggukkan kepalanya pertanda setuju.
" tapi apa bang?" tanya khalisa melihat Abang yang diam saja.
" tidak ada, apa kamu tidak mau makan itu dek?" kata Kahfi melihat orang yang jualan martabak itu, padahal ia hanya ingin menggeser topik pembicaraan saja.